alexametrics
28.4 C
Bojonegoro
Thursday, May 26, 2022

Ingin Tulis Karya Bersama Pendidik Lain

Miftakur Rohmah menjadi salah satu guru PAUD yang sudah beberapa menulis buku ajar. Dia ingin terus menulis. 

PERMAINAN anak tidak harus selalu mahal dan buatan pabrik. Itulah salah satu prinsip Miftakur Rohmah, guru PAUD asal Desa Kebalandono, Kecamatan Babat. 

Dia mencoba mengamati lingkungan sekitarnya. Lumpur sawah ternyata juga bisa sebagai media menggambar untuk meningkatkan kreativitas anak.  

Rohmah lalu menyusun karya Lumpur Sawah sebagai media menggambar untuk meningkatkan kreativitas anak. Dia ingin menyampaikan pesan bahwa mengasah kreativitas anak bisa dengan banyak cara. 

Anak dapat mengambil lumpur dari sawah. Selanjutnya, lumpur disaring sambil ditekan agar menghasilkan lumpur bertekstur lebih halus. Tekstur yang basah dan kental ini yang digunakan menggambar.

Setelah itu, disiapkan buku gambar. Anak bisa mulai berkreasi dengan imajinasinya di atas buku gambar menggunakan media lumpur tersebut.  Jari-jari anak tinggal adu terampil di atas kertas gambar. Hasil kreativitas anak itu tinggal dikeringkan. 

Baca Juga :  Masuk Bergantian, Karyawan WBL Masih Digaji Separo

Lumpur sawah merupakan salah satu karya buku ajar yang disusun Rohmah. Kepala TK Aisyiyah VIII Kebalandono itu setidaknya sudah menulis tujuh karya sejak 2013. Karya lainnya di antaranya, Penggunaan Media Kotak Ombak dari Bahan Bekas sebagai Alat Permainan Edukatif, dan Penggunaan Media Celup Angka untuk Meningkatkan Kemampuan Berhitung. 

 

Tujuh karya itu berupa bahan ajar. “Naluri seorang ibu ingin membuat karya yang dibutuhkan anak. Sehingga untuk karya sastra lain lebih banyak disusun secara antologi,” ujar guru kelahiran Lamongan, 11 April 1984 itu. 

Ada, dua karya yang dinilainya cukup berkesan karena mendapatkan penghargaan dari dinas pendidikan setempat dan mendukung program one teacher one book. Yakni, Ketika Kutuk Menjadi Lauk dan Pemburu Gondang. Dua karya itu sempat diapresiasi dan dibacakan Bunda PAUD kecamatan setempat. Isinya banyak mengulas tentang kearifan lokal Lamongan. 

Baca Juga :  Kebisingan Kota Lampaui Batas

Kesibukannya sebagai guru dan ibu rumah tangga membuat Rohmah tidak memiliki banyak waktu untuk mengikuti komunitas literasi. Padahal, dia ingin bertemu sekedar sharing pengalaman dan menambah ilmu. Dia hanya bisa bertegur sapa melalui media sosial. “Sebenarnya saya ingin membuat karya bersama teman guru lain, karena intensitas waktu lebih banyak di sekolah,” tutur perempuan 37 tahun itu.

Miftakur Rohmah menjadi salah satu guru PAUD yang sudah beberapa menulis buku ajar. Dia ingin terus menulis. 

PERMAINAN anak tidak harus selalu mahal dan buatan pabrik. Itulah salah satu prinsip Miftakur Rohmah, guru PAUD asal Desa Kebalandono, Kecamatan Babat. 

Dia mencoba mengamati lingkungan sekitarnya. Lumpur sawah ternyata juga bisa sebagai media menggambar untuk meningkatkan kreativitas anak.  

Rohmah lalu menyusun karya Lumpur Sawah sebagai media menggambar untuk meningkatkan kreativitas anak. Dia ingin menyampaikan pesan bahwa mengasah kreativitas anak bisa dengan banyak cara. 

Anak dapat mengambil lumpur dari sawah. Selanjutnya, lumpur disaring sambil ditekan agar menghasilkan lumpur bertekstur lebih halus. Tekstur yang basah dan kental ini yang digunakan menggambar.

Setelah itu, disiapkan buku gambar. Anak bisa mulai berkreasi dengan imajinasinya di atas buku gambar menggunakan media lumpur tersebut.  Jari-jari anak tinggal adu terampil di atas kertas gambar. Hasil kreativitas anak itu tinggal dikeringkan. 

Baca Juga :  Guru Cabul Diberhentikan Mengajar

Lumpur sawah merupakan salah satu karya buku ajar yang disusun Rohmah. Kepala TK Aisyiyah VIII Kebalandono itu setidaknya sudah menulis tujuh karya sejak 2013. Karya lainnya di antaranya, Penggunaan Media Kotak Ombak dari Bahan Bekas sebagai Alat Permainan Edukatif, dan Penggunaan Media Celup Angka untuk Meningkatkan Kemampuan Berhitung. 

 

Tujuh karya itu berupa bahan ajar. “Naluri seorang ibu ingin membuat karya yang dibutuhkan anak. Sehingga untuk karya sastra lain lebih banyak disusun secara antologi,” ujar guru kelahiran Lamongan, 11 April 1984 itu. 

Ada, dua karya yang dinilainya cukup berkesan karena mendapatkan penghargaan dari dinas pendidikan setempat dan mendukung program one teacher one book. Yakni, Ketika Kutuk Menjadi Lauk dan Pemburu Gondang. Dua karya itu sempat diapresiasi dan dibacakan Bunda PAUD kecamatan setempat. Isinya banyak mengulas tentang kearifan lokal Lamongan. 

Baca Juga :  Hamil, Tiga Nakes Batal Vaksinasi

Kesibukannya sebagai guru dan ibu rumah tangga membuat Rohmah tidak memiliki banyak waktu untuk mengikuti komunitas literasi. Padahal, dia ingin bertemu sekedar sharing pengalaman dan menambah ilmu. Dia hanya bisa bertegur sapa melalui media sosial. “Sebenarnya saya ingin membuat karya bersama teman guru lain, karena intensitas waktu lebih banyak di sekolah,” tutur perempuan 37 tahun itu.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/