25.5 C
Bojonegoro
Friday, June 2, 2023

Bintang Remang-Remang

- Advertisement -

SETELAH lelah berusaha ke sana ke mari, sowan dari satu pondok ke pondok lain. Masuk di satu daerah ke daerah lain, akhirnya Gus Bahrudin mengambil alternatif terakhir, yakni sowan ke Mbah Sarpan.
Di pondoknya sendiri Gus Bahrudin sebenarnya punya ratusan santri putrid. Tapi, setiap nama santriwati diceritakan abahnya, tidak ada satu pun yang mampu menggerakkan hatinya. Itu sebabnya Gus Bahrudin turun tangan sendiri mencari iga wekas-nya yang entah, Allah letakkan di mana.
 “Kang, sampean bisa mengantarku ke Mbah Sarpan kapan?”
 “Beneran jenengan mau sowan ke Mbah Sarpan?”
 “Bismillah, hanya ini jalan yang belum aku tempuh.”
 “Nggeh. Kapan saja kulo siap, Gus.”
 “Kalau begitu nanti berangkat habis Asar.”
Bersama Kang Rohmat, Gus Bahrudin sowan ke kediaman Mbah Sarpan yang tak lain sebenarnya adalah teman akrab Kiai Fatkhur Rozi sendiri, abahnya Gus Bahrudin. Tepat saat azan Isya selesai, mobil dikendarai Kang Rohmat dan Gus Bahrudin berhenti di depan rumahnya Mbah Sarpan.  Kaget bukan main, karena sosok sepuh, berwibawa, mengenakan kaus, dan kopiah putih. Serta mengenakan sorban di pundaknya yang juga warna putih telah berdiri di teras rumah. Seakan sedang menunggu kedatangannya.
Baru membuka pintu mobil dan belum matur apa-apa, Mbah Sarpan langsung ngendikan, “Nek awakmu ngandel aku, petuki jodohmu nang Gandul.”
Sekujur tubuh Gus Bahrudin gemetar. Hal inilah ditakuti dari Mbah Sarpan. Sebab, Mbah Sarpan adalah orang alim yang terkenal akan memberikan saran aneh-aneh bagi tamunya. Benar saja, bagaimana bisa masuk di akal? Gus Bahrudin yang sudah keluar masuk pondok dan daerah saja tidak menemukan iga wekas-nya. Ini justru diminta ke Gandul.
Gandul adalah satu daerah di kabupaten Tuban, yang merupakan tempat prostitusi. Tempat bagi para wanita malam menjajakan “barangnya”. Dengan gemetar Gus Bahrudin menjabat tangan Mbah Sarpan dan menciumnya dengan takdzim.
“Nek iso awakmu langsung wengi iki, moro Gandul. Ogak usah ngenteni sesok-sesok. Wes ya, tak tinggal jamaah sik.”
Gus Bahrudin melongo, melihat tubuh piyantun sepuh itu melangkah ke arah musala. Mau bagaimana lagi? Sebagai santri tulen, tidak ada tawar-menawar untuk sebuah utusan. Gus Bahrudin meminta Kang Rohmat untuk mampir sebentar ke sebuah toko baju di daerah Kecamatan Babat, Lamongan. Untuk membeli celana dan kaus. Karena tidak mungkin dia masuk wilayah Gandul dengan masih mengenakan sarung, baju safari, dan kopiah putih.
Setelah bertanya beberapa kali kepada orang, sampailah Gus Bahrudin di sebuah daerah yang sepi. Kang Rohmat mengendarai mobil dengan pelan-pelan. Sambil terus melafalkan istighfar. Karena sepanjang jalan, ada tante-tante yang berdiri menyambut para hidung belang.
Beberapa kali, kaca mobil diketuk tapi Gus Bahrudin masih ragu-ragu untuk membukanya. Matanya tetap waspada. Ia memegang kencang pengendikan Mbah Sarpan kalau jodohnya ada di sini.
 Tiba-tiba ada seorang wanita lari menabrak mobil yang ditumpangi Gus Bahrudin, mobil seketika berhenti. Wanita itu berdiri seperti kesakitan. Menggedor-gedor kaca mobil sambil berteriak-teriak.
Kang Rohmat segera memasukkan persneling bersiap jalan, tapi Gus Bahrudin memintanya, “Jangan!”
Gus Bahrudin akhirnya membuka pintu mobilnya. Seketika wanita setengah telanjang itu langsung masuk mobilnya tanpa permisi. Bau arak dan amis seketika menyeruak ke dalam mobil.
Gus Bahrudin segera meminta Kang Rohmat menjalankan mobilnya, tapi belum sampai sepuluh meter. Mobil itu dihadang oleh para lelaki kekar. Juga beberapa tante-tante yang berpostur lebar.
 “Kamu punya masalah apa dengan mereka?” tanya Gus Bahrudin kepada wanita yang ketakutan di sampingnya.
 “Ibu saya sedang sakit, saya mau pulang. Tapi, masih dipaksa untuk melayani tamu. Dia seorang lurah. Mami sudah di-DP banyak.”
 “Oh!”
Tanpa berpikir panjang, Gus Bahrudin segera turun dari mobilnya dengan muka tak kalah geram dengan orang-orang yang menghadangnya.
 “Berapa uang yang dibayar Pak Lurah untuk wanita yang ada di mobil saya?”
 “Kamu siapa? Tidak usah ikut campur.”
Seorang bertato nyolot.
 “Sebelumnya mohon maaf, saya akan membayar sepuluh kali lipat untuk wanita yang ada di mobil saya.”
Seorang wanita menor dan gembrot, langsung nempel ke badan Gus Bahrudin.
 “Saya Maminya Elsa, saya yang bertanggung jawab. Gini saja, tadi Pak Lurah sudah DP saya Rp 5 juta untuk mendapatkan Elsa semalam. Sekarang tuan muda ini berani berapa?”
Tanpa bisa menyembunyikan keluguannya Gus Bahrudin berkata dengan ramah, “sesuai kata saya. Saya akan bayar sepuluh kali lipat untuk Elsa.”
Gus Bahrudin kembali ke mobil, untuk mengambil tasnya. Lalu mengeluarkan uang yang diikat karet. “Ini lima puluh juta untuk Mami, Elsa saya bawa.”
Mami mengembangkan senyum, “silakan tuan muda, pan kapan kalau butuh lagi, jangan sungkan mampir ke sini.”
Kang Rohmat segera menginjak pedal gas. Meninggalkan beberapa lelaki yang masih menampakan kedongkolan di wajahnya.
 “Mbak ini aslinya mana, biar kami antar pulang?” Gus Bahrudin membuka obrolan, setelah sekian lama hanya ada hening dan ketakutan di wajah Elsa.
 “Saya asli Jember, Mas.”
Kang Rohmat menepuk jidat.
 “Nggak masalah, Kang, kita puter balik. Malam ini juga ke Jember, nanti kita gantian nyopirnya.”
Elsa menangis, bibirnya yang bergetar, ia paksa untuk mengucapkan terima kasih berkali-kali.

* Alief Irfan, santri Ponpes Manbail Huda dan lulusan SMO Mitra Karya aktif di dunia literasi.

1 Kalau kamu percaya aku, temui jodohmo di gandul.
2 Kalau bias mala mini juga kamu ke nGandul, tidak usah menunggu besok-besok. Sudah ya, tak tinggal jamaah dulu.

SETELAH lelah berusaha ke sana ke mari, sowan dari satu pondok ke pondok lain. Masuk di satu daerah ke daerah lain, akhirnya Gus Bahrudin mengambil alternatif terakhir, yakni sowan ke Mbah Sarpan.
Di pondoknya sendiri Gus Bahrudin sebenarnya punya ratusan santri putrid. Tapi, setiap nama santriwati diceritakan abahnya, tidak ada satu pun yang mampu menggerakkan hatinya. Itu sebabnya Gus Bahrudin turun tangan sendiri mencari iga wekas-nya yang entah, Allah letakkan di mana.
 “Kang, sampean bisa mengantarku ke Mbah Sarpan kapan?”
 “Beneran jenengan mau sowan ke Mbah Sarpan?”
 “Bismillah, hanya ini jalan yang belum aku tempuh.”
 “Nggeh. Kapan saja kulo siap, Gus.”
 “Kalau begitu nanti berangkat habis Asar.”
Bersama Kang Rohmat, Gus Bahrudin sowan ke kediaman Mbah Sarpan yang tak lain sebenarnya adalah teman akrab Kiai Fatkhur Rozi sendiri, abahnya Gus Bahrudin. Tepat saat azan Isya selesai, mobil dikendarai Kang Rohmat dan Gus Bahrudin berhenti di depan rumahnya Mbah Sarpan.  Kaget bukan main, karena sosok sepuh, berwibawa, mengenakan kaus, dan kopiah putih. Serta mengenakan sorban di pundaknya yang juga warna putih telah berdiri di teras rumah. Seakan sedang menunggu kedatangannya.
Baru membuka pintu mobil dan belum matur apa-apa, Mbah Sarpan langsung ngendikan, “Nek awakmu ngandel aku, petuki jodohmu nang Gandul.”
Sekujur tubuh Gus Bahrudin gemetar. Hal inilah ditakuti dari Mbah Sarpan. Sebab, Mbah Sarpan adalah orang alim yang terkenal akan memberikan saran aneh-aneh bagi tamunya. Benar saja, bagaimana bisa masuk di akal? Gus Bahrudin yang sudah keluar masuk pondok dan daerah saja tidak menemukan iga wekas-nya. Ini justru diminta ke Gandul.
Gandul adalah satu daerah di kabupaten Tuban, yang merupakan tempat prostitusi. Tempat bagi para wanita malam menjajakan “barangnya”. Dengan gemetar Gus Bahrudin menjabat tangan Mbah Sarpan dan menciumnya dengan takdzim.
“Nek iso awakmu langsung wengi iki, moro Gandul. Ogak usah ngenteni sesok-sesok. Wes ya, tak tinggal jamaah sik.”
Gus Bahrudin melongo, melihat tubuh piyantun sepuh itu melangkah ke arah musala. Mau bagaimana lagi? Sebagai santri tulen, tidak ada tawar-menawar untuk sebuah utusan. Gus Bahrudin meminta Kang Rohmat untuk mampir sebentar ke sebuah toko baju di daerah Kecamatan Babat, Lamongan. Untuk membeli celana dan kaus. Karena tidak mungkin dia masuk wilayah Gandul dengan masih mengenakan sarung, baju safari, dan kopiah putih.
Setelah bertanya beberapa kali kepada orang, sampailah Gus Bahrudin di sebuah daerah yang sepi. Kang Rohmat mengendarai mobil dengan pelan-pelan. Sambil terus melafalkan istighfar. Karena sepanjang jalan, ada tante-tante yang berdiri menyambut para hidung belang.
Beberapa kali, kaca mobil diketuk tapi Gus Bahrudin masih ragu-ragu untuk membukanya. Matanya tetap waspada. Ia memegang kencang pengendikan Mbah Sarpan kalau jodohnya ada di sini.
 Tiba-tiba ada seorang wanita lari menabrak mobil yang ditumpangi Gus Bahrudin, mobil seketika berhenti. Wanita itu berdiri seperti kesakitan. Menggedor-gedor kaca mobil sambil berteriak-teriak.
Kang Rohmat segera memasukkan persneling bersiap jalan, tapi Gus Bahrudin memintanya, “Jangan!”
Gus Bahrudin akhirnya membuka pintu mobilnya. Seketika wanita setengah telanjang itu langsung masuk mobilnya tanpa permisi. Bau arak dan amis seketika menyeruak ke dalam mobil.
Gus Bahrudin segera meminta Kang Rohmat menjalankan mobilnya, tapi belum sampai sepuluh meter. Mobil itu dihadang oleh para lelaki kekar. Juga beberapa tante-tante yang berpostur lebar.
 “Kamu punya masalah apa dengan mereka?” tanya Gus Bahrudin kepada wanita yang ketakutan di sampingnya.
 “Ibu saya sedang sakit, saya mau pulang. Tapi, masih dipaksa untuk melayani tamu. Dia seorang lurah. Mami sudah di-DP banyak.”
 “Oh!”
Tanpa berpikir panjang, Gus Bahrudin segera turun dari mobilnya dengan muka tak kalah geram dengan orang-orang yang menghadangnya.
 “Berapa uang yang dibayar Pak Lurah untuk wanita yang ada di mobil saya?”
 “Kamu siapa? Tidak usah ikut campur.”
Seorang bertato nyolot.
 “Sebelumnya mohon maaf, saya akan membayar sepuluh kali lipat untuk wanita yang ada di mobil saya.”
Seorang wanita menor dan gembrot, langsung nempel ke badan Gus Bahrudin.
 “Saya Maminya Elsa, saya yang bertanggung jawab. Gini saja, tadi Pak Lurah sudah DP saya Rp 5 juta untuk mendapatkan Elsa semalam. Sekarang tuan muda ini berani berapa?”
Tanpa bisa menyembunyikan keluguannya Gus Bahrudin berkata dengan ramah, “sesuai kata saya. Saya akan bayar sepuluh kali lipat untuk Elsa.”
Gus Bahrudin kembali ke mobil, untuk mengambil tasnya. Lalu mengeluarkan uang yang diikat karet. “Ini lima puluh juta untuk Mami, Elsa saya bawa.”
Mami mengembangkan senyum, “silakan tuan muda, pan kapan kalau butuh lagi, jangan sungkan mampir ke sini.”
Kang Rohmat segera menginjak pedal gas. Meninggalkan beberapa lelaki yang masih menampakan kedongkolan di wajahnya.
 “Mbak ini aslinya mana, biar kami antar pulang?” Gus Bahrudin membuka obrolan, setelah sekian lama hanya ada hening dan ketakutan di wajah Elsa.
 “Saya asli Jember, Mas.”
Kang Rohmat menepuk jidat.
 “Nggak masalah, Kang, kita puter balik. Malam ini juga ke Jember, nanti kita gantian nyopirnya.”
Elsa menangis, bibirnya yang bergetar, ia paksa untuk mengucapkan terima kasih berkali-kali.

* Alief Irfan, santri Ponpes Manbail Huda dan lulusan SMO Mitra Karya aktif di dunia literasi.

1 Kalau kamu percaya aku, temui jodohmo di gandul.
2 Kalau bias mala mini juga kamu ke nGandul, tidak usah menunggu besok-besok. Sudah ya, tak tinggal jamaah dulu.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Lebih Suka Belajar Bersama

Terus Bersinergi dengan Media


/