alexametrics
25.5 C
Bojonegoro
Monday, May 23, 2022

Enam Member Laporkan Reseller

LAMONGAN, Radar Lamongan – Kasus investasi bodong dengan owner yang telah ditetapkan tersangka Samudra Zahrotul Bilad, 21, terus menggelinding. Sebelumnya, lima orang telah melaporkan Bilad, dengan kerugian mencapai Rp 6 miliar. 

Tak hanya warga Desa Tambakploso, Kecamatan Turi tersebut yang dilaporkan ke Polres Lamongan. Kini giliran salah satu reseller dalam investasi bodong tersebut Arum Rahmawati, 22, yang dilaporkan ke Polres Lamongan, kemarin siang (19/1). 

Enam pelapor tersebut yakni Tieta Aniska dengan kerugian Rp 162 juta lebih, Dian Yuninda sebanyak Rp 4,8 juta, Adam Darmaji Rp 9,6 juta, Yusuf Efendi Rp 10 juta, Musyafin sebanyak Rp 4,4 juta, dan Hendy Surya Rp 2,4 juta. 

‘’Total kerugian sebanyak enam klien (pelapor) kurang lebih Rp 194 juta,’’ tutur Kuasa Hukum Pelapor, Indah Suci Ning Ati kepada Jawa Pos Radar Lamongan. 

Indah menjelaskan, semula seluruh member diajak investasi, serta telah menyetorkan uang bulan lalu. Menurut dia, salah satu kliennya sudah pernah menyetorkan uang senilai Rp 10 juta. Namun sebelum merasakan hasil, kasus investasi bodong tersebut terbongkar.  

Korban yang melaporkan Arum Rahmawati tidak hanya dari Lamongan. Namun, ada beberapa dari Mojokerto dan Gresik. Berdasarkan keterangan kliennya, terang Indah, diduga uang masih di tangan Arum Rahmawati dan belum disetorkan kepada Bilad. 

‘’Sebagian uangnya masih tersimpan berada di salah satu reseller hingga sekarang,’’ terang Indah. 

Baca Juga :  Ditangani DPW Jatim

Seperti pernah diberitakan, salah satu surat pernyataan perjanjian profit sharing (bagi hasil keuntungan) antara Bilad dengan tiga reseler menyebar. Yakni dengan reseler Siviya Arbiyati sebagai reseler inves by SA dan Faradiba Noer Laila sebagai reseler inves by FARA sudah melaporkan Bilad. Nah, Arum Rahmawati satu reseller lainnya yakni invest by ARUMIHO, yang justru dilaporkan oleh enam member. 

Salah satu pelapor, Tieta Aniska asal Mojokerto mengatakan, pertama kalinya mengenali reseller tersebut bulan lalu di sosial media. Dia menanyakan detil terkait sistim investasi kepada Arum Rahmawati. Tergiur dengan iming-iming keuntungan besar sepuluh hari, Tieta menyetorkan sejumlah uang kepada terlapor. 

‘’Pertama kalinya, tanam modal sebanyak Rp 1 juta hingga sempat kembali Rp 1,4 juta,’’ ujarnya. 

Dia semakin yakin karena mendapatkan profit sesuai yang telah dijanjikan. Sehingga, Tieta kembali menyetorkan uang, dengan harapan mendapatkan profit lebih besar lagi. 

Tak cukup sampai di situ. Tieta juga mengajak teman-temannya, serta mendapatkan 35 orang sebagai member. Rata-rata member yang baru tersebut melakukan tanam modal melalui Tieta sekitar Rp 1 juta hingga Rp 2 juta. Uang tersebut selanjutnya disetorkan kepada Arum Rahmawati. 

‘’Tapi ada satu member yang melakukan investasi sebanyak Rp 36 juta,’’ katanya. 

Tieta bingung ketika mengetahui jika investasi tersebut bermasalah. Tieta dibantu orang tuanya mengembalikan uang seluruh member, yang menanamkan uang melaluinya. Dirinya harus merogoh uang tabungannya senilai Rp 30 juta dan uang dari orangtuanya. Sehingga, Tieta mengklaim, dirinya menelan kerugian sekitar Rp 162 Juta. 

Baca Juga :  Perlintasan KA Penuh Lubang

‘’Sebagian uang member sudah dikembalikan, hanya sebagian saja belum. Sabar saja,’’ ucap mahasiswi semester lima di salah satu universitas di Surabaya tersebut. 

Hal yang sama dialami pelapor lainnya Musyafin, yakni mengenal Arum Rahmawati dari media sosial. Dirinya juga terjebak dengan bujuk rayu, yang menginginkan mendapatkan profit besar dalam waktu singkat. 

Pertama kalinya, Musyafin menginvestasikan uang senilai Rp 1 juta dan mendapatkan profit Rp 400 ribu. Akhirnya Musyafin memperbesar nilai investasinya. Setelah tiba waktu pencairan profit, ternyata nomor reseller yang diikutinya tidak bisa dihubungi dan tidak ada kabar. 

 ‘’Karena sebelumnya sudah pernah mengikuti invetasi, akhirnya mencoba mengikuti,’’ imbuhnya. 

Hingga kini, ke enam pelapor tersebut masih dimintai keterangan lebih lanjut oleh petugas kepolisian. Informasi yang dihimpun wartawan koran ini, reseller masih berpotensi statusnya seperti Billad. Jika nantinya ditemukan bukti kuat dalam penyelidikan petugas kepolisian. Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Lamongan, AKP Yoan Septi Hendri belum membeberkan detail terkait masuknya laporan kepada Arum Rahmawati. 

‘’Sebentar mas saya cek dulu,’’ tulis Yoan singkat melalui pesan WhatsApp.

LAMONGAN, Radar Lamongan – Kasus investasi bodong dengan owner yang telah ditetapkan tersangka Samudra Zahrotul Bilad, 21, terus menggelinding. Sebelumnya, lima orang telah melaporkan Bilad, dengan kerugian mencapai Rp 6 miliar. 

Tak hanya warga Desa Tambakploso, Kecamatan Turi tersebut yang dilaporkan ke Polres Lamongan. Kini giliran salah satu reseller dalam investasi bodong tersebut Arum Rahmawati, 22, yang dilaporkan ke Polres Lamongan, kemarin siang (19/1). 

Enam pelapor tersebut yakni Tieta Aniska dengan kerugian Rp 162 juta lebih, Dian Yuninda sebanyak Rp 4,8 juta, Adam Darmaji Rp 9,6 juta, Yusuf Efendi Rp 10 juta, Musyafin sebanyak Rp 4,4 juta, dan Hendy Surya Rp 2,4 juta. 

‘’Total kerugian sebanyak enam klien (pelapor) kurang lebih Rp 194 juta,’’ tutur Kuasa Hukum Pelapor, Indah Suci Ning Ati kepada Jawa Pos Radar Lamongan. 

Indah menjelaskan, semula seluruh member diajak investasi, serta telah menyetorkan uang bulan lalu. Menurut dia, salah satu kliennya sudah pernah menyetorkan uang senilai Rp 10 juta. Namun sebelum merasakan hasil, kasus investasi bodong tersebut terbongkar.  

Korban yang melaporkan Arum Rahmawati tidak hanya dari Lamongan. Namun, ada beberapa dari Mojokerto dan Gresik. Berdasarkan keterangan kliennya, terang Indah, diduga uang masih di tangan Arum Rahmawati dan belum disetorkan kepada Bilad. 

‘’Sebagian uangnya masih tersimpan berada di salah satu reseller hingga sekarang,’’ terang Indah. 

Baca Juga :  Terkendala Sebagian Laboratorium Tutup

Seperti pernah diberitakan, salah satu surat pernyataan perjanjian profit sharing (bagi hasil keuntungan) antara Bilad dengan tiga reseler menyebar. Yakni dengan reseler Siviya Arbiyati sebagai reseler inves by SA dan Faradiba Noer Laila sebagai reseler inves by FARA sudah melaporkan Bilad. Nah, Arum Rahmawati satu reseller lainnya yakni invest by ARUMIHO, yang justru dilaporkan oleh enam member. 

Salah satu pelapor, Tieta Aniska asal Mojokerto mengatakan, pertama kalinya mengenali reseller tersebut bulan lalu di sosial media. Dia menanyakan detil terkait sistim investasi kepada Arum Rahmawati. Tergiur dengan iming-iming keuntungan besar sepuluh hari, Tieta menyetorkan sejumlah uang kepada terlapor. 

‘’Pertama kalinya, tanam modal sebanyak Rp 1 juta hingga sempat kembali Rp 1,4 juta,’’ ujarnya. 

Dia semakin yakin karena mendapatkan profit sesuai yang telah dijanjikan. Sehingga, Tieta kembali menyetorkan uang, dengan harapan mendapatkan profit lebih besar lagi. 

Tak cukup sampai di situ. Tieta juga mengajak teman-temannya, serta mendapatkan 35 orang sebagai member. Rata-rata member yang baru tersebut melakukan tanam modal melalui Tieta sekitar Rp 1 juta hingga Rp 2 juta. Uang tersebut selanjutnya disetorkan kepada Arum Rahmawati. 

‘’Tapi ada satu member yang melakukan investasi sebanyak Rp 36 juta,’’ katanya. 

Tieta bingung ketika mengetahui jika investasi tersebut bermasalah. Tieta dibantu orang tuanya mengembalikan uang seluruh member, yang menanamkan uang melaluinya. Dirinya harus merogoh uang tabungannya senilai Rp 30 juta dan uang dari orangtuanya. Sehingga, Tieta mengklaim, dirinya menelan kerugian sekitar Rp 162 Juta. 

Baca Juga :  Rencanakan Jalan Tol di Pantura

‘’Sebagian uang member sudah dikembalikan, hanya sebagian saja belum. Sabar saja,’’ ucap mahasiswi semester lima di salah satu universitas di Surabaya tersebut. 

Hal yang sama dialami pelapor lainnya Musyafin, yakni mengenal Arum Rahmawati dari media sosial. Dirinya juga terjebak dengan bujuk rayu, yang menginginkan mendapatkan profit besar dalam waktu singkat. 

Pertama kalinya, Musyafin menginvestasikan uang senilai Rp 1 juta dan mendapatkan profit Rp 400 ribu. Akhirnya Musyafin memperbesar nilai investasinya. Setelah tiba waktu pencairan profit, ternyata nomor reseller yang diikutinya tidak bisa dihubungi dan tidak ada kabar. 

 ‘’Karena sebelumnya sudah pernah mengikuti invetasi, akhirnya mencoba mengikuti,’’ imbuhnya. 

Hingga kini, ke enam pelapor tersebut masih dimintai keterangan lebih lanjut oleh petugas kepolisian. Informasi yang dihimpun wartawan koran ini, reseller masih berpotensi statusnya seperti Billad. Jika nantinya ditemukan bukti kuat dalam penyelidikan petugas kepolisian. Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Lamongan, AKP Yoan Septi Hendri belum membeberkan detail terkait masuknya laporan kepada Arum Rahmawati. 

‘’Sebentar mas saya cek dulu,’’ tulis Yoan singkat melalui pesan WhatsApp.

Artikel Terkait

Most Read

Lawan Persibo dari Runner-up Grup I

Dua Penjual Pil Carnopen Ditangkap

Gagal Ditegakkan Kedisiplinan ASN

Agendakan Lawan Semeru FC

Artikel Terbaru


/