alexametrics
23.7 C
Bojonegoro
Monday, June 27, 2022

Start-up Digital di Bojonegoro Bersaing dengan Platform Nasional

Seorang pria muda yang duduk di hadapan komputer di kantornya sedang lapar. Dia meminta tolong kawannya  untuk memesankan makanan melalui jasa aplikasi ojek online (ojol). Tak lama pesananan makanan datang. Kini, geliat bisnis start-up  digital gencar-gencarnya. Begitu juga di Bojonegoro. Meski belum terlalu menonjol. Menurut pengamatan Ketua Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (RTIK) Bojonegoro Rifaun Naim, hingga saat ini belum ada yang menonjol.

 

Rifaun, panggilan akrabnya, menjelaskan membangun start-up  digital butuh modal besar dan perjuangan untuk memasarkannya. Karena itu, dibutuhkan suntikan investasi yang besar untuk mengembangkannya. Dia menilai jasa-jasa ojol asli Bojonegoro juga masih belum bisa moncer. Selain karena banyak pesaingnya, pun juga belum memiliki platform sendiri berbentuk aplikasi.

 

“Sebut saja Wirawiri atau JOB, mereka harus bersaing dengan Gojek atau Grab, mereka pun masih bergantung dengan WhatsApp, sebab bikin aplikasi sendiri butuh modal yang besar,” ujarnya.

Baca Juga :  Asah Fisik dan MentalĀ 

 

Salah satu start-up  digital berbasis aplikasi, yakni Matoh. Tapi menurut Rifaun, daya saingnya berat. Karena aplikasi Matoh yang berupa marketplace itu harus bertarung dengan BukaLapak, Tokopedia, Shopee, atau Lazada.

 

“Iya dulu pernah ada aplikasi Matoh, tapi menurut saya berat karena konsepnya marketplace, harus cari nilai beda agar persaingan tidak terlalu berat,” katanya.

 

RTIK pun ambil peran di jalur research and development (R&D) untuk menunjang kinerja Pemkab Bojonegoro. Dia mengatakan, beberapa pengembangan dibuat oleh RTIK ialah digital library, lalu merangkul pengusaha-pengusaha desa mengenal digital marketing.

 

Arga Senta, pendiri perusahaan digital bernama aplikasi Matoh pun mengaku, memang perusahaannya itu masih tutup sementara sejak Desember 2018 lalu. Tepat setahun berdiri, Matoh akhirnya terpaksa ditutup sementara karena modal yang kembang kempis. Tetapi dia targetkan 2020, Matoh akan hadir kembali dengan konsep yang lebih matang dan mendapat investor.

Baca Juga :  Maju Mundur Serap BKD

 

“Sudah saya tutup sementara sejak Desember 2018 mas, karena memang berat merintis perusahaan digital, butuh dana yang besar, kalau soal konsep masih saya rahasiakan,” terangnya.

 

Ketika disinggung kompetitor yang banyak di Bojonegoro, Arga merasa tidak begitu terasa. Justru yang terasa ialah dana untuk promo yang harus digenjot terus-terusan agar dikenal masyarakat. Namun, ternyata dampaknya masih belum besar. Lalu, dari segi dana maintenance aplikasi, Arga mengatakan, dananya tidak terlalu besar.

 

“Uang habis buat ngasih promo ke konsumen, jadi modal harus gede lagi untuk biaya promosi yang lebih agar konsumen makin mengenal aplikasinya,” tuturnya.

Seorang pria muda yang duduk di hadapan komputer di kantornya sedang lapar. Dia meminta tolong kawannya  untuk memesankan makanan melalui jasa aplikasi ojek online (ojol). Tak lama pesananan makanan datang. Kini, geliat bisnis start-up  digital gencar-gencarnya. Begitu juga di Bojonegoro. Meski belum terlalu menonjol. Menurut pengamatan Ketua Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (RTIK) Bojonegoro Rifaun Naim, hingga saat ini belum ada yang menonjol.

 

Rifaun, panggilan akrabnya, menjelaskan membangun start-up  digital butuh modal besar dan perjuangan untuk memasarkannya. Karena itu, dibutuhkan suntikan investasi yang besar untuk mengembangkannya. Dia menilai jasa-jasa ojol asli Bojonegoro juga masih belum bisa moncer. Selain karena banyak pesaingnya, pun juga belum memiliki platform sendiri berbentuk aplikasi.

 

“Sebut saja Wirawiri atau JOB, mereka harus bersaing dengan Gojek atau Grab, mereka pun masih bergantung dengan WhatsApp, sebab bikin aplikasi sendiri butuh modal yang besar,” ujarnya.

Baca Juga :  Setiap PNS Pernah Terpapar Covid Diimbau Donorkan Plasma

 

Salah satu start-up  digital berbasis aplikasi, yakni Matoh. Tapi menurut Rifaun, daya saingnya berat. Karena aplikasi Matoh yang berupa marketplace itu harus bertarung dengan BukaLapak, Tokopedia, Shopee, atau Lazada.

 

“Iya dulu pernah ada aplikasi Matoh, tapi menurut saya berat karena konsepnya marketplace, harus cari nilai beda agar persaingan tidak terlalu berat,” katanya.

 

RTIK pun ambil peran di jalur research and development (R&D) untuk menunjang kinerja Pemkab Bojonegoro. Dia mengatakan, beberapa pengembangan dibuat oleh RTIK ialah digital library, lalu merangkul pengusaha-pengusaha desa mengenal digital marketing.

 

Arga Senta, pendiri perusahaan digital bernama aplikasi Matoh pun mengaku, memang perusahaannya itu masih tutup sementara sejak Desember 2018 lalu. Tepat setahun berdiri, Matoh akhirnya terpaksa ditutup sementara karena modal yang kembang kempis. Tetapi dia targetkan 2020, Matoh akan hadir kembali dengan konsep yang lebih matang dan mendapat investor.

Baca Juga :  Asah Fisik dan MentalĀ 

 

“Sudah saya tutup sementara sejak Desember 2018 mas, karena memang berat merintis perusahaan digital, butuh dana yang besar, kalau soal konsep masih saya rahasiakan,” terangnya.

 

Ketika disinggung kompetitor yang banyak di Bojonegoro, Arga merasa tidak begitu terasa. Justru yang terasa ialah dana untuk promo yang harus digenjot terus-terusan agar dikenal masyarakat. Namun, ternyata dampaknya masih belum besar. Lalu, dari segi dana maintenance aplikasi, Arga mengatakan, dananya tidak terlalu besar.

 

“Uang habis buat ngasih promo ke konsumen, jadi modal harus gede lagi untuk biaya promosi yang lebih agar konsumen makin mengenal aplikasinya,” tuturnya.

Artikel Terkait

Most Read

Muhajir Diperiksa Lagi

9.57 Persen Balita Lamongan Stunting

Target Tuntas sebelum Musim Hujan

Siap Membantu Menyejahterakan Petani Tuban

Artikel Terbaru


/