alexametrics
25.5 C
Bojonegoro
Monday, May 23, 2022

Penanaman Tabebuya Menunggu Hujan

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Pohon tabebuya tampaknya menjadi pilihan yang bakal ditanam di musim hujan ini. Rencana pohon hias lainnya, yaitu penanaman pohon pule dan sepatu dea. 

Namun, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bojonegoro masih mempelajari rencana penghijauan. Sebab, pemilihan pohon juga harus tepat guna. Termasuk melihat kondisi wilayah Bojonegoro.

Kepala DLH Bojonegoro Hanafi mengatakan, penghijauan tak hanya menanam pohon hias saja. Tapi, juga menanam pohon peneduh di beberapa titik poros kecamatan. 

Selain itu, juga reboisasi terhadap ratusan pohon yang tumbang atau ditebang akibat dampak proyek trotoar sekaligus drainase di jalan protokol wilayah kota. “Penanaman pohon menunggu turun hujan dulu. Kalau tanahnya sudah gembur. Sebaliknya, ketika panas seperti sekarang dipaksakan untuk menanam, nanti pohonnya justru mati,” katanya kemarin (19/11).

Baca Juga :  Akhir Tahun, DPRD Fokus Pengawasan Serapan dan Kunker

Hanafi memastikan, masih berkonsultasi dengan bupati dan mempelajari terlebih dahulu lokasi titik penanaman pohon. Diperkirakan ke depannya ada kawasan tertentu yang khusus ditanami pohon hias. Ada juga ditanami pohon peneduh. Contohnya, pohon tabebuya sudah ditanam di pinggir Jalan Raya Bojonegoro-Babat turut wilayah Desa Sukowati, Kecamatan Kapas, sejak tahun lalu. 

“Kalau pohon penghijauannya ada beberapa titik di wilayah Kecamatan Purwosari, Tambakrejo, Balen, Sugihwaras, dan Kedungadem,” terangnya.

Manajer Kampanye Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Timur Wahyu Eka Setyawan mengungkapkan, bahwa pemilihan pohon penghijauan harus banyak pertimbangan. Jangan hanya memperhatikan keindahan pohon saja, tetapi melihat fungsi pohon. 

Menurut dia, melihat kondisi wilayah Bojonegoro yang memiliki industri pengeboran migas seharusnya memilih pohon-pohon yang bisa menyerap racun. Dan pohon yang mampu menyumbang banyak oksigen sekaligus mengurangi polusi. 

Baca Juga :  Tanam 1.069 Pohon Tabebuya, Bojonegoro Akan Lebih Indah

Misalnya, menurut Wahyu, seperti pohon angsana atau trembesi. Terkait pohon-pohon yang ditebang akibat proyek trotoar harus segera dilakukan reboisasi. “Untuk Bojonegoro sendiri harus memperhatikan sekaligus merencanakan tata ruang wilayah agar bisa memiliki ruang terbuka hijau lebih dari 30 persen,” tutur pria asal Kecamatan Tambakboyo, Kabupaten Tuban itu.

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Pohon tabebuya tampaknya menjadi pilihan yang bakal ditanam di musim hujan ini. Rencana pohon hias lainnya, yaitu penanaman pohon pule dan sepatu dea. 

Namun, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bojonegoro masih mempelajari rencana penghijauan. Sebab, pemilihan pohon juga harus tepat guna. Termasuk melihat kondisi wilayah Bojonegoro.

Kepala DLH Bojonegoro Hanafi mengatakan, penghijauan tak hanya menanam pohon hias saja. Tapi, juga menanam pohon peneduh di beberapa titik poros kecamatan. 

Selain itu, juga reboisasi terhadap ratusan pohon yang tumbang atau ditebang akibat dampak proyek trotoar sekaligus drainase di jalan protokol wilayah kota. “Penanaman pohon menunggu turun hujan dulu. Kalau tanahnya sudah gembur. Sebaliknya, ketika panas seperti sekarang dipaksakan untuk menanam, nanti pohonnya justru mati,” katanya kemarin (19/11).

Baca Juga :  Sita Rp 25 Juta Judi Pilkades

Hanafi memastikan, masih berkonsultasi dengan bupati dan mempelajari terlebih dahulu lokasi titik penanaman pohon. Diperkirakan ke depannya ada kawasan tertentu yang khusus ditanami pohon hias. Ada juga ditanami pohon peneduh. Contohnya, pohon tabebuya sudah ditanam di pinggir Jalan Raya Bojonegoro-Babat turut wilayah Desa Sukowati, Kecamatan Kapas, sejak tahun lalu. 

“Kalau pohon penghijauannya ada beberapa titik di wilayah Kecamatan Purwosari, Tambakrejo, Balen, Sugihwaras, dan Kedungadem,” terangnya.

Manajer Kampanye Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Timur Wahyu Eka Setyawan mengungkapkan, bahwa pemilihan pohon penghijauan harus banyak pertimbangan. Jangan hanya memperhatikan keindahan pohon saja, tetapi melihat fungsi pohon. 

Menurut dia, melihat kondisi wilayah Bojonegoro yang memiliki industri pengeboran migas seharusnya memilih pohon-pohon yang bisa menyerap racun. Dan pohon yang mampu menyumbang banyak oksigen sekaligus mengurangi polusi. 

Baca Juga :  Calon Perawat Geluti Bisnis

Misalnya, menurut Wahyu, seperti pohon angsana atau trembesi. Terkait pohon-pohon yang ditebang akibat proyek trotoar harus segera dilakukan reboisasi. “Untuk Bojonegoro sendiri harus memperhatikan sekaligus merencanakan tata ruang wilayah agar bisa memiliki ruang terbuka hijau lebih dari 30 persen,” tutur pria asal Kecamatan Tambakboyo, Kabupaten Tuban itu.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/