alexametrics
27.2 C
Bojonegoro
Tuesday, May 24, 2022

Belum Teliti Bacaleg Hubungan Keluarga

BOJONEGORO – Semua partai politik (parpol) telah mendaftarkan bakal calon legislatif (bacaleg) ke Komisi Pemilihan Umum Kabupaten (KPUK) Bojonegoro. Namun, disinyalir terdapat bacaleg ada hubungan keluarga. Entah bacaleg sesama parpol atau beda partai. Fenomena ini menandakan kaderisasi parpol ke publik belum maksimal. Chusnul Chotimmah pemerhati politik sekaligus aktivis Literasi Bojonegoro mengatakan, adanya anggota keluarga ikut daftar bacaleg bersama, terlepas partai berbeda atau tidak, membuktikan jika rekrutmen parpol sporadis dan tidak sistematis.

Bahkan terkesan tidak terbuka untuk masyarakat luas. “Ini kan bukti kalau rekrutmen parpol tidak terbuka luas bagi masyarakat, terkesan tertutup,” katanya kamis (19/7). Dari dulu hingga sekarang, kata Chusnul, perekrutan parpol kerap mendadak di waktu-waktu pendaftaran saja. Sampai di situ, tentu ada fungsi parpol tidak bekerja dengan baik. Yakni, fungsi kaderisasi.

Baca Juga :  Raih Juara 2 LKS Bidang CNC Milling

Sehingga, menurut Chusnul, pendaftar hanya orang-orang memiliki modal saja. Itu juga membuktikan jika parpol tidak memberikan pendidikan politik terhadap kader atau bahkan calonnya. “Bahkan mungkin tidak ada kaderisasi. Karena yang diusung juga mereka yang punya modal,” kata alumnus fakultas ilmu politik dan sosial Universitas Airlangga Surabaya tersebut.

Terlepas dari calon berhubungan keluarga atau tidak, menurut dia, yang patut dijadikan fokus adalah hilangnya fungsi parpol. Sampai saat ini parpol hanya berfungsi sebagai kendaraan politik, tanpa menyertakan pendidikan politik. Sehingga, itu berdampak pada kompetensi masing-masing calon yang diusung. “Kalau cara dapatnya dadakan, tentu kompetensinya juga asal-asalan,” ucapnya.

Menurut Chusnul, gagalnya pengkaderan bisa berpengaruh. Sebab, mereka yang sama sekali tidak pernah menyentuh lahan pertanian, pada akhirnya mengambil kebijakan soal subsidi pupuk. Ketika parlemen terdiri hampir 80 persen laki-laki, tentu berpengaruh keputusan terkait kebijakan menyangkut perempuan. “Seharusnya fungsi kaderisasi mulai dihidupkan agar yang daftar caleg tidak hanya anggota keluarga sendiri,” imbuh dia.

Baca Juga :  Dinilai Lambat Input Sistem Hitung

Ketua KPUK Bojonegoro Abdim Munip mengatakan, tidak menelaah ada tidaknya bacaleg memiliki hubungan keluarga. Sebab, sampai saat ini masih proses pelengkapan syarat administrasi. Kalaupun ada, pihaknya tidak memeriksa perihal tersebut. “Kami tidak memeriksa hal itu,” katanya. Sesuai prosedur, pihaknya hanya melaksanakan sesuai ketentuan dipersyaratkan dalam Peraturan KPU Nomor 20/2018. Karena tidak ada larangan dalam peraturan tersebut, jika ada anggota keluarga ikut daftar caleg pun tidak masalah.

BOJONEGORO – Semua partai politik (parpol) telah mendaftarkan bakal calon legislatif (bacaleg) ke Komisi Pemilihan Umum Kabupaten (KPUK) Bojonegoro. Namun, disinyalir terdapat bacaleg ada hubungan keluarga. Entah bacaleg sesama parpol atau beda partai. Fenomena ini menandakan kaderisasi parpol ke publik belum maksimal. Chusnul Chotimmah pemerhati politik sekaligus aktivis Literasi Bojonegoro mengatakan, adanya anggota keluarga ikut daftar bacaleg bersama, terlepas partai berbeda atau tidak, membuktikan jika rekrutmen parpol sporadis dan tidak sistematis.

Bahkan terkesan tidak terbuka untuk masyarakat luas. “Ini kan bukti kalau rekrutmen parpol tidak terbuka luas bagi masyarakat, terkesan tertutup,” katanya kamis (19/7). Dari dulu hingga sekarang, kata Chusnul, perekrutan parpol kerap mendadak di waktu-waktu pendaftaran saja. Sampai di situ, tentu ada fungsi parpol tidak bekerja dengan baik. Yakni, fungsi kaderisasi.

Baca Juga :  Dapil I Berpotensi Wajah Baru

Sehingga, menurut Chusnul, pendaftar hanya orang-orang memiliki modal saja. Itu juga membuktikan jika parpol tidak memberikan pendidikan politik terhadap kader atau bahkan calonnya. “Bahkan mungkin tidak ada kaderisasi. Karena yang diusung juga mereka yang punya modal,” kata alumnus fakultas ilmu politik dan sosial Universitas Airlangga Surabaya tersebut.

Terlepas dari calon berhubungan keluarga atau tidak, menurut dia, yang patut dijadikan fokus adalah hilangnya fungsi parpol. Sampai saat ini parpol hanya berfungsi sebagai kendaraan politik, tanpa menyertakan pendidikan politik. Sehingga, itu berdampak pada kompetensi masing-masing calon yang diusung. “Kalau cara dapatnya dadakan, tentu kompetensinya juga asal-asalan,” ucapnya.

Menurut Chusnul, gagalnya pengkaderan bisa berpengaruh. Sebab, mereka yang sama sekali tidak pernah menyentuh lahan pertanian, pada akhirnya mengambil kebijakan soal subsidi pupuk. Ketika parlemen terdiri hampir 80 persen laki-laki, tentu berpengaruh keputusan terkait kebijakan menyangkut perempuan. “Seharusnya fungsi kaderisasi mulai dihidupkan agar yang daftar caleg tidak hanya anggota keluarga sendiri,” imbuh dia.

Baca Juga :  Caleg PKS Harus Siap Mundur dan DigantiĀ 

Ketua KPUK Bojonegoro Abdim Munip mengatakan, tidak menelaah ada tidaknya bacaleg memiliki hubungan keluarga. Sebab, sampai saat ini masih proses pelengkapan syarat administrasi. Kalaupun ada, pihaknya tidak memeriksa perihal tersebut. “Kami tidak memeriksa hal itu,” katanya. Sesuai prosedur, pihaknya hanya melaksanakan sesuai ketentuan dipersyaratkan dalam Peraturan KPU Nomor 20/2018. Karena tidak ada larangan dalam peraturan tersebut, jika ada anggota keluarga ikut daftar caleg pun tidak masalah.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/