alexametrics
28.1 C
Bojonegoro
Wednesday, May 25, 2022

Menguji Navigasi, Melintasi Medan Berbekal Peta

Olahraga orienteering masih belum populer bagi masyarakat. Namun, antusiasme pegiat outdoor mulai banyak melirik olahraga berpacu kecerdikan dan navigasi ini. Tertarik? Simak dulu cara permainannya ya!

OLAHRAGA orienteering, mungkin masih sangat asing bagi masyarakat umum. Jangankan melihat, membacanya mungkin belum pernah karena memang cabang olahraga (cabor) tersebut belum populer di telinga masyarakat. Namun, kalangan pegiat outdoor seperti pendaki atau pecinta alam, tentu sudah mengetahui orienteering. Termasuk di Bojonegoro, ternyata sudah ada organisasi cabor orienteering.
Jawa Pos Radar Bojonegoro berkesempatan bertemu dengan Muhammad Elfan Rodhian Putra di salah satu kedai di Jalan Basuki Rahmat. Dia sebagai ketua Pengurus Cabang (Pengcab) Federasi Orienteering Nasional Indonesia (FONI) Bojonegoro. FONI Bojonegoro sah terbentuk pada 14 Februari lalu.
“Saat itu, FONI Bojonegoro deklarasi serentak dengan beberapa kota di Jawa Timur. Di antaranya Tulungagung, Kabupaten Malang, Sidoarjo, Kota Mojokerto, Banyuwangi, Bangkalan, Jember, Bondowoso, Kota Madiun, Kabupaten Mojokerto, Jombang, Lamongan, Kabupaten Pasuruan, dan Kabupaten Kediri,” jelas Elfan.
Pemuda tinggal di Desa/Kecamatan Trucuk itu menerangkan, bahwa sejarah orienteering dimulai abad ke-19 sekitar 1886, tepatnya ketika Akademi Militer Karlberg Swedia menggunakan olahraga ini sebagai program latihan militer. Istilah orienteering diartikan sebagai kegiatan melintasi medan belum dikenal dengan bantuan peta dan kompas.
Elfan sendiri punya latar belakang pernah aktif sebagai anggota mahasiswa pecinta alam (mapala) Alas Tuo saat berkuliah di Akademi Komunitas Negeri (AKN) Bojonegoro. Kebetulan pembina mapala Alas Tuo yakni Tito Alfarizi menjadi Ketua Pengcab FONI Kabupaten Pasuruan. “Karena itu, kami ditawari mendirikan FONI juga di Bojonegoro,” imbuhnya.
Saat itu, Elfan asing dengan cabor orienteering. Namun, ketika diberi tahu cara permainannya, Elfan mulai paham. Karena orienteering itu mirip seperti lomba lintas medan. Ada garis start, lalu mencapai finish, tapi peserta wajib singgah ke beberapa cek poin. Setelah itu, Elfan pun mulai menggandeng sispala, mapala, dan Pramuka di Bojonegoro untuk gabung FONI Bojonegoro.
“Akhirnya ada tujuh orang masuk pengurus inti FONI Bojonegoro. Tapi, ada teman-teman turut bantu, totalnya mungkin bisa mencapai 17 orang,” terangnya.
Sebenarnya, sejak terbentuk Februari ingin segera bikin acara lomba orienteering. Tapi, karena masih perlu banyak belajar dan terkendala pandemi Covid-19, Elfan dan teman-temannya perlu mematangkan rencana menggelar lomba tersebut.
“Karena kami perlu banyak belajar seperti cara bikin peta permainan, serta aturan saat lomba,” beber pemuda kelahiran 1996 itu.
Adapun orienteering memang merupakan olahraga bisa untuk kesehatan, rekreasi, dan prestasi. Tetapi, di Bojonegoro, FONI masih belum di bawah naungan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI). Elfan masih menunggu arahan dari provinsi dan pusat. Tentu ke depannya ingin bergabung KONI dan targetnya cetak atlet orienteering.
Olahraga orienteering bisa diadakan di berbagai medan. Seperti di lapangan, hutan, pantai, gunung, bukit, perkotaan, dan sebagainya. Intinya, setiap peserta perlu memiliki keahlian membaca peta dan kompas. Peta dibuat oleh panitia penyelenggara, mulai start hingga finish, peserta wajib menandai setiap cek poin.
Ada dua tipe penilaian yaitu linear dan score. Tipe linear, tiap peserta harus menandai tiap cek poin secara berurutan dengan juga menghitung catatan waktu capai finish. Sedangkan, tipe score, tiap peserta wajib menandai cek poin memiliki jumlah skor berbeda-beda.
“Jadi tipe score itu panitia menentukan jumlah skor harus dikumpulkan peserta. Sehingga peserta perlu cerdik memilik cek poin mana dulu ditandai dengan skor tinggi agar jumlah skor disyaratkan lekas terpenuhi,” ucapnya.
Pencatatan skor maupun menandai cek poin dilakukan secara digital. Rerata menggunakan aplikasi iOrienteering. Sehingga, setiap cek poin dipasang QR Code untuk di-scan peserta untuk mencatat waktu dan skor.
FONI Bojonegoro berencana menggelar lomba orienteering pada 27-28 November di Waduk Grobogan turut Desa Bendo, Kecamatan Kapas. Lombanya akan tipe linear dengan peta labirin. Selanjutnya, Elfan ingin promosikan orienteering ke sekolah-sekolah.

Baca Juga :  Oknum PNS Gelapkan Rp 300 Juta

Olahraga orienteering masih belum populer bagi masyarakat. Namun, antusiasme pegiat outdoor mulai banyak melirik olahraga berpacu kecerdikan dan navigasi ini. Tertarik? Simak dulu cara permainannya ya!

OLAHRAGA orienteering, mungkin masih sangat asing bagi masyarakat umum. Jangankan melihat, membacanya mungkin belum pernah karena memang cabang olahraga (cabor) tersebut belum populer di telinga masyarakat. Namun, kalangan pegiat outdoor seperti pendaki atau pecinta alam, tentu sudah mengetahui orienteering. Termasuk di Bojonegoro, ternyata sudah ada organisasi cabor orienteering.
Jawa Pos Radar Bojonegoro berkesempatan bertemu dengan Muhammad Elfan Rodhian Putra di salah satu kedai di Jalan Basuki Rahmat. Dia sebagai ketua Pengurus Cabang (Pengcab) Federasi Orienteering Nasional Indonesia (FONI) Bojonegoro. FONI Bojonegoro sah terbentuk pada 14 Februari lalu.
“Saat itu, FONI Bojonegoro deklarasi serentak dengan beberapa kota di Jawa Timur. Di antaranya Tulungagung, Kabupaten Malang, Sidoarjo, Kota Mojokerto, Banyuwangi, Bangkalan, Jember, Bondowoso, Kota Madiun, Kabupaten Mojokerto, Jombang, Lamongan, Kabupaten Pasuruan, dan Kabupaten Kediri,” jelas Elfan.
Pemuda tinggal di Desa/Kecamatan Trucuk itu menerangkan, bahwa sejarah orienteering dimulai abad ke-19 sekitar 1886, tepatnya ketika Akademi Militer Karlberg Swedia menggunakan olahraga ini sebagai program latihan militer. Istilah orienteering diartikan sebagai kegiatan melintasi medan belum dikenal dengan bantuan peta dan kompas.
Elfan sendiri punya latar belakang pernah aktif sebagai anggota mahasiswa pecinta alam (mapala) Alas Tuo saat berkuliah di Akademi Komunitas Negeri (AKN) Bojonegoro. Kebetulan pembina mapala Alas Tuo yakni Tito Alfarizi menjadi Ketua Pengcab FONI Kabupaten Pasuruan. “Karena itu, kami ditawari mendirikan FONI juga di Bojonegoro,” imbuhnya.
Saat itu, Elfan asing dengan cabor orienteering. Namun, ketika diberi tahu cara permainannya, Elfan mulai paham. Karena orienteering itu mirip seperti lomba lintas medan. Ada garis start, lalu mencapai finish, tapi peserta wajib singgah ke beberapa cek poin. Setelah itu, Elfan pun mulai menggandeng sispala, mapala, dan Pramuka di Bojonegoro untuk gabung FONI Bojonegoro.
“Akhirnya ada tujuh orang masuk pengurus inti FONI Bojonegoro. Tapi, ada teman-teman turut bantu, totalnya mungkin bisa mencapai 17 orang,” terangnya.
Sebenarnya, sejak terbentuk Februari ingin segera bikin acara lomba orienteering. Tapi, karena masih perlu banyak belajar dan terkendala pandemi Covid-19, Elfan dan teman-temannya perlu mematangkan rencana menggelar lomba tersebut.
“Karena kami perlu banyak belajar seperti cara bikin peta permainan, serta aturan saat lomba,” beber pemuda kelahiran 1996 itu.
Adapun orienteering memang merupakan olahraga bisa untuk kesehatan, rekreasi, dan prestasi. Tetapi, di Bojonegoro, FONI masih belum di bawah naungan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI). Elfan masih menunggu arahan dari provinsi dan pusat. Tentu ke depannya ingin bergabung KONI dan targetnya cetak atlet orienteering.
Olahraga orienteering bisa diadakan di berbagai medan. Seperti di lapangan, hutan, pantai, gunung, bukit, perkotaan, dan sebagainya. Intinya, setiap peserta perlu memiliki keahlian membaca peta dan kompas. Peta dibuat oleh panitia penyelenggara, mulai start hingga finish, peserta wajib menandai setiap cek poin.
Ada dua tipe penilaian yaitu linear dan score. Tipe linear, tiap peserta harus menandai tiap cek poin secara berurutan dengan juga menghitung catatan waktu capai finish. Sedangkan, tipe score, tiap peserta wajib menandai cek poin memiliki jumlah skor berbeda-beda.
“Jadi tipe score itu panitia menentukan jumlah skor harus dikumpulkan peserta. Sehingga peserta perlu cerdik memilik cek poin mana dulu ditandai dengan skor tinggi agar jumlah skor disyaratkan lekas terpenuhi,” ucapnya.
Pencatatan skor maupun menandai cek poin dilakukan secara digital. Rerata menggunakan aplikasi iOrienteering. Sehingga, setiap cek poin dipasang QR Code untuk di-scan peserta untuk mencatat waktu dan skor.
FONI Bojonegoro berencana menggelar lomba orienteering pada 27-28 November di Waduk Grobogan turut Desa Bendo, Kecamatan Kapas. Lombanya akan tipe linear dengan peta labirin. Selanjutnya, Elfan ingin promosikan orienteering ke sekolah-sekolah.

Baca Juga :  Menjadi Kritik untuk Pemkab dan DPRD

Artikel Terkait

Most Read

Tunggu Harga Membaik

Wow, Tryout SD Bakal Diikuti 10.363 Siswa

Artikel Terbaru


/