alexametrics
23.8 C
Bojonegoro
Friday, August 12, 2022

Tetap Harus Waspadai Orang Gila

KOTA  – Bupati Lamongan, Fadeli, meminta warga Kota Soto ini tetap waspada. Setiap ada kejadian harus ditelusuri secara detail. Termasuk, kejadian di Ponpes Karangasem Muhammadiyah Kecamatan Paciran. ‘’Pokoknya waspada, jangan mudah terprovokasi,’ pintanya.

Menurut dia, belum lama ini salah satu rumahnya juga dibobol orang. Setelah ditelusuri, ternyata pelaku yang masuk tanpa permisi itu orang gila.

Kasus yang menimpa KH. Hakam Mubarok, pengasuh pondok pesantren tersebut, lanjut dia, harus diusut tuntas aparat penegak hukum. Sebab, ada kekhawatiran di sebagian masyarakat, ada modus baru terkait aksi penganiayaan terhadap kiai.

Meskipun, sesuai pengamatannya dan sejumlah informasi yang diterimanya, tidak ada unsur penganiayaan murni.

‘’Saya tak yakin murni kejahatan kalau melihat kronologis kejadiannya,’’ kata Fadeli usai meninjau kegiatan donor darah di Alun – Alun Kota Lamongan kemarin (18/2).

Menurut dia, jika murni aksi kejahatan bermodus pelaku menyamar orang gila, maka pelaku masuk ke halaman pondok untuk mencari keberadaan sasarannya.

Sementara cerita kejadian di Ponpes Karangasem yang diperolehnya,  orang yang diduga gila itu diam di satu tempat.

Baca Juga :  Mahasiswa di Jerman Lepaskan Tembakan sebelum Bunuh Diri

Selain itu, peristiwa yang melatarbelakangi juga bermula dari tindakan kiai. Pelaku yang dianggap meresahkan lingkungan pondok karena memakai berbaju kotor dan dianggap tidak sopan, diusir kiai.

‘’Tapi tetap harus dipastikan apakah itu gila atau tidak, ini medis yang bisa memastikan,’’ ujarnya.

Dalam kasus di Ponpes Karangasem Muhammadiyah Kecamatan Paciran, Rifan Efendi, 35, pedagang pentol di sekitar masjid mengaku mengetahui kejadian tersebut. Bahkan, dia mengklaim yang melakukan penangkapan terhadap pemuda yang diduga gila tersebut. 

Rifan Efendi yang berasal dari Desa Sumurgayam Kecamatan Paciran itu mengaku melihat saat pemuda tersebut tiba – tiba berdiri. Selanjutnya, pemuda itu dua kali melakukan pemukulan kepada Kiai Hakam Mubarok, pengasuh ponpes tersebut.

Pukulan itu ditangkal Kiai Hakam menggunakan tangan. ‘’Saya lihat dua kali melakukan pemukulan, tetapi tak mengenai muka kiai, hingga menghindar jauh dari orang tersebut,’’ ujarnya. 

Namun, pemuda bersarung itu masih mengejar hingga masuk ke lorong rumah. Kiai Hakam hanya berlari tanpa berteriak meminta bantuan. Merasa keselamatan kiai terancam, Rifan bergegas mengejar pemuda tersebut. Dia melakukan penghadangan.

Baca Juga :  Enam Kades Resmi Nyaleg

Saat Kiai Hakam terjatuh karena kecapekan, dia berhasil melumpuhkan pemuda itu, sebelum mendekati kiai. 

‘’Saya yang mengkap pertama kalinya. Langsung saja memegang tangannya, dipelintir ke belakang,’’ jelasnya.

Pemuda bersarung itu sempat memberontak bahkan menendang hingga mengenai kaki kiri dan mengalami lebab. Dibantu seorang kuli bangunan, dia mengamankan pemuda tersebut.

Namun, saat hendak dilepaskan pelan – pelan, pemuda itu memberontak lagi dan melakukan perlawanan. ‘’Hampir saja lepas Mas. Kalau lepas, pastinya lebih giras,’’ ujar Rifan yang mengaku berjualan hampir dua tahun di halaman ponpes tersebut.

Karena ingin lepas, tangan pemuda itu ditarik ke belakang. Sedangkan badannya dijatuhkan ke tanah. Tangan pemuda tersebut kemudian diikat. 

‘’Sebelumnya saya tak melihat sama sekali orang tersebut di wilayah sekitaran lokasi pondok ini,’’ katanya.

Sementara itu, beberapa security di WBL mengaku pernah menemui orang tersebut di depan lokasi wisata. Kejadiannya, seminggu sebelum peristiwa di ponpes. 

KOTA  – Bupati Lamongan, Fadeli, meminta warga Kota Soto ini tetap waspada. Setiap ada kejadian harus ditelusuri secara detail. Termasuk, kejadian di Ponpes Karangasem Muhammadiyah Kecamatan Paciran. ‘’Pokoknya waspada, jangan mudah terprovokasi,’ pintanya.

Menurut dia, belum lama ini salah satu rumahnya juga dibobol orang. Setelah ditelusuri, ternyata pelaku yang masuk tanpa permisi itu orang gila.

Kasus yang menimpa KH. Hakam Mubarok, pengasuh pondok pesantren tersebut, lanjut dia, harus diusut tuntas aparat penegak hukum. Sebab, ada kekhawatiran di sebagian masyarakat, ada modus baru terkait aksi penganiayaan terhadap kiai.

Meskipun, sesuai pengamatannya dan sejumlah informasi yang diterimanya, tidak ada unsur penganiayaan murni.

‘’Saya tak yakin murni kejahatan kalau melihat kronologis kejadiannya,’’ kata Fadeli usai meninjau kegiatan donor darah di Alun – Alun Kota Lamongan kemarin (18/2).

Menurut dia, jika murni aksi kejahatan bermodus pelaku menyamar orang gila, maka pelaku masuk ke halaman pondok untuk mencari keberadaan sasarannya.

Sementara cerita kejadian di Ponpes Karangasem yang diperolehnya,  orang yang diduga gila itu diam di satu tempat.

Baca Juga :  Warga Sempat Kaget, Lahan 1 Hektare Dijadikan Kebun Rumput

Selain itu, peristiwa yang melatarbelakangi juga bermula dari tindakan kiai. Pelaku yang dianggap meresahkan lingkungan pondok karena memakai berbaju kotor dan dianggap tidak sopan, diusir kiai.

‘’Tapi tetap harus dipastikan apakah itu gila atau tidak, ini medis yang bisa memastikan,’’ ujarnya.

Dalam kasus di Ponpes Karangasem Muhammadiyah Kecamatan Paciran, Rifan Efendi, 35, pedagang pentol di sekitar masjid mengaku mengetahui kejadian tersebut. Bahkan, dia mengklaim yang melakukan penangkapan terhadap pemuda yang diduga gila tersebut. 

Rifan Efendi yang berasal dari Desa Sumurgayam Kecamatan Paciran itu mengaku melihat saat pemuda tersebut tiba – tiba berdiri. Selanjutnya, pemuda itu dua kali melakukan pemukulan kepada Kiai Hakam Mubarok, pengasuh ponpes tersebut.

Pukulan itu ditangkal Kiai Hakam menggunakan tangan. ‘’Saya lihat dua kali melakukan pemukulan, tetapi tak mengenai muka kiai, hingga menghindar jauh dari orang tersebut,’’ ujarnya. 

Namun, pemuda bersarung itu masih mengejar hingga masuk ke lorong rumah. Kiai Hakam hanya berlari tanpa berteriak meminta bantuan. Merasa keselamatan kiai terancam, Rifan bergegas mengejar pemuda tersebut. Dia melakukan penghadangan.

Baca Juga :  Enam Kades Resmi Nyaleg

Saat Kiai Hakam terjatuh karena kecapekan, dia berhasil melumpuhkan pemuda itu, sebelum mendekati kiai. 

‘’Saya yang mengkap pertama kalinya. Langsung saja memegang tangannya, dipelintir ke belakang,’’ jelasnya.

Pemuda bersarung itu sempat memberontak bahkan menendang hingga mengenai kaki kiri dan mengalami lebab. Dibantu seorang kuli bangunan, dia mengamankan pemuda tersebut.

Namun, saat hendak dilepaskan pelan – pelan, pemuda itu memberontak lagi dan melakukan perlawanan. ‘’Hampir saja lepas Mas. Kalau lepas, pastinya lebih giras,’’ ujar Rifan yang mengaku berjualan hampir dua tahun di halaman ponpes tersebut.

Karena ingin lepas, tangan pemuda itu ditarik ke belakang. Sedangkan badannya dijatuhkan ke tanah. Tangan pemuda tersebut kemudian diikat. 

‘’Sebelumnya saya tak melihat sama sekali orang tersebut di wilayah sekitaran lokasi pondok ini,’’ katanya.

Sementara itu, beberapa security di WBL mengaku pernah menemui orang tersebut di depan lokasi wisata. Kejadiannya, seminggu sebelum peristiwa di ponpes. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/