alexametrics
26.8 C
Bojonegoro
Friday, May 20, 2022

Lahan Pantura Tidak Cocok untuk Tebu

SOLOKURO – Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Lamongan belum mendapat surat terkait rencana pengembangan  agroforestry tebu di Solokuro dan sekitarnya. Pengembangan tebu tersebut direncanakan Perhutani di kawasan lahan hutan dengan menggandeng pihak ketiga. Rencana tersebut ditentang petani di Kecamatan Solokuro, Laren, dan Paciran karena dinilai akan menggusur komoditi palawija petani. ‘’Kita belum mendapat surat terkait rencana itu, ‘’ kata Kabid Perkebunan DTPHP Lamongan, Edi Agus Santoso kepada Jawa Pos Radar Lamongan senin (19/3).

Dia juga mengaku belum mengetahui pihak ketiga atau perusahaan yang akan mengelola perkebunan tebu tersebut.  ‘’Informasinya menggandeng pihak perusahaan. Tapi nama perusahaannya kami juga belum mengetahui,’’ katanya.

Baca Juga :  Nikmati Dunia Sastra, Gadis ini Sering Juarai Lomba

Menurut dia, pihaknya telah melakukan klarifikasi pada Koperasi Petani Tebu Rakyat (KPTR) Lamongan terkait rencana pembuatanagroforestry tebu tersebut. ‘’Pihak KPTR menyebut awalnya memang ada wacana seperti itu. Tapi sekarang sudah tidak ada lagi,’’ungkapnya.

Edi mengungkapkan, lahan pertanian di Solokuro, Laren, dan Paciran tidak cocok ditanami tebu. Di Paciran pernah dilakukan uji coba penanaman tebu. Namun tidak berhasil. Karena lapisan tanahnya dangkal. Sebab di bawah tanah terdapat banyak bebatuan. ‘’Kondisi tanah seperti Itu yang membuat tidak ada yang menanam tebu di wilayah pantura Lamongan,’’ terangnya.

Namun pihaknya belum mengetahui kondisi tanah di kawasan hutan Solokuro, Paciran, dan Laren. Sebab belum pernah ada uji coba menanam tebu di lahan  hutan. ‘’Kalau di lahan pertanian memang tidak cocok untuk tebu. Tapi kalau di lahan hutan kita belum tahu. Mungkin kondisinya ada perbedaan, kita juga belum tahu,’’ tukasnya.

Baca Juga :  Belajar Dulu ke Surabaya

SOLOKURO – Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Lamongan belum mendapat surat terkait rencana pengembangan  agroforestry tebu di Solokuro dan sekitarnya. Pengembangan tebu tersebut direncanakan Perhutani di kawasan lahan hutan dengan menggandeng pihak ketiga. Rencana tersebut ditentang petani di Kecamatan Solokuro, Laren, dan Paciran karena dinilai akan menggusur komoditi palawija petani. ‘’Kita belum mendapat surat terkait rencana itu, ‘’ kata Kabid Perkebunan DTPHP Lamongan, Edi Agus Santoso kepada Jawa Pos Radar Lamongan senin (19/3).

Dia juga mengaku belum mengetahui pihak ketiga atau perusahaan yang akan mengelola perkebunan tebu tersebut.  ‘’Informasinya menggandeng pihak perusahaan. Tapi nama perusahaannya kami juga belum mengetahui,’’ katanya.

Baca Juga :  Survei SMRC, Ekonomi Rumah Tangga Lebih Baik Dibanding 2020

Menurut dia, pihaknya telah melakukan klarifikasi pada Koperasi Petani Tebu Rakyat (KPTR) Lamongan terkait rencana pembuatanagroforestry tebu tersebut. ‘’Pihak KPTR menyebut awalnya memang ada wacana seperti itu. Tapi sekarang sudah tidak ada lagi,’’ungkapnya.

Edi mengungkapkan, lahan pertanian di Solokuro, Laren, dan Paciran tidak cocok ditanami tebu. Di Paciran pernah dilakukan uji coba penanaman tebu. Namun tidak berhasil. Karena lapisan tanahnya dangkal. Sebab di bawah tanah terdapat banyak bebatuan. ‘’Kondisi tanah seperti Itu yang membuat tidak ada yang menanam tebu di wilayah pantura Lamongan,’’ terangnya.

Namun pihaknya belum mengetahui kondisi tanah di kawasan hutan Solokuro, Paciran, dan Laren. Sebab belum pernah ada uji coba menanam tebu di lahan  hutan. ‘’Kalau di lahan pertanian memang tidak cocok untuk tebu. Tapi kalau di lahan hutan kita belum tahu. Mungkin kondisinya ada perbedaan, kita juga belum tahu,’’ tukasnya.

Baca Juga :  Pernah Berbulan-bulan Hanya Makan Singkong

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/