alexametrics
24.9 C
Bojonegoro
Monday, May 23, 2022

Menilik Kerajinan Tas Karung Goni Lamongan

Radar Lamongan – Kain goni saat ini diminati untuk bahan baku barang-barang fashion. Perajin tas pun ada yang mengikuti tren tersebut. ‘’Dulu sudah pernah produksi tas dari bahan enceng gondok, batok kelapa, dan anyaman pandan. Terus kita coba bikin bahan yang lagi booming saja, yaitu karung goni. Soalnya di Lamongan saya rasa belum ada,’’ ujar Indah, 56, salah satu perajin tas di Lamongan kepada Jawa Pos Radar Lamongan.

Indah tidak kesulitan mendapatkan bahan baku kain goni. Bersama putrinya Retno Qoimatun Niken, 29, dia membeli kain goni dari pabriknya di Surabaya. Satu gulung kain goni dihargai Rp 1,5 juta. ‘’Kain goni juga macam-macam jenisnya. Ada yang teksturnya halus dan kasar. Kalau pembeli memang lebih suka yang bahannya halus. “Kita juga pakai bahan tali goni yang dianyam untuk jadi tas,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Belajar Dulu ke Surabaya

Proses pembuatan tas goni tidak berbeda dengan tas-tas lainnya. Jika ingin warnanya terlihat lebih cerah, maka kain goni harus direndam terlebih dulu dalam larutan kaporit selama tiga hingga empat jam. Kain goni lantas dipotong-potong sesuai pola dan desain yang diinginkan.

‘’Setelah dipotong nggak langsung dijahit. Misalnya pingin dikasih hiasan sulam pita, ya disulam dulu di lembaran kain yang dipotong-potong tadi. Dikasih hiasan dari batok kelapa atau dikombinasikan dengan bahan kulit dan kain batik juga bisa,’’ paparnya.

Indah menambahkan, cara merawat karung goni terbilang mudah. ‘’Kalau ada yang kotor cukup dibersihkan di bagian yang kotor saja. Nggak perlu dicuci semuanya. Lalu dijemur dan diangin-anginkan. Kain goni ini kan bahannya kuat,’’ imbuhnya.

Baca Juga :  Tiga Kantor OPD Diobok-obok Maling

Meski masa pandemi, Indah mencoba bertahan. ‘’Sejak ada pandemi Covid-19 produk kami belum pernah ke mana-mana. Kemarin sempat diminta Dinas Koperasi dan UMKM Lamongan untuk kirim contoh produknya. Terus teman-teman juga ada yang bawa tas ini untuk dijual di stan pamerannya sendiri,’’ tutur Retno yang bertugas memasarkan produk tas goni tersebut.

‘’Sebelumnya waktu masih produksi tas enceng gondok dan anyaman pandan dipasarkan ke lokasi-lokasi wisata seperti di Jogja. Sementara melanjutkan usaha ini dulu dan ikut pameran pameran,’’ kata Indah.

Radar Lamongan – Kain goni saat ini diminati untuk bahan baku barang-barang fashion. Perajin tas pun ada yang mengikuti tren tersebut. ‘’Dulu sudah pernah produksi tas dari bahan enceng gondok, batok kelapa, dan anyaman pandan. Terus kita coba bikin bahan yang lagi booming saja, yaitu karung goni. Soalnya di Lamongan saya rasa belum ada,’’ ujar Indah, 56, salah satu perajin tas di Lamongan kepada Jawa Pos Radar Lamongan.

Indah tidak kesulitan mendapatkan bahan baku kain goni. Bersama putrinya Retno Qoimatun Niken, 29, dia membeli kain goni dari pabriknya di Surabaya. Satu gulung kain goni dihargai Rp 1,5 juta. ‘’Kain goni juga macam-macam jenisnya. Ada yang teksturnya halus dan kasar. Kalau pembeli memang lebih suka yang bahannya halus. “Kita juga pakai bahan tali goni yang dianyam untuk jadi tas,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Kaget Hasil Survei Terdapat Anak-Anak Tak Suka Sayuran

Proses pembuatan tas goni tidak berbeda dengan tas-tas lainnya. Jika ingin warnanya terlihat lebih cerah, maka kain goni harus direndam terlebih dulu dalam larutan kaporit selama tiga hingga empat jam. Kain goni lantas dipotong-potong sesuai pola dan desain yang diinginkan.

‘’Setelah dipotong nggak langsung dijahit. Misalnya pingin dikasih hiasan sulam pita, ya disulam dulu di lembaran kain yang dipotong-potong tadi. Dikasih hiasan dari batok kelapa atau dikombinasikan dengan bahan kulit dan kain batik juga bisa,’’ paparnya.

Indah menambahkan, cara merawat karung goni terbilang mudah. ‘’Kalau ada yang kotor cukup dibersihkan di bagian yang kotor saja. Nggak perlu dicuci semuanya. Lalu dijemur dan diangin-anginkan. Kain goni ini kan bahannya kuat,’’ imbuhnya.

Baca Juga :  Belajar Dulu ke Surabaya

Meski masa pandemi, Indah mencoba bertahan. ‘’Sejak ada pandemi Covid-19 produk kami belum pernah ke mana-mana. Kemarin sempat diminta Dinas Koperasi dan UMKM Lamongan untuk kirim contoh produknya. Terus teman-teman juga ada yang bawa tas ini untuk dijual di stan pamerannya sendiri,’’ tutur Retno yang bertugas memasarkan produk tas goni tersebut.

‘’Sebelumnya waktu masih produksi tas enceng gondok dan anyaman pandan dipasarkan ke lokasi-lokasi wisata seperti di Jogja. Sementara melanjutkan usaha ini dulu dan ikut pameran pameran,’’ kata Indah.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Dari Dangdut ke Salawat

Mampu Berbuah Lebih Cepat

Anak Desa Harus Semangat Kuliah


/