alexametrics
24 C
Bojonegoro
Sunday, June 26, 2022

Banyak Remaja Terbuai Game Moba

COVER STORY – Menjamurnya koneksi wifi di setiap warung kopi di Bojonegoro membuat para remaja yang ingin hemat paket datanya pasti keranjingan nongkrong di warung kopi. Terkadang sendirian atau pun bersama kawan-kawan. Ketika sedang mampir untuk ngopi di warung, secara merata pasti ada konsumennya yang sibuk bermain game smartphone.

Salah satu jenis game yang paling digandrungi ialah Multiplayer Online Battle Arena (MOBA) diantaranya Mobile Legends (ML), Arena of Valor (AOV), dan Vainglory (VG). Namun, dari ketiga game MOBA tersebut, ML primadonanya.

Jawa Pos Radar Bojonegoro bertemu dengan salah satu penggila game ML di sebuah warung kopi yang berada di wilayah Mojokampung Bojonegoro. Pria itu bernama Bagus Sandy, 16.

Dia menjelaskan ML merupakan game yang mengandalkan strategi, 5 vs 5. Saat itu, dia bermain dengan empat kawannya, kebetulan mereka berlima baru selesai menuntaskan satu permainan.

Ketika ditanya menang atau kalah, dia jawab menang dan menjadi MVP. Lalu, dia pun menaruh smartphone-nya dan menyempatkan waktunya untuk berbincang-bincang.

Awalnya dia mengenal game ML dari kawannya yang sudah main terlebih dahulu. Karena, hampir semua temannya main, dia pun ikut bermain, tetapi menunggu punya smartphone baru.

“Sekitar pertengahan tahun lalu teman-teman saya sudah main, tetapi saya dulu masih main game yang lainnya, karena smartphone saya kurang mumpuni dipakai main ML,” jelasnya. Akhirnya dia pun menabung guna membeli smartphone baru.

“Saya nabung sekitar enam bulan lebih, dapat sekitar Rp 1 juta, jumlah itu termasuk angpau lebaran tahun lalu dan ditambah Rp 500 ribu oleh ibu saya, sehingga bisa beli baru,” ujarnya.

Baca Juga :  Banggar DPRD Belum Satu Suara Terkait Dry Port

Dia mengatakan bermain ML memang seru karena bisa main bareng dengan teman-temannya. Rasanya tidak enak kalau semuanya main, dia tidak ikut bermain.

“Kalau tidak ikut main kan kesepian, jadi pasti ikut main,” tuturnya. Ketika disinggung terkait kehebohan mereka saat bermain game di warung kopi, dia sulit menjawabnya.

“Ya mau bagaimana lagi, kalau nge-game  semuanya diam, pasti nggak seru,” tuturnya. Tak heran, ketika Bagus dan kawan-kawannya bermain tak menghiraukan orang lain yang ada di warung kopi.

Mereka pun kerap berteriak histeris ketika sedang genting diserang oleh lawan mainnya, tak jarang kata-kata umpatan keluar dari mulut mereka.

Alasan dia bermain game hanya untuk refreshing, meski dia mengetahui ada turnamen ML yang kerap diadakan di Bojonegoro. Karena dia merasa belum begitu mumpuni, walau tiap harinya minimal menghabiskan waktu main ML di atas 5 jam.

“Belum tertarik dan kayaknya belum jago kalau ikut turnamen,” ujarnya. Game buatan developer asal Cina, Moonton tersebut begitu menyedot banyak perhatian. Sebab, menurut dia, tiap dua minggu sekali ada hero yang baru.

Adapun kebanggaan tersendiri di ML ada hero khas Indonesia yakni Gatotkaca. “Ada hero Gatotkaca dan teman mainnya juga banyak,” ujarnya.

Sebenarnya, game tersebut cukup kompleks. Karena penuh strategi dan kerja sama tim ketika memainkannya. Selain itu, para pemain ML juga kerap keluar uang untuk membeli diamond agar bisa membeli hero atau juga membeli emblem dan skin untuk mempercantik hero.

Bagus mengaku tidak terlalu banyak menghabiskan uang untuk membeli diamond, emblem, maupun skin. “Jarang banget beli, kalau dijumlah paling hanya habis Rp 200 ribuan,” tuturnya.

Baca Juga :  Minta Masukan, Pak Mul Silaturahmi ke PDM

Bagus merasa nyaman main ML, karena merasa game MOBA versi mobile lainnya kurang banyak peminatnya dan dia merasa kesulitan memainkannya. Kata dia, ada beberapa temannya yang main AOV, sedangkan VG sangat sedikit.

“AOV sama ML hampir sama, cuma lebih seru ML karena selalu update, kalau VG agak ribet dan dulunya hanya 3 vs 3, baru sekitar minggu lalu di-update menjadi 5 vs 5,” terangnya.

Lalu, pemain ML lainnya, Aris Satria mengatakan ML merupakan game yang memang sedang booming. Tren tersebut menjamur di Bojonegoro sejak awal 2017. Pria berusia 25 tahun itu bahkan rela membeli diamond, emblem, atau skin tiap bulannya.

Setidaknya, dia sudah menghabiskan uang di atas Rp 1 juta. “Setiap ada emblem atau skin yang baru kalau memang terlihat bagus, pasti saya beli, begitu pun kalau ada hero yang baru,” jelas pria asal Kelurahan Sumbang itu.

Dia juga hanya sekadar refreshing bermain bersama kawan-kawannya. Karena, sebenarnya dia menggeluti game MOBA juga baru ketika sedang booming. Jadi, ketika lihat kawannya bermain dan seru, dia pun mencoba lalu ketagihan.

Karena dulunya, game yang dia pahami hanya PES (game sepak bola dengan peranti PlayStation). Jadi, dia pun seluk beluk MOBA tidak begitu paham betul. Orientasinya pun tak ingin ikut turnamen.

“Hanya dibuat hiburan saja, enak dan seru bisa ikut main ramai-ramai,” katanya. Selain ML, Aris juga memainkan game yang bernama Free Fire. Meski bukan termasuk jenis game MOBA, namun Free Fire juga bisa dimainkan bersama-sama. “Genrenya Free Fire ini Third Person Shooter (TPS),” pungkasnya.

COVER STORY – Menjamurnya koneksi wifi di setiap warung kopi di Bojonegoro membuat para remaja yang ingin hemat paket datanya pasti keranjingan nongkrong di warung kopi. Terkadang sendirian atau pun bersama kawan-kawan. Ketika sedang mampir untuk ngopi di warung, secara merata pasti ada konsumennya yang sibuk bermain game smartphone.

Salah satu jenis game yang paling digandrungi ialah Multiplayer Online Battle Arena (MOBA) diantaranya Mobile Legends (ML), Arena of Valor (AOV), dan Vainglory (VG). Namun, dari ketiga game MOBA tersebut, ML primadonanya.

Jawa Pos Radar Bojonegoro bertemu dengan salah satu penggila game ML di sebuah warung kopi yang berada di wilayah Mojokampung Bojonegoro. Pria itu bernama Bagus Sandy, 16.

Dia menjelaskan ML merupakan game yang mengandalkan strategi, 5 vs 5. Saat itu, dia bermain dengan empat kawannya, kebetulan mereka berlima baru selesai menuntaskan satu permainan.

Ketika ditanya menang atau kalah, dia jawab menang dan menjadi MVP. Lalu, dia pun menaruh smartphone-nya dan menyempatkan waktunya untuk berbincang-bincang.

Awalnya dia mengenal game ML dari kawannya yang sudah main terlebih dahulu. Karena, hampir semua temannya main, dia pun ikut bermain, tetapi menunggu punya smartphone baru.

“Sekitar pertengahan tahun lalu teman-teman saya sudah main, tetapi saya dulu masih main game yang lainnya, karena smartphone saya kurang mumpuni dipakai main ML,” jelasnya. Akhirnya dia pun menabung guna membeli smartphone baru.

“Saya nabung sekitar enam bulan lebih, dapat sekitar Rp 1 juta, jumlah itu termasuk angpau lebaran tahun lalu dan ditambah Rp 500 ribu oleh ibu saya, sehingga bisa beli baru,” ujarnya.

Baca Juga :  Banggar DPRD Belum Satu Suara Terkait Dry Port

Dia mengatakan bermain ML memang seru karena bisa main bareng dengan teman-temannya. Rasanya tidak enak kalau semuanya main, dia tidak ikut bermain.

“Kalau tidak ikut main kan kesepian, jadi pasti ikut main,” tuturnya. Ketika disinggung terkait kehebohan mereka saat bermain game di warung kopi, dia sulit menjawabnya.

“Ya mau bagaimana lagi, kalau nge-game  semuanya diam, pasti nggak seru,” tuturnya. Tak heran, ketika Bagus dan kawan-kawannya bermain tak menghiraukan orang lain yang ada di warung kopi.

Mereka pun kerap berteriak histeris ketika sedang genting diserang oleh lawan mainnya, tak jarang kata-kata umpatan keluar dari mulut mereka.

Alasan dia bermain game hanya untuk refreshing, meski dia mengetahui ada turnamen ML yang kerap diadakan di Bojonegoro. Karena dia merasa belum begitu mumpuni, walau tiap harinya minimal menghabiskan waktu main ML di atas 5 jam.

“Belum tertarik dan kayaknya belum jago kalau ikut turnamen,” ujarnya. Game buatan developer asal Cina, Moonton tersebut begitu menyedot banyak perhatian. Sebab, menurut dia, tiap dua minggu sekali ada hero yang baru.

Adapun kebanggaan tersendiri di ML ada hero khas Indonesia yakni Gatotkaca. “Ada hero Gatotkaca dan teman mainnya juga banyak,” ujarnya.

Sebenarnya, game tersebut cukup kompleks. Karena penuh strategi dan kerja sama tim ketika memainkannya. Selain itu, para pemain ML juga kerap keluar uang untuk membeli diamond agar bisa membeli hero atau juga membeli emblem dan skin untuk mempercantik hero.

Bagus mengaku tidak terlalu banyak menghabiskan uang untuk membeli diamond, emblem, maupun skin. “Jarang banget beli, kalau dijumlah paling hanya habis Rp 200 ribuan,” tuturnya.

Baca Juga :  Ketagihan Travelling

Bagus merasa nyaman main ML, karena merasa game MOBA versi mobile lainnya kurang banyak peminatnya dan dia merasa kesulitan memainkannya. Kata dia, ada beberapa temannya yang main AOV, sedangkan VG sangat sedikit.

“AOV sama ML hampir sama, cuma lebih seru ML karena selalu update, kalau VG agak ribet dan dulunya hanya 3 vs 3, baru sekitar minggu lalu di-update menjadi 5 vs 5,” terangnya.

Lalu, pemain ML lainnya, Aris Satria mengatakan ML merupakan game yang memang sedang booming. Tren tersebut menjamur di Bojonegoro sejak awal 2017. Pria berusia 25 tahun itu bahkan rela membeli diamond, emblem, atau skin tiap bulannya.

Setidaknya, dia sudah menghabiskan uang di atas Rp 1 juta. “Setiap ada emblem atau skin yang baru kalau memang terlihat bagus, pasti saya beli, begitu pun kalau ada hero yang baru,” jelas pria asal Kelurahan Sumbang itu.

Dia juga hanya sekadar refreshing bermain bersama kawan-kawannya. Karena, sebenarnya dia menggeluti game MOBA juga baru ketika sedang booming. Jadi, ketika lihat kawannya bermain dan seru, dia pun mencoba lalu ketagihan.

Karena dulunya, game yang dia pahami hanya PES (game sepak bola dengan peranti PlayStation). Jadi, dia pun seluk beluk MOBA tidak begitu paham betul. Orientasinya pun tak ingin ikut turnamen.

“Hanya dibuat hiburan saja, enak dan seru bisa ikut main ramai-ramai,” katanya. Selain ML, Aris juga memainkan game yang bernama Free Fire. Meski bukan termasuk jenis game MOBA, namun Free Fire juga bisa dimainkan bersama-sama. “Genrenya Free Fire ini Third Person Shooter (TPS),” pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/