alexametrics
25.5 C
Bojonegoro
Monday, May 23, 2022

Persaingan dan Zonasi Jadi Penyebab

BOJONEGORO– Penerimaan peserta didik baru (PPDB) sudah berlalu tapi sejumlah sekolah negeri justru mengalami kekurangan siswa. Hal itu dikarenakan berbagai faktor, mulai dari peminat sekolah negeri berkurang. Persaingan dari sekolah swasta dan pengaruh sistem zonasi. 

Ketua Dewan pendidikan Bojonegoro Sri Minarti mengungkapkan,  penerapan sistem baru pasti akan mendapat tanggapan pro kontra dari masyarakat. Sebab, sebagian orang harus mengikuti mekanisme baru dan secara keseluruhan berbeda dari sebelumnya. Namun, penerapanan sistem zonasi atau rayonisasi pada penerimaan peserta didik baru (PPDB) tidak berbeda dengan nonzonasi. Karena, dalam pelaksanaannya tetap memberlakukan irisan dan kebiasaan. ’’Seharusnya kalau benar-benar berdasarkan zonasi maka kebiasaan seperti ini harus dihilangkan,” ujarnya kemarin (19/7). 

Menurut Sri Minarti, istilah irisan masih menjadi hal biasa di lapangan. Yakni,  seorang siswa yang tinggalnya bersebelahan dengan kecamatan sebelah maka calon siswa boleh melanjutkan disekolah luar kecamatan tempat tinggalnya. Sedangkan kebiasaan, apabila alumni SD tertentu selalu dikaitkan dengan SMPN  maka siswa tersebut tetap diterima. Meski calon siswa tersebut bukan berasal dari zona wilayahnya. 

Baca Juga :  Percantik Wajah Alun - Alun Lamongan¬†

Penerapan zonasi sudah menjadi kebijakan pusat, sehingga seluruh sekolah harus siap melaksanakannya. Namun, beberapa hal perlu dipersiapkan khusus supaya dalam penerapan mekanisme baru tidak ada yang dirugikan. Apalagi sekolah negeri harus kekurangan siswa padahal sekolah tersebut menjadi prioritas dalam sistem zonasi. 

Sri Minarti menjelaskan, setiap sekolah memiliki kuota dan zona masing-masing. Sehingga, sekolah tersebut wajib melakukan koordinasi dengan pihak desa dan sekolah lainnya. Supaya calon siswa di wilayah tersebut seluruhnya bisa mendaftar di sekolah terdekat. Selain itu, apabila kuota sekolah di wilayah tersebut sudah penuh maka calon siswa harus didorong untuk mendaftar di sekolah terdekat lainnya. 

Dalam pilihan sekolah, lanjut dia beberapa orang tua memang memiliki peran. Sehingga, orang tua cenderung  menginginkan anaknya sekolah di tempat favorit. Meski keluar dari zona, biasanya mengandalkan prestasi. Hal itu mungkin saja, tapi akhirnya sekolah lain akan mengalami kekurangan siswa. 

Baca Juga :  Lahan Tebu Terus Menyusut

Terpisah, Nardi salah satu orang tua siswa, mengatakan, kekhawatirannya ketika mengantarkan anaknya untuk mengikuti PPDB online. Pasalnya, mekanisme ini baru dan akan berisiko apabila tidak diterima di sekolah tujuan. Padahal, anaknya menginginkan sekolah di luar zona wilayahnya. Sehingga, selain  persaingan semakin ketat, sekolah tidak bisa memprioritaskan calon siswa tersebut. ’’Kecuali siswa tersebut memiliki prestasi dan bisa lewat jalur khusus,” paparnya.

BOJONEGORO– Penerimaan peserta didik baru (PPDB) sudah berlalu tapi sejumlah sekolah negeri justru mengalami kekurangan siswa. Hal itu dikarenakan berbagai faktor, mulai dari peminat sekolah negeri berkurang. Persaingan dari sekolah swasta dan pengaruh sistem zonasi. 

Ketua Dewan pendidikan Bojonegoro Sri Minarti mengungkapkan,  penerapan sistem baru pasti akan mendapat tanggapan pro kontra dari masyarakat. Sebab, sebagian orang harus mengikuti mekanisme baru dan secara keseluruhan berbeda dari sebelumnya. Namun, penerapanan sistem zonasi atau rayonisasi pada penerimaan peserta didik baru (PPDB) tidak berbeda dengan nonzonasi. Karena, dalam pelaksanaannya tetap memberlakukan irisan dan kebiasaan. ’’Seharusnya kalau benar-benar berdasarkan zonasi maka kebiasaan seperti ini harus dihilangkan,” ujarnya kemarin (19/7). 

Menurut Sri Minarti, istilah irisan masih menjadi hal biasa di lapangan. Yakni,  seorang siswa yang tinggalnya bersebelahan dengan kecamatan sebelah maka calon siswa boleh melanjutkan disekolah luar kecamatan tempat tinggalnya. Sedangkan kebiasaan, apabila alumni SD tertentu selalu dikaitkan dengan SMPN  maka siswa tersebut tetap diterima. Meski calon siswa tersebut bukan berasal dari zona wilayahnya. 

Baca Juga :  Sehari Maksimal Tiga Kali Transaksi

Penerapan zonasi sudah menjadi kebijakan pusat, sehingga seluruh sekolah harus siap melaksanakannya. Namun, beberapa hal perlu dipersiapkan khusus supaya dalam penerapan mekanisme baru tidak ada yang dirugikan. Apalagi sekolah negeri harus kekurangan siswa padahal sekolah tersebut menjadi prioritas dalam sistem zonasi. 

Sri Minarti menjelaskan, setiap sekolah memiliki kuota dan zona masing-masing. Sehingga, sekolah tersebut wajib melakukan koordinasi dengan pihak desa dan sekolah lainnya. Supaya calon siswa di wilayah tersebut seluruhnya bisa mendaftar di sekolah terdekat. Selain itu, apabila kuota sekolah di wilayah tersebut sudah penuh maka calon siswa harus didorong untuk mendaftar di sekolah terdekat lainnya. 

Dalam pilihan sekolah, lanjut dia beberapa orang tua memang memiliki peran. Sehingga, orang tua cenderung  menginginkan anaknya sekolah di tempat favorit. Meski keluar dari zona, biasanya mengandalkan prestasi. Hal itu mungkin saja, tapi akhirnya sekolah lain akan mengalami kekurangan siswa. 

Baca Juga :  Lahan Tebu Terus Menyusut

Terpisah, Nardi salah satu orang tua siswa, mengatakan, kekhawatirannya ketika mengantarkan anaknya untuk mengikuti PPDB online. Pasalnya, mekanisme ini baru dan akan berisiko apabila tidak diterima di sekolah tujuan. Padahal, anaknya menginginkan sekolah di luar zona wilayahnya. Sehingga, selain  persaingan semakin ketat, sekolah tidak bisa memprioritaskan calon siswa tersebut. ’’Kecuali siswa tersebut memiliki prestasi dan bisa lewat jalur khusus,” paparnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/