alexametrics
26.6 C
Bojonegoro
Wednesday, May 25, 2022

Guru Harus Kuasai TI, Punya Sentuhan Doa dan Hati

LAMONGAN – Sekitar 100 guru dari empat sekolah, kemarin (19/7) secara khusus mendapat motivasi dan bekal mental menghadapi tantangan era revolusi industri 4.0. Yakni SMPN 1 Kalitengah, SMPN 1 dan 2 Karangbinangun, dan SMPN 1 Glagah.

Pembekalan itu secara khusus diberikan oleh Dosen Universitas Indonesia (UI) Jakarta Deddi Nordiawan, yang juga  Ketua Umum Gerakan Lamongan menghafal Alquran.

Pakar pendidikan itu menyampaikan, tantangan guru menghadapi siswa Generasi Z di era revolusi industri 4.0 saat ini semakin besar. Tidak hanya tantangan menguasai media pembelajaran berbasis teknologi informasi (TI), tetapi juga menghadapi perilaku siswa yang mulai memudar kesantunan dan berbeda gaya belajarnya. Karena siswa sekarang sudah tidak bisa lepas dari gadget dan internet.

’’Tantangan guru di level SMP lebih besar. Karena pada usia SMP ini, siswa sedang dalam peralihan dan sedang sangat labil sehingga perlu penanganan khusus,’’ terangnya.

Menurut Deddi, kalau pada usia ini salah mendidik, mereka bisa lepas dari kendali orang tua dan guru. Sehingga peranan guru sangat besar. ’’Saya senang bertemu dengan guru-guru SMP yang akan bisa membawa perubahan akhlak siswa generasi Z ini. Siswa generasi Z ini bisa belajar dengan menggunakan HP-nya. Tetapi kekurangannya menjadi kurang santun karena perhatiannya tidak fokus ke guru, tetapi telinganya tetap mendengarkan,’’ ungkapnya. 

Baca Juga :  Perawatan di Musim Kemarau Lebih Sulit

Sebagai Kepala Akademi Paytren Jakarta, sebuah kampus online yang siswanya mencapai 600 ribu dari seluruh dunia, Deddi ingin berbagi kunci agar pendidik di Lamongan sukses mendidik siswanya di era baru saat ini.

Dia mengilustrasikan pertemuannya dengan seorang guru dari Turki yang membawa catatan nama-nama siswanya dan disebut dalam setiap doanya setiap setelah salat. Dia menyampaikan pesan, bahwa seorang guru kalau ingin siswanya sukses harus mendoakan siswanya.

Bahkan Ustad Yusuf Mansur, kolega Deddi dalam mendirikan Wisata Hati Business School mengatakan, rugi kalau seorang guru sebelum dan sesudah mengajar tidak berdoa. Mengapa? Karena doa sebelum belajar agar murid diberi kemudahan dan pemahaman. Dan doa setelah belajar merupakan mengungkapkan puji syukur kehadirat Allah SWT sekaligus memohon keberkahan atas segala aktivitas belajar oleh guru maupun peserta didik, serta memohon dianugerahi oleh Allah SWT pemahaman pada semua pelajaran yang telah diterima siswa-siswi dari pagi hingga siang hari (waktu menjelang pulang sekolah).

Deddi juga meminta guru atau pendidik harus bisa tersenyum. Apa pun masalah yang dihadapi guru, ketika menghadapi murid harus tersenyum. Mengapa? Karena guru sedang berhadapan dengan mesin pembuka pintu berkah. Dia mengilustrasikan, merasa sangat senang ketika bertemu dengan murid atau anak yang tidak bisa membaca Surat Al Fatihah dengan benar. Dia akan mengajarinya. Dengan demikian setiap anak ini salat, dia akan mendapat kiriman pahala bacaan Al Fatihah itu. ’’Maka dengan mengajar sambil tersenyum, seorang guru berharap ilmunya mudah dipahami dan diamalkan. Ketika diamalkan, maka pintu berkah akan dibuka oleh Allah SWT,’’ tuturnya. 

Baca Juga :  Tak Hanya Cabai, Harga Daging Ayam Juga Melambung

Deddi menambahkan, guru itu mengajar 30 persen materi keilmuan dan 70 persen materi karakter atau akhlak. Mengajar karakter harus dengan pendekatan hati ke hati. Ia menggambarkan bagaimana Pelatih Sepak Bola Indra Syafri sukses mengelola para pemainnya. Disuruh lari 2 jam mau. Disuruh habis-habisan di lapangan, seluruh  pemain timnas U-16 akan menuruti. ’’Itu ternyata kuncinya mengajar dengan teladan dan dengan sentuhan hati,’’ ungkapnya.

Acara selama 2 jam di SMPN 1 Kalitengah itu berjalan sukses dan gayeng, karena materinya cukup aktual dan mengena di hati para guru, ditambah tanya jawab dan testimoni dari para guru.

Kepala SMPN 1 Kalitengah Sukahar mengucapkan terima kasih atas motivasi yang sangat bermanfaat dan mengena di hati para guru tersebut. ’’Tanpa doa dan sentuhan hati, sangat sulit siswa menerima ilmu dari guru,’’ tukasnya.

LAMONGAN – Sekitar 100 guru dari empat sekolah, kemarin (19/7) secara khusus mendapat motivasi dan bekal mental menghadapi tantangan era revolusi industri 4.0. Yakni SMPN 1 Kalitengah, SMPN 1 dan 2 Karangbinangun, dan SMPN 1 Glagah.

Pembekalan itu secara khusus diberikan oleh Dosen Universitas Indonesia (UI) Jakarta Deddi Nordiawan, yang juga  Ketua Umum Gerakan Lamongan menghafal Alquran.

Pakar pendidikan itu menyampaikan, tantangan guru menghadapi siswa Generasi Z di era revolusi industri 4.0 saat ini semakin besar. Tidak hanya tantangan menguasai media pembelajaran berbasis teknologi informasi (TI), tetapi juga menghadapi perilaku siswa yang mulai memudar kesantunan dan berbeda gaya belajarnya. Karena siswa sekarang sudah tidak bisa lepas dari gadget dan internet.

’’Tantangan guru di level SMP lebih besar. Karena pada usia SMP ini, siswa sedang dalam peralihan dan sedang sangat labil sehingga perlu penanganan khusus,’’ terangnya.

Menurut Deddi, kalau pada usia ini salah mendidik, mereka bisa lepas dari kendali orang tua dan guru. Sehingga peranan guru sangat besar. ’’Saya senang bertemu dengan guru-guru SMP yang akan bisa membawa perubahan akhlak siswa generasi Z ini. Siswa generasi Z ini bisa belajar dengan menggunakan HP-nya. Tetapi kekurangannya menjadi kurang santun karena perhatiannya tidak fokus ke guru, tetapi telinganya tetap mendengarkan,’’ ungkapnya. 

Baca Juga :  Perbaiki 21 Titik Jembatan di Lamongan

Sebagai Kepala Akademi Paytren Jakarta, sebuah kampus online yang siswanya mencapai 600 ribu dari seluruh dunia, Deddi ingin berbagi kunci agar pendidik di Lamongan sukses mendidik siswanya di era baru saat ini.

Dia mengilustrasikan pertemuannya dengan seorang guru dari Turki yang membawa catatan nama-nama siswanya dan disebut dalam setiap doanya setiap setelah salat. Dia menyampaikan pesan, bahwa seorang guru kalau ingin siswanya sukses harus mendoakan siswanya.

Bahkan Ustad Yusuf Mansur, kolega Deddi dalam mendirikan Wisata Hati Business School mengatakan, rugi kalau seorang guru sebelum dan sesudah mengajar tidak berdoa. Mengapa? Karena doa sebelum belajar agar murid diberi kemudahan dan pemahaman. Dan doa setelah belajar merupakan mengungkapkan puji syukur kehadirat Allah SWT sekaligus memohon keberkahan atas segala aktivitas belajar oleh guru maupun peserta didik, serta memohon dianugerahi oleh Allah SWT pemahaman pada semua pelajaran yang telah diterima siswa-siswi dari pagi hingga siang hari (waktu menjelang pulang sekolah).

Deddi juga meminta guru atau pendidik harus bisa tersenyum. Apa pun masalah yang dihadapi guru, ketika menghadapi murid harus tersenyum. Mengapa? Karena guru sedang berhadapan dengan mesin pembuka pintu berkah. Dia mengilustrasikan, merasa sangat senang ketika bertemu dengan murid atau anak yang tidak bisa membaca Surat Al Fatihah dengan benar. Dia akan mengajarinya. Dengan demikian setiap anak ini salat, dia akan mendapat kiriman pahala bacaan Al Fatihah itu. ’’Maka dengan mengajar sambil tersenyum, seorang guru berharap ilmunya mudah dipahami dan diamalkan. Ketika diamalkan, maka pintu berkah akan dibuka oleh Allah SWT,’’ tuturnya. 

Baca Juga :  Banyak Penyedotan Air Bengawan Tak Berizin

Deddi menambahkan, guru itu mengajar 30 persen materi keilmuan dan 70 persen materi karakter atau akhlak. Mengajar karakter harus dengan pendekatan hati ke hati. Ia menggambarkan bagaimana Pelatih Sepak Bola Indra Syafri sukses mengelola para pemainnya. Disuruh lari 2 jam mau. Disuruh habis-habisan di lapangan, seluruh  pemain timnas U-16 akan menuruti. ’’Itu ternyata kuncinya mengajar dengan teladan dan dengan sentuhan hati,’’ ungkapnya.

Acara selama 2 jam di SMPN 1 Kalitengah itu berjalan sukses dan gayeng, karena materinya cukup aktual dan mengena di hati para guru, ditambah tanya jawab dan testimoni dari para guru.

Kepala SMPN 1 Kalitengah Sukahar mengucapkan terima kasih atas motivasi yang sangat bermanfaat dan mengena di hati para guru tersebut. ’’Tanpa doa dan sentuhan hati, sangat sulit siswa menerima ilmu dari guru,’’ tukasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/