alexametrics
23.7 C
Bojonegoro
Wednesday, May 25, 2022

Masih Berharap Proyek JTB

COVER STORY – Meski sudah tidak terlalu berkontribusi pada jumlah tenaga kerja, masih banyak masyarakat ingin kembali bekerja di bidang migas. Andri, salah seorang pemuda pernah bekerja sebagai buruh kasar di lapangan Banyu Urip mengatakan, dirinya masih sangat berharap ada pembangunan di bidang proyek migas. Dengan adanya proyek pembangunan, dia bisa bekerja. Setidaknya, bekerja di dalam kota. “Tentu masih berharap ada proyek berbasis migas lagi, sehingga bisa dengan mudah mendapat pekerjaan,” kata dia. 

Disinggung terkait sudah selesainya masa pembangunan infrastruktur dan kini hanya membutuhkan pekerja memiliki skill untuk dipekerjakan di bidang produksi, pemuda lulusan SMA itu mengiyakan. Namun, dia masih tetap berharap mendapat pekerjaan berbasis migas. Hanya sedikit bergeser. Jika sebelumnya minyak, kini gas. Yakni Jambaran Tiung Biru (JTB). 

“Selain bergaji besar, juga dekat dengan rumah. Jadi kami sangat berharap bisa bekerja di bidang perminyakan,” tutur pemuda yang sekarang masih menganggur tersebut.  Lain Andri, lain Sofyan, pemuda lainnya. Jika Andri hanya berharap dirinya kelak bisa bekerja di JTB. Sofyan lebih progresif.

Dia sudah berulangkali mencari informasi perihal dibukanya lowongan pekerjaan di bidang gas alam tersebut. Sofyan juga pernah bekerja sebagai buruh kasar di proyek pembangunan lapangan Banyu Urip. Karena itu, kini dia berharap bisa bekerja pada pembangunan infrastruktur JTB. 

Baca Juga :  Paslon Dituntut Bersih Politik Uang

“Saya sangat berharap bisa bekerja di JTB.  Makanya sekarang sedang mencari informasi,” tutur dia. Hanya, Sofyan mengaku, sampai saat ini dirinya belum mendapat informasi apapun perihal informasi lowongan kerja di JTB. Dia hanya tahu jika beberapa tahun mendatang bakal ada proyek berskala besar dan membutuhkan banyak pekerja.

Karena itu, dia terus mencari informasi agar bisa berkesempatan untuk bekerja di tempat tersebut. 

Pasca berakhirnya pembangunan infrastruktur di lapangan Banyu Urip, berdampak secara langsung pada jumlah  pengangguran. Data disnaker, ada sebanyak 23.260 penganggur di Bojonegoro pada 2017 lalu. Jumlah itu fluktuatif. Sebab, pada 2016 sebesar 23.320 dan pada 2015 sebesar 20.238. 

Diakui atau tidak, berhentinya proyek pembangunan lapangan Banyu Urip memang menjadi pukulan bagi sejumlah pekerja. Banyak yang kehilangan pekerjaan. Seolah memanfaatkan momentum, berkurangnya kontribusi migas pada tenaga kerja Bojonegoro dimanfaatkan pemkab untuk mengubah arah ekonomi.

Dari sebelumnya berbasis migas, kini berbasis ekonomi kreatif. Ada upaya dari pemerintah untuk menjadikan para pencari kerja bisa move on dari migas. Kepala Bagian Perekonomian Pemkab Bojonegoro Rahmat Junaidi mengatakan, pertumbuhan ekonomi nonmigas pada 2017 meningkat. Dari 5,59 persen pada 2016 menjadi di atas 6 persen. 

Menurut dia, itu menunjukkan jika banyak kegiatan nonmigas yang bisa menghasilkan produk ekonomi. Dia mengklaim, sejumlah sektor meliputi pertanian, perdagangan, jasa, dan industri kreatif mulai bergerak menuju arah lebih baik. “Terutama industri kreatif, saat ini mulai berperan positif bagi peningkatan ekonomi,” kata dia. 

Baca Juga :  Suami-Istri Siap Rebut Kursi Dprd Tuban

Dia tidak memungkiri jika memang masih banyak masyarakat terikat pada industri migas. Sebab, gaji ditawarkan sangat besar. Namun, sifatnya yang tidak pasti sudah seharusnya pelan-pelan mulai ditinggalkan. Setidaknya mulai digeser pada bidang usaha lain. Seperti, industri kreatif. Sebab, menurut dia, industri kreatif lebih memberi kepastian pendapatan, jika dikelola dengan baik. 

“Memang sebaiknya berfokus pada industri nonmigas,” kata dia. PGA & Relation Manager Pertamina EP Cepu (PEPC) Kunadi dikonfirmasi mengatakan, terkait penyerapan tenaga kerja akan melalui prosedur resmi bekerja sama dengan Pemkab Bojonegoro tanpa puntutan biaya. Proyek lapangan gas JTB, diperkirakan mampu menyerap sebanyak 6 ribu calon tenaga kerja.

  “Perkiraannya mencapai 6 ribu tenaga kerja,” kata dia.  Produksi gas lapangan JTB diprediksi mencapai 315 million standard cubic feet per day (MMSCFD). Yakni,  172 MMSCFD atau sekitar 54 persen dari total, telah diperjualbelikan kepada PLN untuk kepentingan pengadaan listrik.

Hanya, dari jumlah pengangguran sebanyak 23 ribu orang pada 2017, JTB hanya memberikan kontribusi 6 ribu orang saja.

COVER STORY – Meski sudah tidak terlalu berkontribusi pada jumlah tenaga kerja, masih banyak masyarakat ingin kembali bekerja di bidang migas. Andri, salah seorang pemuda pernah bekerja sebagai buruh kasar di lapangan Banyu Urip mengatakan, dirinya masih sangat berharap ada pembangunan di bidang proyek migas. Dengan adanya proyek pembangunan, dia bisa bekerja. Setidaknya, bekerja di dalam kota. “Tentu masih berharap ada proyek berbasis migas lagi, sehingga bisa dengan mudah mendapat pekerjaan,” kata dia. 

Disinggung terkait sudah selesainya masa pembangunan infrastruktur dan kini hanya membutuhkan pekerja memiliki skill untuk dipekerjakan di bidang produksi, pemuda lulusan SMA itu mengiyakan. Namun, dia masih tetap berharap mendapat pekerjaan berbasis migas. Hanya sedikit bergeser. Jika sebelumnya minyak, kini gas. Yakni Jambaran Tiung Biru (JTB). 

“Selain bergaji besar, juga dekat dengan rumah. Jadi kami sangat berharap bisa bekerja di bidang perminyakan,” tutur pemuda yang sekarang masih menganggur tersebut.  Lain Andri, lain Sofyan, pemuda lainnya. Jika Andri hanya berharap dirinya kelak bisa bekerja di JTB. Sofyan lebih progresif.

Dia sudah berulangkali mencari informasi perihal dibukanya lowongan pekerjaan di bidang gas alam tersebut. Sofyan juga pernah bekerja sebagai buruh kasar di proyek pembangunan lapangan Banyu Urip. Karena itu, kini dia berharap bisa bekerja pada pembangunan infrastruktur JTB. 

Baca Juga :  Persaingan Ketat Menggaet Mahasiswa Baru

“Saya sangat berharap bisa bekerja di JTB.  Makanya sekarang sedang mencari informasi,” tutur dia. Hanya, Sofyan mengaku, sampai saat ini dirinya belum mendapat informasi apapun perihal informasi lowongan kerja di JTB. Dia hanya tahu jika beberapa tahun mendatang bakal ada proyek berskala besar dan membutuhkan banyak pekerja.

Karena itu, dia terus mencari informasi agar bisa berkesempatan untuk bekerja di tempat tersebut. 

Pasca berakhirnya pembangunan infrastruktur di lapangan Banyu Urip, berdampak secara langsung pada jumlah  pengangguran. Data disnaker, ada sebanyak 23.260 penganggur di Bojonegoro pada 2017 lalu. Jumlah itu fluktuatif. Sebab, pada 2016 sebesar 23.320 dan pada 2015 sebesar 20.238. 

Diakui atau tidak, berhentinya proyek pembangunan lapangan Banyu Urip memang menjadi pukulan bagi sejumlah pekerja. Banyak yang kehilangan pekerjaan. Seolah memanfaatkan momentum, berkurangnya kontribusi migas pada tenaga kerja Bojonegoro dimanfaatkan pemkab untuk mengubah arah ekonomi.

Dari sebelumnya berbasis migas, kini berbasis ekonomi kreatif. Ada upaya dari pemerintah untuk menjadikan para pencari kerja bisa move on dari migas. Kepala Bagian Perekonomian Pemkab Bojonegoro Rahmat Junaidi mengatakan, pertumbuhan ekonomi nonmigas pada 2017 meningkat. Dari 5,59 persen pada 2016 menjadi di atas 6 persen. 

Menurut dia, itu menunjukkan jika banyak kegiatan nonmigas yang bisa menghasilkan produk ekonomi. Dia mengklaim, sejumlah sektor meliputi pertanian, perdagangan, jasa, dan industri kreatif mulai bergerak menuju arah lebih baik. “Terutama industri kreatif, saat ini mulai berperan positif bagi peningkatan ekonomi,” kata dia. 

Baca Juga :  Melihat Anak-Anak Menarik Layang-Layang Naga Sepanjang 100 Meter

Dia tidak memungkiri jika memang masih banyak masyarakat terikat pada industri migas. Sebab, gaji ditawarkan sangat besar. Namun, sifatnya yang tidak pasti sudah seharusnya pelan-pelan mulai ditinggalkan. Setidaknya mulai digeser pada bidang usaha lain. Seperti, industri kreatif. Sebab, menurut dia, industri kreatif lebih memberi kepastian pendapatan, jika dikelola dengan baik. 

“Memang sebaiknya berfokus pada industri nonmigas,” kata dia. PGA & Relation Manager Pertamina EP Cepu (PEPC) Kunadi dikonfirmasi mengatakan, terkait penyerapan tenaga kerja akan melalui prosedur resmi bekerja sama dengan Pemkab Bojonegoro tanpa puntutan biaya. Proyek lapangan gas JTB, diperkirakan mampu menyerap sebanyak 6 ribu calon tenaga kerja.

  “Perkiraannya mencapai 6 ribu tenaga kerja,” kata dia.  Produksi gas lapangan JTB diprediksi mencapai 315 million standard cubic feet per day (MMSCFD). Yakni,  172 MMSCFD atau sekitar 54 persen dari total, telah diperjualbelikan kepada PLN untuk kepentingan pengadaan listrik.

Hanya, dari jumlah pengangguran sebanyak 23 ribu orang pada 2017, JTB hanya memberikan kontribusi 6 ribu orang saja.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/