alexametrics
32.7 C
Bojonegoro
Monday, August 8, 2022

Sayuran Hidroponik Ditopang Permintaan Restoran dan Kafe

BLORA – Hasil produksi sayuran hidroponik ternyata mulai diincar restoran, kafe, dan hotel. Padahal, harga sayuran hidroponik ini sedikit mahal. Segmentasi konsumen lainnya, juga para pedagang yang berjualan di pasar-pasar tradisional.

Indra Karyanto pemilik hidroponik di Desa Ngadu, Kecamatan Sambong, mengatakan, beberapa restoran dan kafe di Kecamatan Cepu dan Blora mulai membutuhkan sayuran hasil hidroponik. Dan, saat ini konsumen terus bertambah.

Segmentasi konsumen ini, kata dia, semakin meluas.

Sebelumnya konsumen didominasi para pedagang di pasar-pasar tradisional.

‘’Juga ada pengunjung datang sendiri untuk beli. Seperti saat ada kunjungan,” katanya.

Bahkan, kata dia, konsumen tak hanya dari Kecamatan Sambong dan Cepu saja.

Baca Juga :  Hubungkan Montong-Parengan dengan Jembatan BambuĀ 

Tetapi beberapa kecamatan lain sudah banyak membeli. Seperti konsumen dari Blora dan Doplang.

Dia mengakui harga sayuran hidroponik ini memang jauh dari pasaran.

Sebab, perawatan di kebun hidroponik ini lebih bersih dan memerhatikan kualitas tanaman.

Serta, saat penjulannya selalu dengan kondisi bersih.

‘’Jadi meski mahal, untuk peminat tetap banyak,” tuturnya.

Konsumen, lanjut Indra, tidak lagi memerhatikan harga.

Tapi, konsumen lebih mementingkan kualitas bersih dan higienis.

Tak heran, dalam sehari, dia bisa menjual sekitar 5 kilogram sayuran.

BLORA – Hasil produksi sayuran hidroponik ternyata mulai diincar restoran, kafe, dan hotel. Padahal, harga sayuran hidroponik ini sedikit mahal. Segmentasi konsumen lainnya, juga para pedagang yang berjualan di pasar-pasar tradisional.

Indra Karyanto pemilik hidroponik di Desa Ngadu, Kecamatan Sambong, mengatakan, beberapa restoran dan kafe di Kecamatan Cepu dan Blora mulai membutuhkan sayuran hasil hidroponik. Dan, saat ini konsumen terus bertambah.

Segmentasi konsumen ini, kata dia, semakin meluas.

Sebelumnya konsumen didominasi para pedagang di pasar-pasar tradisional.

‘’Juga ada pengunjung datang sendiri untuk beli. Seperti saat ada kunjungan,” katanya.

Bahkan, kata dia, konsumen tak hanya dari Kecamatan Sambong dan Cepu saja.

Baca Juga :  Perbaiki Jalan Poros, Desa Gelontor Dana Hingga Rp 41 MĀ 

Tetapi beberapa kecamatan lain sudah banyak membeli. Seperti konsumen dari Blora dan Doplang.

Dia mengakui harga sayuran hidroponik ini memang jauh dari pasaran.

Sebab, perawatan di kebun hidroponik ini lebih bersih dan memerhatikan kualitas tanaman.

Serta, saat penjulannya selalu dengan kondisi bersih.

‘’Jadi meski mahal, untuk peminat tetap banyak,” tuturnya.

Konsumen, lanjut Indra, tidak lagi memerhatikan harga.

Tapi, konsumen lebih mementingkan kualitas bersih dan higienis.

Tak heran, dalam sehari, dia bisa menjual sekitar 5 kilogram sayuran.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/