alexametrics
24.8 C
Bojonegoro
Friday, May 27, 2022

Selamat Hari Jadi Kabupaten Bojonegoro : Berkah dan Bahagia

Kaki Bupati Suyoto melangkah tanpa ragu. Melewati pematang sawah yang sangat sempit dan licin. Langkahnya cepat menuju pasarean Joyonegoro di Desa Ngraseh Kecamatan Dander, Selasa (17/10) lalu. 

Joyonegoro adalah bupati Bojonegoro pada 1827-1844. Dialah yang mengusulkan nama Bojonegoro. Artinya, sebagai tempat bersama nyaman. Tempat bersama untuk rileks.  Siapapun yang domisili, bekerja, dan hidup akan merasa nyaman di Bojonegoro. 

Sepanjang memperingati Hari Jadi Bojonegoro (HJB), lokasi makam yang dituju oleh Bupati Suyoto  selalu berpindah-pindah. ‘’Disesuaikan dengan tema, dan tema kali ini adalah Bersatu Melangkah Maju,’’pria yang akrab dipanggil kata Kang Yoto ini.

Kang Yoto ingin mengingatkan kepada masyarakat Bojonegoro bahwa Joyonegoro adalah bupati saat itu yang mengubah nama dari Rajekwesi menjadi Bojonegoro. 

Awalnya pada 1825, Rajekwesi diserang oleh pasukan yang dipimpin oleh Sosrodilogo. Belanda kalah. Rajekwesi benar-benar luluk lantak. Perang Jawa yang pecah saat itu menjadi penanda penting, Pangeran Diponegoro memperoleh kemenangan. Maka dibuatlah masjid Darussalam di Alun-Alun Kota Bojonegoro saat ini. 

Sosrodilogo pun menjadi bupati Bojonegoro. Namun dia masih dianggap pemberontak oleh Belanda. Gubernur Jendral di Batavia murka karena Belanda kalah di Rajekwesi. Belandapun menyusun kekuatan untuk melakukan serangan balik. 

Belanda pun melakukan serangan balik. Hasilnya, Sosrodilogo pun kalah. Dia melarikan diri. 

Namun, yang menjadi catatan penting adalah, Sosrodilogo adalah penakluk Belanda. Tanpa ada serangan Sosrodilogo ke Rajekwesi, nama Bojonegoro tak muncul. 

Baca Juga :  Rahadian Didapuk Ketua IKASMADA¬†

Joyonegoro dijadikan Belanda sebagai bupati Bojonegoro yang pertama. Karena Joyonegoro yang mengusulkan nama Bojonegoro. Menggantikan nama Rajekwesi. Harapannya, Bojonegoro menjadi tempat yang nyaman bagi siapa saja. Tanpa ada konflik diantara kelompok, golongan, dan agama di Bojonegoro. 

***

Usai dari makam Joyonegoro, Kang Yoto menuju ke makam RT Sosrodingrat. Dia adalah bupati yang memimpin Rajekwesi pada 1821-1823.  Lokasi makamnya cukup jauh. Yakni di Desa Sugihwaras Kecamatan Ngluyu. Makam RT Sosrodingrat masih cukup terawat. Meski tanah makam sudah seperti menggembung. Tapi kondisinya masih baik. 

Di luar makam, ada makam anak dari Sosrodingrat. 

Dahulu, Kecamatan Ngluyu masih menjadi bagian dari Bojonegoro. Kecamatan Ngluyu dan Bojonegoro hanya dibatasi dengan pegunungan kapur. Di belakang bukit sudah masuk wilayah Bojonegoro. Yakni, Temayang dan Kedungadem. 

Selama ini belum ada bupati Bojonegoro yang berkunjung ke makam Sosrodingrat. Baru Kang Yoto yang berkunjung ke makam tersebut. ‘’Ziarah ke makam Sosrodingrat adalah bagian dari untuk Bersatu Melangkah Maju, karena dari Sosrodingrat muncul para raja-raja Jawa mulai Hamengkubuwono IV hingga sekarang,’’kata Kang Yoto.

***

Bojonegoro kini telah melejit. Bukan hanya di tingkat regional Jawa Timur dan nasional, tapi juga internasional. Di tingkat Jawa Timur, Bojonegoro sejak 2016 telah keluar dari 10 kabupaten termiskin di Jawa Timur. Prestasi Bojonegoro sudah tak terhitung jumlahnya di tingkat Jawa Timur. Begitu juga di tingkat nasional. Sudah tak terhitung lagi jumlahnya prestasi yang diraih Bojonegoro.

Baca Juga :  Tetap Semangat Berkarya di Tengah Pandemi Covid-19

Di tingkat internasional, Bojonegoro merupakan satu-satunya kabupaten yang mewakili Indonesia dalam open government partnership (OGP). 

Penerapan OGP pun hanya di tingkat kabupaten saja. Namun juga hingga ke tingkat desa. Di sejumlah desa sudah mulai terbuka penerapan anggarannya. Di Desa Pejambon dan Desa Mojodeso Kecamatan Kapas saat ini sudah memulainya.

Di bidang kesehatan, RSUD Sosodoro Djatikoesoema saat ini menjadi rujukan bagi pasien bukan hanya dari Bojonegoro saja tapi wilayah sekitarnya. Peralatan modern yang dimiliki RSUD kini menjadi bagian penting bagi masa depan Bojonegoro. Khususnya di sektor jasa.

Di bidang pariwisata, jumlah kunjungan wisatawan ke Bojonegoro juga terus meningkat tiap tahun. Wisata yang berbasis lokal kini menjadi daya tarik wisatawan luar daerah berkunjung ke Bojonegoro.

Di bidang infrastruktur, seperti jalan, jembatan, bangunan sekolah, gedung rumah sakit telah jauh lebih baik dari sebelumnya. 

HJB 340 adalah peringatan bersama yang terakhir bagi pasangan Kang Yoto-Kang Hartono. Tahun depan pasangan ini tak lagi bersama. 

Namun, dua periode telah menorehkan banyak prestasi.   Jika terus ditulis semua prestasi mungkin tak cukup panjang halaman koran ini. Prestasi tersebut bukan semata-mata karena pemimpinnya. Tapi juga kerjasama rakyat dan seluruh komponen di Bojonegoro. Prestasi tersebut tak mungkin diraih jika tak ada kekompakan semua pihak. Karena itu, pejabat, rakyat, dan seluruh komponen masyarakat.

Kaki Bupati Suyoto melangkah tanpa ragu. Melewati pematang sawah yang sangat sempit dan licin. Langkahnya cepat menuju pasarean Joyonegoro di Desa Ngraseh Kecamatan Dander, Selasa (17/10) lalu. 

Joyonegoro adalah bupati Bojonegoro pada 1827-1844. Dialah yang mengusulkan nama Bojonegoro. Artinya, sebagai tempat bersama nyaman. Tempat bersama untuk rileks.  Siapapun yang domisili, bekerja, dan hidup akan merasa nyaman di Bojonegoro. 

Sepanjang memperingati Hari Jadi Bojonegoro (HJB), lokasi makam yang dituju oleh Bupati Suyoto  selalu berpindah-pindah. ‘’Disesuaikan dengan tema, dan tema kali ini adalah Bersatu Melangkah Maju,’’pria yang akrab dipanggil kata Kang Yoto ini.

Kang Yoto ingin mengingatkan kepada masyarakat Bojonegoro bahwa Joyonegoro adalah bupati saat itu yang mengubah nama dari Rajekwesi menjadi Bojonegoro. 

Awalnya pada 1825, Rajekwesi diserang oleh pasukan yang dipimpin oleh Sosrodilogo. Belanda kalah. Rajekwesi benar-benar luluk lantak. Perang Jawa yang pecah saat itu menjadi penanda penting, Pangeran Diponegoro memperoleh kemenangan. Maka dibuatlah masjid Darussalam di Alun-Alun Kota Bojonegoro saat ini. 

Sosrodilogo pun menjadi bupati Bojonegoro. Namun dia masih dianggap pemberontak oleh Belanda. Gubernur Jendral di Batavia murka karena Belanda kalah di Rajekwesi. Belandapun menyusun kekuatan untuk melakukan serangan balik. 

Belanda pun melakukan serangan balik. Hasilnya, Sosrodilogo pun kalah. Dia melarikan diri. 

Namun, yang menjadi catatan penting adalah, Sosrodilogo adalah penakluk Belanda. Tanpa ada serangan Sosrodilogo ke Rajekwesi, nama Bojonegoro tak muncul. 

Baca Juga :  Genangan Ganggu Pengendara

Joyonegoro dijadikan Belanda sebagai bupati Bojonegoro yang pertama. Karena Joyonegoro yang mengusulkan nama Bojonegoro. Menggantikan nama Rajekwesi. Harapannya, Bojonegoro menjadi tempat yang nyaman bagi siapa saja. Tanpa ada konflik diantara kelompok, golongan, dan agama di Bojonegoro. 

***

Usai dari makam Joyonegoro, Kang Yoto menuju ke makam RT Sosrodingrat. Dia adalah bupati yang memimpin Rajekwesi pada 1821-1823.  Lokasi makamnya cukup jauh. Yakni di Desa Sugihwaras Kecamatan Ngluyu. Makam RT Sosrodingrat masih cukup terawat. Meski tanah makam sudah seperti menggembung. Tapi kondisinya masih baik. 

Di luar makam, ada makam anak dari Sosrodingrat. 

Dahulu, Kecamatan Ngluyu masih menjadi bagian dari Bojonegoro. Kecamatan Ngluyu dan Bojonegoro hanya dibatasi dengan pegunungan kapur. Di belakang bukit sudah masuk wilayah Bojonegoro. Yakni, Temayang dan Kedungadem. 

Selama ini belum ada bupati Bojonegoro yang berkunjung ke makam Sosrodingrat. Baru Kang Yoto yang berkunjung ke makam tersebut. ‘’Ziarah ke makam Sosrodingrat adalah bagian dari untuk Bersatu Melangkah Maju, karena dari Sosrodingrat muncul para raja-raja Jawa mulai Hamengkubuwono IV hingga sekarang,’’kata Kang Yoto.

***

Bojonegoro kini telah melejit. Bukan hanya di tingkat regional Jawa Timur dan nasional, tapi juga internasional. Di tingkat Jawa Timur, Bojonegoro sejak 2016 telah keluar dari 10 kabupaten termiskin di Jawa Timur. Prestasi Bojonegoro sudah tak terhitung jumlahnya di tingkat Jawa Timur. Begitu juga di tingkat nasional. Sudah tak terhitung lagi jumlahnya prestasi yang diraih Bojonegoro.

Baca Juga :  Pedagang Pasar Modern Keberatan Direlokasi

Di tingkat internasional, Bojonegoro merupakan satu-satunya kabupaten yang mewakili Indonesia dalam open government partnership (OGP). 

Penerapan OGP pun hanya di tingkat kabupaten saja. Namun juga hingga ke tingkat desa. Di sejumlah desa sudah mulai terbuka penerapan anggarannya. Di Desa Pejambon dan Desa Mojodeso Kecamatan Kapas saat ini sudah memulainya.

Di bidang kesehatan, RSUD Sosodoro Djatikoesoema saat ini menjadi rujukan bagi pasien bukan hanya dari Bojonegoro saja tapi wilayah sekitarnya. Peralatan modern yang dimiliki RSUD kini menjadi bagian penting bagi masa depan Bojonegoro. Khususnya di sektor jasa.

Di bidang pariwisata, jumlah kunjungan wisatawan ke Bojonegoro juga terus meningkat tiap tahun. Wisata yang berbasis lokal kini menjadi daya tarik wisatawan luar daerah berkunjung ke Bojonegoro.

Di bidang infrastruktur, seperti jalan, jembatan, bangunan sekolah, gedung rumah sakit telah jauh lebih baik dari sebelumnya. 

HJB 340 adalah peringatan bersama yang terakhir bagi pasangan Kang Yoto-Kang Hartono. Tahun depan pasangan ini tak lagi bersama. 

Namun, dua periode telah menorehkan banyak prestasi.   Jika terus ditulis semua prestasi mungkin tak cukup panjang halaman koran ini. Prestasi tersebut bukan semata-mata karena pemimpinnya. Tapi juga kerjasama rakyat dan seluruh komponen di Bojonegoro. Prestasi tersebut tak mungkin diraih jika tak ada kekompakan semua pihak. Karena itu, pejabat, rakyat, dan seluruh komponen masyarakat.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/