alexametrics
28.4 C
Bojonegoro
Thursday, May 26, 2022

Manfaatkan Buah Tak Terpakai Menjadi Ulat Maggot

Usia senja tidak membatasi beternak bebek. Budidaya maggot sebagai pakan ternak bebek. Mengumpulkan buah-buahan busuk dibuang dari toko buah.

USIA boleh tua, namun semangat tetap membara. Pepatah itu layak disematkan kepada Sulo Wartono. Kakek berusia 67 tahun itu mengisi masa tuanya beternak bebek. Kemandirian pakan yang membuat beda dalam beternak. 

Mampu menemukan pakan alternatif berupa maggot atau ulat. Maggot merupakan larva dari lalat black soldier fly. Padahal, awalnya ia membeli pakan pabrikan. Kandang ia buat di samping rumah, dengan terpal dan jaring sebagai penutup. Di dalamnya terdapat lalat hijau sudah dibudidayakan sebelumnya. 

Sulo sapaan akrabnya selalu memperhatikan kandang maggot dengan melakukan penyemprotan pada jaring-jaring. Uniknya, ia memanfaatkan buah-buahan busuk yang diperoleh dari sejumlah toko buah. 

Setiap harinya ia dapat buah tak terpakai sekitar satu karung ukuran sedang. Dibawa ke rumahnya di Desa Mojoranu, Kecamatan Dander, untuk pakan lalat. “Buah dicacah, sehingga stok pakan selalu ada,” ungkap kakek mempunyai tujuh cucu tersebut.

Baca Juga :  Membaca Tahun Politik di Tahun Bershio Anjing Kayu

Dalam budidaya ternaknya, Sulo mengambil metode pakan berkelanjutan. Memanfaatkan buah yang busuk untuk mengembangkan maggot. Lalat yang ia ternak menghasilkan telur, menetas menjadi ulat maggot. ‘’Ulat tersebut kemudian dibuat pakan ternak,’’ jelasnya.

Bagi Sulo, terpenting beternak maggot ialah suhu ruangan. Harus selalu hangat. Sehingga ketika musim hujan seperti saat ini, dirinya mempunyai pekerjaan ekstra menambah lampu di dalam kandang. “Kalau tidak begitu, telur dari lalat tidak akan berkembang biak. Hasil dari telut lalat sedikit,” ungkap kakek kelahiran 1955 tersebut.

Pakan menjadi hal utama dalam usaha ternak. Sehingga Sulo memperhatikan betul ketersediaan pakan ternaknya. Maggot memiliki protein tinggi untuk pakan ternak dibanding pakan lainnya. Dampaknya bebek menjadi lebih sehat dan tidak mudah sakit. 

Baca Juga :  Banjir Bandang Juga Melanda

“Bebek menjadi tidak gampang mati, sebelumnya rentan terserang penyakit,” tuturnya.

Rintisan usahanya ia mulai sekitar 2019 lalu. Sejak pensiun menjadi pegawai pemerintah daerah. Dari 400 ekor bebek diternak saat ini sudah terdapat sekitar 1.000 an lebih bebek potong. “Kemarin baru saja saya jual 400 ekor,” ujarnya.

Kakek 67 tahun ini sempat putus asa beternak bebek. Sebab belum ada pasar melirik hasil ternaknya. Setelah ia mengubah sistem dan membuat pakan berupa maggot, pembeli semakin tertarik. Saat ini sudah mempunyai langganan menjual ternaknya. 

“Sudah ada yang membeli datang ke kandang,” terangnya.

Dalam beternak sekitar seribu bebek, Sulo dibantu satu orang. Kakek tinggal di Desa Mojoranu ini mempunyai keinginan menularkan beternak kepada generasi muda. Menurutnya dari pemuda sekitar rumahnya belum ada tertarik menirunya. 

“Keinginan ke depan, banyak anak muda terjun beternak terutama maggot,” jelasnya.

Usia senja tidak membatasi beternak bebek. Budidaya maggot sebagai pakan ternak bebek. Mengumpulkan buah-buahan busuk dibuang dari toko buah.

USIA boleh tua, namun semangat tetap membara. Pepatah itu layak disematkan kepada Sulo Wartono. Kakek berusia 67 tahun itu mengisi masa tuanya beternak bebek. Kemandirian pakan yang membuat beda dalam beternak. 

Mampu menemukan pakan alternatif berupa maggot atau ulat. Maggot merupakan larva dari lalat black soldier fly. Padahal, awalnya ia membeli pakan pabrikan. Kandang ia buat di samping rumah, dengan terpal dan jaring sebagai penutup. Di dalamnya terdapat lalat hijau sudah dibudidayakan sebelumnya. 

Sulo sapaan akrabnya selalu memperhatikan kandang maggot dengan melakukan penyemprotan pada jaring-jaring. Uniknya, ia memanfaatkan buah-buahan busuk yang diperoleh dari sejumlah toko buah. 

Setiap harinya ia dapat buah tak terpakai sekitar satu karung ukuran sedang. Dibawa ke rumahnya di Desa Mojoranu, Kecamatan Dander, untuk pakan lalat. “Buah dicacah, sehingga stok pakan selalu ada,” ungkap kakek mempunyai tujuh cucu tersebut.

Baca Juga :  Dengan WHRPG, Tekan Emisi Gas Buang

Dalam budidaya ternaknya, Sulo mengambil metode pakan berkelanjutan. Memanfaatkan buah yang busuk untuk mengembangkan maggot. Lalat yang ia ternak menghasilkan telur, menetas menjadi ulat maggot. ‘’Ulat tersebut kemudian dibuat pakan ternak,’’ jelasnya.

Bagi Sulo, terpenting beternak maggot ialah suhu ruangan. Harus selalu hangat. Sehingga ketika musim hujan seperti saat ini, dirinya mempunyai pekerjaan ekstra menambah lampu di dalam kandang. “Kalau tidak begitu, telur dari lalat tidak akan berkembang biak. Hasil dari telut lalat sedikit,” ungkap kakek kelahiran 1955 tersebut.

Pakan menjadi hal utama dalam usaha ternak. Sehingga Sulo memperhatikan betul ketersediaan pakan ternaknya. Maggot memiliki protein tinggi untuk pakan ternak dibanding pakan lainnya. Dampaknya bebek menjadi lebih sehat dan tidak mudah sakit. 

Baca Juga :  Pendapatan Pasar Daerah Bojonegoro Minim

“Bebek menjadi tidak gampang mati, sebelumnya rentan terserang penyakit,” tuturnya.

Rintisan usahanya ia mulai sekitar 2019 lalu. Sejak pensiun menjadi pegawai pemerintah daerah. Dari 400 ekor bebek diternak saat ini sudah terdapat sekitar 1.000 an lebih bebek potong. “Kemarin baru saja saya jual 400 ekor,” ujarnya.

Kakek 67 tahun ini sempat putus asa beternak bebek. Sebab belum ada pasar melirik hasil ternaknya. Setelah ia mengubah sistem dan membuat pakan berupa maggot, pembeli semakin tertarik. Saat ini sudah mempunyai langganan menjual ternaknya. 

“Sudah ada yang membeli datang ke kandang,” terangnya.

Dalam beternak sekitar seribu bebek, Sulo dibantu satu orang. Kakek tinggal di Desa Mojoranu ini mempunyai keinginan menularkan beternak kepada generasi muda. Menurutnya dari pemuda sekitar rumahnya belum ada tertarik menirunya. 

“Keinginan ke depan, banyak anak muda terjun beternak terutama maggot,” jelasnya.

Artikel Terkait

Most Read

KUR BNI Bantu 2.381 Petani

Harga Murah Disukai Anak – Anak

15 Pengedar Narkoba Lamongan Dibekuk

Lamongan Masih Sulit Jadi Zona Hijau

Artikel Terbaru


/