alexametrics
30.3 C
Bojonegoro
Sunday, June 26, 2022

Game Moba Bikin Kecanduan, Benarkah?

COVER STORY – Bagi orang tua yang kini senang memberikan anaknya permainan berupa gawai perlu pengawasan yang ketat. Sebab, di dalam gawai itu banyak sekali aplikasi game yang bisa dengan mudah dimainkan oleh anak-anak. Tak jarang, bagi orang tua saat ini lebih memilih memberikan gawai pada anaknya agar bisa bermain di rumah saja dan tidak keluar.

Selain itu, kadang gawai juga digunakan oleh orang tua untuk memanjakan anak. Nah, perlu ada sebuah pengawasan terhadap anak saat memegang gawai. Bahkan, bila perlu didampingi saat menggunakan, mengoperasikan gawai tersebut. 

Dosen Psikologi Komunikasi Universitas PGRI Ronggolawe (Unirow) Satya Irawatiningrum mengatakan, peran orang tua sangat penting dalam mendampingi anak saat bermain gawai.

Terlebih ada game di dalam gawai tersebut. Jadi, kata dia, orang tua setidaknya tahu sedikit tentang game tersebut. Dengan begitu, setidaknya orang tua bisa memberikan rambu-rambu tentang game tersebut.

Jika dirasa game tersebut membahayakan. Maka, orang tua bisa memberikan pemahaman pada anak jika game tersebut tidak memberikan dampak positif bagi anak. 

“Jadi orang tua harus turut aktif. Tidak sekadarnya saja memberikan anak gawai lantas membiarkan mereka bermain sesukanya,” tutur dia. 

Baca Juga :  Pohon Rimbun Rawan Korsleting Listrik

Menurut dia, meski anak sudah masuk usia sekolah. Bukan berarti anak tersebut dilepas begitu saja saat menggunakan gawai. Terlebih bermain game.

Baik anak duduk di bangku SD hingga SMA. Setidaknya, orang tua bisa memiliki peran dalam melakukan komunikasi yang baik terhadap anak. 

Di dalam keluarga, kata dia, anak perlu dibiasakan untuk membangun komunikasi dengan orang tua. Termasuk bila anak bermain game. Perlu ada pendampingan terhadap anak. Sehingga, anak bisa tetap terbuka terhadap orang tua meski dia bermain game. 

“Bisa juga dengan memberikan batasan terhadap anak untuk bermain game selama sepekan itu berapa kali,” terangnya. Selebihnya, bisa memberikan kesibukan lainnya pada anak. Misalkan, dengan membaca buku atau menghafal surat pendek.

Begitu juga saat memberikan larangan pada anak. Setidaknya, orang tua bisa memberikan penjelasan. Agar anak benar-benar paham atas larangan itu dan tidak melakukan tindakan larangan itu di luar sepengetahuan orang tua. 

Sementara itu, untuk game online yang sudah menjamah para remaja dia berharap agar para remaja tetap bisa menjaga diri. Artinya, tidak sampai kecanduan saat bermain game.

Baca Juga :  Megaproyek 2021 Diminta Lelang Lebih Awal

Setidaknya, ada beberapa ciri-ciri orang yang sudah kecanduan. Salah satunya, jika tidak melakukan hal tersebut orang merasa ada yang kurang. Sehingga, orang tersebut akan melakukan kegiatan tersebut agar membuat dirinya nyaman.

Misalkan, jika sehari saja tidak bermain game bisa membuat diri remaja itu gelisah. Bahkan, jika dilarang bermain game akan secara sembunyi-sembunyi untuk tetap bermain game. Bisa jadi, remaja itu sedang memiliki gejala untuk kecanduan bermaian game. 

Dia menjelaskan, ada sebuah teori determinasi teknologi untuk menyikapi seiring perkembangan teknologi komunikasi saat ini. Dalam teori tersebut dijelaskan, bahwa perubahan yang terjadi dalam perkembangan teknologi sejak zaman dulu sampai saat ini memberikan pengaruh yang besar terhadap masyarakat. 

“Perkembangan teknologi seperti reka baru atau bisa disebut dengan inovasi, penemuan-penemuan baru dan hal lain yang bertujuan mengembangkan teknologi untuk mempermudah kegiatan manusia memberikan pengaruh yang besar terhadap perkembangan nilai sosial dan kehidupan dalam masyarakat,” terang dia. 

Jadi, adanya game online tidak menutup kemungkinan bisa mengubah perilaku anak. Misalnya, dari cara mengatur waktu hingga perilaku lainnya. 

COVER STORY – Bagi orang tua yang kini senang memberikan anaknya permainan berupa gawai perlu pengawasan yang ketat. Sebab, di dalam gawai itu banyak sekali aplikasi game yang bisa dengan mudah dimainkan oleh anak-anak. Tak jarang, bagi orang tua saat ini lebih memilih memberikan gawai pada anaknya agar bisa bermain di rumah saja dan tidak keluar.

Selain itu, kadang gawai juga digunakan oleh orang tua untuk memanjakan anak. Nah, perlu ada sebuah pengawasan terhadap anak saat memegang gawai. Bahkan, bila perlu didampingi saat menggunakan, mengoperasikan gawai tersebut. 

Dosen Psikologi Komunikasi Universitas PGRI Ronggolawe (Unirow) Satya Irawatiningrum mengatakan, peran orang tua sangat penting dalam mendampingi anak saat bermain gawai.

Terlebih ada game di dalam gawai tersebut. Jadi, kata dia, orang tua setidaknya tahu sedikit tentang game tersebut. Dengan begitu, setidaknya orang tua bisa memberikan rambu-rambu tentang game tersebut.

Jika dirasa game tersebut membahayakan. Maka, orang tua bisa memberikan pemahaman pada anak jika game tersebut tidak memberikan dampak positif bagi anak. 

“Jadi orang tua harus turut aktif. Tidak sekadarnya saja memberikan anak gawai lantas membiarkan mereka bermain sesukanya,” tutur dia. 

Baca Juga :  Figur Penyayang Keluarga dan Mencintai Masyarakat 

Menurut dia, meski anak sudah masuk usia sekolah. Bukan berarti anak tersebut dilepas begitu saja saat menggunakan gawai. Terlebih bermain game.

Baik anak duduk di bangku SD hingga SMA. Setidaknya, orang tua bisa memiliki peran dalam melakukan komunikasi yang baik terhadap anak. 

Di dalam keluarga, kata dia, anak perlu dibiasakan untuk membangun komunikasi dengan orang tua. Termasuk bila anak bermain game. Perlu ada pendampingan terhadap anak. Sehingga, anak bisa tetap terbuka terhadap orang tua meski dia bermain game. 

“Bisa juga dengan memberikan batasan terhadap anak untuk bermain game selama sepekan itu berapa kali,” terangnya. Selebihnya, bisa memberikan kesibukan lainnya pada anak. Misalkan, dengan membaca buku atau menghafal surat pendek.

Begitu juga saat memberikan larangan pada anak. Setidaknya, orang tua bisa memberikan penjelasan. Agar anak benar-benar paham atas larangan itu dan tidak melakukan tindakan larangan itu di luar sepengetahuan orang tua. 

Sementara itu, untuk game online yang sudah menjamah para remaja dia berharap agar para remaja tetap bisa menjaga diri. Artinya, tidak sampai kecanduan saat bermain game.

Baca Juga :  Mendag: Kebijakan Minyak Goreng Satu Harga

Setidaknya, ada beberapa ciri-ciri orang yang sudah kecanduan. Salah satunya, jika tidak melakukan hal tersebut orang merasa ada yang kurang. Sehingga, orang tersebut akan melakukan kegiatan tersebut agar membuat dirinya nyaman.

Misalkan, jika sehari saja tidak bermain game bisa membuat diri remaja itu gelisah. Bahkan, jika dilarang bermain game akan secara sembunyi-sembunyi untuk tetap bermain game. Bisa jadi, remaja itu sedang memiliki gejala untuk kecanduan bermaian game. 

Dia menjelaskan, ada sebuah teori determinasi teknologi untuk menyikapi seiring perkembangan teknologi komunikasi saat ini. Dalam teori tersebut dijelaskan, bahwa perubahan yang terjadi dalam perkembangan teknologi sejak zaman dulu sampai saat ini memberikan pengaruh yang besar terhadap masyarakat. 

“Perkembangan teknologi seperti reka baru atau bisa disebut dengan inovasi, penemuan-penemuan baru dan hal lain yang bertujuan mengembangkan teknologi untuk mempermudah kegiatan manusia memberikan pengaruh yang besar terhadap perkembangan nilai sosial dan kehidupan dalam masyarakat,” terang dia. 

Jadi, adanya game online tidak menutup kemungkinan bisa mengubah perilaku anak. Misalnya, dari cara mengatur waktu hingga perilaku lainnya. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/