alexametrics
28.9 C
Bojonegoro
Saturday, May 21, 2022

Berani Pilih Satu Sekolah Saja

KOTA – Sistem zonasi yang diterapkan dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB) SMAN menguntungkan mereka yang dekat dengan sekolah negeri. Bahkan, sebagian di antara mereka cukup yakin dengan satu pilihan. Meskipun, panitia PPDB menyiapkan dua pilihan dalam pendaftaran yang menggunakan personal identification numbers (PIN) tersebut.

Citra Tri Walidini, lulusan dari SMPN 3 Lamongan ini misalnya. Dia hanya memilih satu lembaga, SMAN 1 Lamongan. Citra cukup optimistis karena radius jarak rumahnya 100 meter dari sekolah. Meskipun nilai unas dia  tidak tembus 300, yakni 249,5.

Menurut Citra, seluruh saudaranya sebelumnya juga sekolah di SMAN 1 Lamongan. Nur Aisyah, peserta PPDB lainnya, juga merasa diuntungkan dengan zona. Alumni SMPN 2 Lamongan ini hanya memilih SMAN 2 Lamongan sebagai satu-satunya pilihan. Jarak antara rumah dan sekolah hanya 375 meter. Sedangkan nilai unasnya 287,5. Dia cukup yakin bisa mengikuti pembelajaran di SMAN 2 Lamongan. Sekolah tersebut menjadi impiannya sejak lama.

Gading, peserta PPDB lainnya, juga memilih satu lembaga. Radius jaraknya 1.159 meter dari SMAN 1 Lamongan, sekolah pilihannya. Saat ini posisinya masih peringkat 10 besar, dengan nilai unas 299.

Namun, tidak semua calon siswa yang rumahnya dengan SMAN berspekulasi dengan hanya satu pilihan. Mereka yang memiliki nilai unas tidak terlalu bagus memilih dua sekolah.

Baca Juga :  Produksi Pertanian Turun 120 Ribu Ton

Shefina Hidayatul misalnya yang nilai unasnya 192,5, namun tempat tinggalnya cukup strategis, Kelurahan Banjarmendalan. Wilayah itu dekat dengan SMAN 2 Lamongan dan SMAN 1 Lamongan. Dia memilih SMAN 2 sebagai pilihan pertama (550 meter) dan SMAN 1 (469 meter) pilihan kedua. “Saya optimistis saja, berusaha dan berdo’a karena sudah memilih dua lembaga,” terangnya.

Seorang petugas IT ITS yang enggan disebutkan namanya, mengatakan, banyak orang tua tidak mengetahui sistem zonasi tahun  ini.

Dia mencontohkan, kasus calon peserta yang memilih satu lembaga. Tujuannya agar lembaga memertimbangkan peserta tersebut karena menjadikannya sebagai lembaga prioritas.

Padahal kasus PPDB jenjang SMA/SMK tidak sama dengan perguruan tinggi. Jika dalam SNMPTN, maka perguruan tinggi akan melihat minat berdasarkan pilihan siswa. Sementara PPDB, sistem akan menilai berdasarkan tiga pertimbangan.

Yakni, jarak, nilai ujian nasional (unas), dan waktu pendaftaran. “Kemudian muncul pemeringkatan yang bisa diakses secara online tersebut,” jelasnya.

Menurut dia, mereka yang memilih satu lembaga saja tidak semuanya beruntung. Mereka yang rumahnya dengan sekolah pilihan namun nilai unas tidak terlalu bagus, maka tetap ada pertimbangan. Sebab, ada kans 20 persen untuk nilai unas. Sehingga mereka tetap akan bersaing dengan pendaftar lain. Karena itu, mereka tetap harus memperhatikan pemeringkatan dari jarak terdekat dan terjauh secara online.

Baca Juga :  Komunitas Kolektor Robot Mainan Gundam di Lamongan

Dia mengaku menemukan ada kasus calon peserta hanya memilih satu lembaga. Ternyata mereka tersingkir. Petugas tidak bisa membantu karena tidak ada pilihan kedua.

Kasus lain, lanjut dia, terkait penggunaan PIN. Meski pengambilan PIN diberikan tenggat waktu lebih lama, banyak peserta yang tidak mengecek ulang. Titik koordinat yang sudah disepakati sudah sesuai tidak dengan tempat tinggalnya, tidak dicek lagi. Padahal, PIN hanya bisa digunakan satu kali.

Kasus yang ada, tutur petugas tadi, mereka mendaftar lebih awal, ternyata titik koordinat yang ditandai tidak menguntungkan. Jaraknya ternyata lebih jauh. Saat pendaftar sudah melakukan log in PPDB online, maka petugas tidak bisa menganulir. Sebab, pendaftaran tidak bisa dicabut. “Meski sudah lapor, kebijakan langsung pada Dinas Pendidikan Provinsi Jatim,” tuturnya.

Menurut dia, petugas hanya mengelola sistem dan menampung keluhan. Sementara perhitungan jaraknya, sesuai latitude dan longitude. Penentuan titik koordinat menjadi penentu jarak rumah calon peserta. Setelah mengetahui titik koordinat, maka sistem akan menarik lurus antara jarak rumah siswa ke sekolah yang dipilih. Kemudian muncul berapa radius jaraknya dan kesempatan bagi calon peserta tersebut untuk menerapkan zonasi. Apakah aplikasinya berbeda dengan google map? Dia mengatakan tidak jauh berbeda. Selisih juga tidak banyak. Kalau map pertimbangannya jarak yang dilewati, bisa lebih jauh dan dekat. Sementara aplikasi ini seluruhnya ditarik lurus.

KOTA – Sistem zonasi yang diterapkan dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB) SMAN menguntungkan mereka yang dekat dengan sekolah negeri. Bahkan, sebagian di antara mereka cukup yakin dengan satu pilihan. Meskipun, panitia PPDB menyiapkan dua pilihan dalam pendaftaran yang menggunakan personal identification numbers (PIN) tersebut.

Citra Tri Walidini, lulusan dari SMPN 3 Lamongan ini misalnya. Dia hanya memilih satu lembaga, SMAN 1 Lamongan. Citra cukup optimistis karena radius jarak rumahnya 100 meter dari sekolah. Meskipun nilai unas dia  tidak tembus 300, yakni 249,5.

Menurut Citra, seluruh saudaranya sebelumnya juga sekolah di SMAN 1 Lamongan. Nur Aisyah, peserta PPDB lainnya, juga merasa diuntungkan dengan zona. Alumni SMPN 2 Lamongan ini hanya memilih SMAN 2 Lamongan sebagai satu-satunya pilihan. Jarak antara rumah dan sekolah hanya 375 meter. Sedangkan nilai unasnya 287,5. Dia cukup yakin bisa mengikuti pembelajaran di SMAN 2 Lamongan. Sekolah tersebut menjadi impiannya sejak lama.

Gading, peserta PPDB lainnya, juga memilih satu lembaga. Radius jaraknya 1.159 meter dari SMAN 1 Lamongan, sekolah pilihannya. Saat ini posisinya masih peringkat 10 besar, dengan nilai unas 299.

Namun, tidak semua calon siswa yang rumahnya dengan SMAN berspekulasi dengan hanya satu pilihan. Mereka yang memiliki nilai unas tidak terlalu bagus memilih dua sekolah.

Baca Juga :  Konsisten Tingkatkan SDM Guru dan Tenaga Kependidikan

Shefina Hidayatul misalnya yang nilai unasnya 192,5, namun tempat tinggalnya cukup strategis, Kelurahan Banjarmendalan. Wilayah itu dekat dengan SMAN 2 Lamongan dan SMAN 1 Lamongan. Dia memilih SMAN 2 sebagai pilihan pertama (550 meter) dan SMAN 1 (469 meter) pilihan kedua. “Saya optimistis saja, berusaha dan berdo’a karena sudah memilih dua lembaga,” terangnya.

Seorang petugas IT ITS yang enggan disebutkan namanya, mengatakan, banyak orang tua tidak mengetahui sistem zonasi tahun  ini.

Dia mencontohkan, kasus calon peserta yang memilih satu lembaga. Tujuannya agar lembaga memertimbangkan peserta tersebut karena menjadikannya sebagai lembaga prioritas.

Padahal kasus PPDB jenjang SMA/SMK tidak sama dengan perguruan tinggi. Jika dalam SNMPTN, maka perguruan tinggi akan melihat minat berdasarkan pilihan siswa. Sementara PPDB, sistem akan menilai berdasarkan tiga pertimbangan.

Yakni, jarak, nilai ujian nasional (unas), dan waktu pendaftaran. “Kemudian muncul pemeringkatan yang bisa diakses secara online tersebut,” jelasnya.

Menurut dia, mereka yang memilih satu lembaga saja tidak semuanya beruntung. Mereka yang rumahnya dengan sekolah pilihan namun nilai unas tidak terlalu bagus, maka tetap ada pertimbangan. Sebab, ada kans 20 persen untuk nilai unas. Sehingga mereka tetap akan bersaing dengan pendaftar lain. Karena itu, mereka tetap harus memperhatikan pemeringkatan dari jarak terdekat dan terjauh secara online.

Baca Juga :  Jaring 17 Pelanggar Operasi Prokes di Masa PPKM

Dia mengaku menemukan ada kasus calon peserta hanya memilih satu lembaga. Ternyata mereka tersingkir. Petugas tidak bisa membantu karena tidak ada pilihan kedua.

Kasus lain, lanjut dia, terkait penggunaan PIN. Meski pengambilan PIN diberikan tenggat waktu lebih lama, banyak peserta yang tidak mengecek ulang. Titik koordinat yang sudah disepakati sudah sesuai tidak dengan tempat tinggalnya, tidak dicek lagi. Padahal, PIN hanya bisa digunakan satu kali.

Kasus yang ada, tutur petugas tadi, mereka mendaftar lebih awal, ternyata titik koordinat yang ditandai tidak menguntungkan. Jaraknya ternyata lebih jauh. Saat pendaftar sudah melakukan log in PPDB online, maka petugas tidak bisa menganulir. Sebab, pendaftaran tidak bisa dicabut. “Meski sudah lapor, kebijakan langsung pada Dinas Pendidikan Provinsi Jatim,” tuturnya.

Menurut dia, petugas hanya mengelola sistem dan menampung keluhan. Sementara perhitungan jaraknya, sesuai latitude dan longitude. Penentuan titik koordinat menjadi penentu jarak rumah calon peserta. Setelah mengetahui titik koordinat, maka sistem akan menarik lurus antara jarak rumah siswa ke sekolah yang dipilih. Kemudian muncul berapa radius jaraknya dan kesempatan bagi calon peserta tersebut untuk menerapkan zonasi. Apakah aplikasinya berbeda dengan google map? Dia mengatakan tidak jauh berbeda. Selisih juga tidak banyak. Kalau map pertimbangannya jarak yang dilewati, bisa lebih jauh dan dekat. Sementara aplikasi ini seluruhnya ditarik lurus.

Artikel Terkait

Most Read

Belum Ada Kejelasan

Artikel Terbaru


/