alexametrics
23.3 C
Bojonegoro
Tuesday, June 28, 2022

Pemuda Serang Kyai Pondok, Tunggu Hasil Tes Kejiwaan

KOTA – KAPOLDA Jatim Irjen Pol Machfud Arifin memilih menunggu hasil resmi tes kejiwaan dari Paijo, pengejar KH  Hakam Mubarok di Pondok Pesantren (Ponpes) Karangasem Muhammadiyah Kecamatan Paciran saat salat duhur. Pemuda gundul yang diduga mengalami kelainan jiwa itu kemarin siang (19/2) diperiksa di Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya. 

Kapolda mengatakan, dirinya sudah memerintahkan anggota untuk memroses kejadian di ponpes tersebut. Tes kejiwaan terhadap pelaku bakal dilakukan psikiater dan dokter gangguan jiwa dari RSJ Menur.

Dari tes awal, dirinya mempunyai indikasi  bahwa pelaku memiliki penyakit agresif kejiwaan yang berat sekali.  Pelaku mudah sekali tersinggung.

‘’Kini pelaku sudah sampai di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Jatim serta melakukan observasi,’’ tutur pria dengan dua bintang di pundaknya ini.

Namun, hasil resmi tes tersebut belum ada. Sebab, menunggu beberapa proses lagi tes kejiwaan. 

‘’Untuk kasus ini, pelaku masih dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Kalau pelaku tersebut hasil tesnya positif gila, tentunya akan dilepaskan,’’ ujarnya saat mengunjungi Ponpes Karangasem Muhammadiyah Kecamatan Paciran.

Sebaliknya, lanjut dia, jika pelaku dinyatakan masih normal seperti layaknya orang biasa, maka dilakukan proses hukum lebih lanjut. Termasuk, mencari motif pelaku hingga melakukan pengejaran terhadap seorang kiai.

Juga, melacak asal usul pelaku. Nantinya, penyidikan ditangani Polres Lamongan dengan back up Polda Jatim. 

Baca Juga :  Lahirkan Generasi Berprestasi

‘’Untuk hasil, saya belum bisa memastikan. Tergantung dari tim dokter yang menangani pemeriksaan pelaku ini,’’ ujarnya.

Kapolda juga menyinggung kejadian di Tuban beberapa hari lalu. Dia menyatakan pelaku perusakan masjid tersebut positif mempunyai kelainan jiwa. 

Kapolda berharap kepada msayarakat agar selalu menjaga situasi tetap kondusif. Jangan sampai menyampaikan informasi kepada orang lain bila tidak mengerti sendiri.

‘’Yang tak mengetahui jelasnya, jangan memberikan komentar di media sosial. Jadi lebih baik lihat sendiri, orangnya seperti apa,’’ pintanya.

Kapolda mengunjungi ponpes tersebut bersama Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Arif Rahman.

Sementara itu, KH Hakam Mubarok mengatakan, dirinya sangat ketakutan sekali ada orang gila menghampiri dirinya. Sebab, akal pikiran orang gila tidak beres. ‘’Takut kenapa – napa,’’ ujarnya. 

Seperti diberitakan, menjelang salat duhur, Kiai Hakam melihat seseorang duduk di depan gapura Masjid Al Manar. Dia lalu meminta orang tersebut berpindah tempat.

Alasannya, tidak pantas karena waktunya salat. Sarung orang tersebut ditarik agar yang bersangkutan mau pindah. Namun, pemuda yang mengaku bernama Paijo saat diperiksa polisi itu, ternyata tak mau berpindah tempat.

Dia tetap duduk sambil membawa makanan ringan. Makanan ringan tersebut akhirnya ditampel karena takut mengotori tempat sekitar. Paijo sontak berdiri. Dia mengamuk dan menantang Kiai Hakam untuk berkelahi.

Baca Juga :  Bersihkan Saluran Pembuangan

‘’Ayo aku gak takut sama kamu kalau berani berkelahi sekarang,’’ kata Kiai Hakam menirukan perkataan Paijo.

Sesaat kemudian, pemuda gundul itu menyerang Kiai Hakam menggunakan tangan kosong. Serangan itu tidak mengenai tubuh Kiai Hakam.

Takut serangan pemuda berkaus lengan panjang itu semakin membabi buta, Kiai Hakam memilih menghindar. Namun, dia ternyata dikejar.

Kiai Hakam kemudian berusaha menyelamatkan diri dengan berputar – putar di lokasi setempat sejarak sekitar 30 meter. 

‘’Saya lari, sempat terjatuh karena kehabisan napas, hingga luka di bagian siku sebelah kanan,’’ ceritanya saat dikonfirmasi melalui ponsel.

Salah satu warga desa setempat yang mengetahui Kiai Hakam dikejar seseorang akhirnya melakukan pencegahan. Warga tersebut juga berteriak  meminta bantuan para santri ponpes setempat. 

‘’Langsung dikepung orang banyak, hingga diamankan ke dalam pondok,’’ imbuh Kiai Hakam.

Dia mengaku khawatir orang gila tersebut cuman jadi – jadian. Alasannya, saat ditanya di dalam pondok, rambut, gigi, hingga wajahnya  masih bersih.

Saat ditanya, pemuda tersebut juga bisa menjawab. Kiai Hakam mencontohkan salah seorang mengajukan jari telunjuk dan tengah, dijawab benar pelaku dengan menyebut angka dua.  

‘’Saya juga heran masih bisa menjawab  saat ditanya salah satu warga. Ditanya suruhan siapa, dia menjawab salah seorang di Papua,’’ tuturnya. 

KOTA – KAPOLDA Jatim Irjen Pol Machfud Arifin memilih menunggu hasil resmi tes kejiwaan dari Paijo, pengejar KH  Hakam Mubarok di Pondok Pesantren (Ponpes) Karangasem Muhammadiyah Kecamatan Paciran saat salat duhur. Pemuda gundul yang diduga mengalami kelainan jiwa itu kemarin siang (19/2) diperiksa di Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya. 

Kapolda mengatakan, dirinya sudah memerintahkan anggota untuk memroses kejadian di ponpes tersebut. Tes kejiwaan terhadap pelaku bakal dilakukan psikiater dan dokter gangguan jiwa dari RSJ Menur.

Dari tes awal, dirinya mempunyai indikasi  bahwa pelaku memiliki penyakit agresif kejiwaan yang berat sekali.  Pelaku mudah sekali tersinggung.

‘’Kini pelaku sudah sampai di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Jatim serta melakukan observasi,’’ tutur pria dengan dua bintang di pundaknya ini.

Namun, hasil resmi tes tersebut belum ada. Sebab, menunggu beberapa proses lagi tes kejiwaan. 

‘’Untuk kasus ini, pelaku masih dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Kalau pelaku tersebut hasil tesnya positif gila, tentunya akan dilepaskan,’’ ujarnya saat mengunjungi Ponpes Karangasem Muhammadiyah Kecamatan Paciran.

Sebaliknya, lanjut dia, jika pelaku dinyatakan masih normal seperti layaknya orang biasa, maka dilakukan proses hukum lebih lanjut. Termasuk, mencari motif pelaku hingga melakukan pengejaran terhadap seorang kiai.

Juga, melacak asal usul pelaku. Nantinya, penyidikan ditangani Polres Lamongan dengan back up Polda Jatim. 

Baca Juga :  Desak Penerapan Video Asistant Referee

‘’Untuk hasil, saya belum bisa memastikan. Tergantung dari tim dokter yang menangani pemeriksaan pelaku ini,’’ ujarnya.

Kapolda juga menyinggung kejadian di Tuban beberapa hari lalu. Dia menyatakan pelaku perusakan masjid tersebut positif mempunyai kelainan jiwa. 

Kapolda berharap kepada msayarakat agar selalu menjaga situasi tetap kondusif. Jangan sampai menyampaikan informasi kepada orang lain bila tidak mengerti sendiri.

‘’Yang tak mengetahui jelasnya, jangan memberikan komentar di media sosial. Jadi lebih baik lihat sendiri, orangnya seperti apa,’’ pintanya.

Kapolda mengunjungi ponpes tersebut bersama Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Arif Rahman.

Sementara itu, KH Hakam Mubarok mengatakan, dirinya sangat ketakutan sekali ada orang gila menghampiri dirinya. Sebab, akal pikiran orang gila tidak beres. ‘’Takut kenapa – napa,’’ ujarnya. 

Seperti diberitakan, menjelang salat duhur, Kiai Hakam melihat seseorang duduk di depan gapura Masjid Al Manar. Dia lalu meminta orang tersebut berpindah tempat.

Alasannya, tidak pantas karena waktunya salat. Sarung orang tersebut ditarik agar yang bersangkutan mau pindah. Namun, pemuda yang mengaku bernama Paijo saat diperiksa polisi itu, ternyata tak mau berpindah tempat.

Dia tetap duduk sambil membawa makanan ringan. Makanan ringan tersebut akhirnya ditampel karena takut mengotori tempat sekitar. Paijo sontak berdiri. Dia mengamuk dan menantang Kiai Hakam untuk berkelahi.

Baca Juga :  Balen dan Padangan Orang Gangguan Jiwa Terbanyak

‘’Ayo aku gak takut sama kamu kalau berani berkelahi sekarang,’’ kata Kiai Hakam menirukan perkataan Paijo.

Sesaat kemudian, pemuda gundul itu menyerang Kiai Hakam menggunakan tangan kosong. Serangan itu tidak mengenai tubuh Kiai Hakam.

Takut serangan pemuda berkaus lengan panjang itu semakin membabi buta, Kiai Hakam memilih menghindar. Namun, dia ternyata dikejar.

Kiai Hakam kemudian berusaha menyelamatkan diri dengan berputar – putar di lokasi setempat sejarak sekitar 30 meter. 

‘’Saya lari, sempat terjatuh karena kehabisan napas, hingga luka di bagian siku sebelah kanan,’’ ceritanya saat dikonfirmasi melalui ponsel.

Salah satu warga desa setempat yang mengetahui Kiai Hakam dikejar seseorang akhirnya melakukan pencegahan. Warga tersebut juga berteriak  meminta bantuan para santri ponpes setempat. 

‘’Langsung dikepung orang banyak, hingga diamankan ke dalam pondok,’’ imbuh Kiai Hakam.

Dia mengaku khawatir orang gila tersebut cuman jadi – jadian. Alasannya, saat ditanya di dalam pondok, rambut, gigi, hingga wajahnya  masih bersih.

Saat ditanya, pemuda tersebut juga bisa menjawab. Kiai Hakam mencontohkan salah seorang mengajukan jari telunjuk dan tengah, dijawab benar pelaku dengan menyebut angka dua.  

‘’Saya juga heran masih bisa menjawab  saat ditanya salah satu warga. Ditanya suruhan siapa, dia menjawab salah seorang di Papua,’’ tuturnya. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/