alexametrics
32.7 C
Bojonegoro
Monday, August 8, 2022

Harga Ayam Naik Tak Wajar 

KOTA – Harga daging ayam di Lamongan melonjak hingga Rp 35.000 per kilogram (kg) di Lamongan. Kondisi itu diperparah dengan daya beli masyarakat menurun. Akibatnya, sejumlah pedagang memilih tidak berjualan.  

Menurut salah satu pedagang ayam di pasar modern Lamongan, Zumaroh, harga ayam sudah naik sejak libur natal dan tahun baru lalu.  Namun kenaikan itu masih bisa dikendalikan, sebab kebutuhan konsumen masih stabil.  ‘’Pedagang masih bisa menutupi kekurangan modal dengan mengandalkan permintaan dari konsumen,’’ ungkapnya jumat (19/1). 

Namun, lanjut dia, hampir bersamaan daya beli masyarakat turun karena lahan pertanian sedang memasuki musim tanam. Sehingga  kondisi pasar cukup sepi, sedangkan harga ayam masih naik. Karena itu pedagang kecil banyak yang memilih libur berjualan sampai harga kembali stabil. ‘’Saat musim tanam memang daya beli masyarakat sering turun. Karena uangnya difokuskan untuk modal tanam,’’ tukasnya. 

Baca Juga :  Kebutuhan Sembako Diprediksi Naik Lima Persen

Menurut dia, kenaikan harga ayam dipengaruhi berbagai faktor. Salah satunya kondisi cuaca. Kondisi cuaca yang buruk akan membuat pengiriman ayam terkendala. Selama ini pasokan ayam banyak mengandalkan dari luar kota. ‘’Ketika cuacanya tidak mendukung, pengiriman terlambat dan kondisi ayam kurang sehat,’’ ujarnya. 

Zumaroh mengatakan, kondisi cuaca cukup berpengaruh terhadap pertumbuhan ayam. Terutama ayam pedaging karena sangat rentan terhadap penyakit dan stress. Akibatnya hasil panen sedikit yang membuat  harga ayam terus mengalami kenaikan.  

Dia berharap ada perhatian dari pemerintah untuk mengendalikan harga ayam. Sebab kenaikan harga ayam saat ini tidak wajar jika dikaitkan dengan daya beli masyarakat yang cenderung turun. ‘’Seharusnya kenaikan harga terjadi ketika kondisi pasar sedang ramai sehingga pedagang tidak perlu mencari tambahan modal karena tidak bisa kulakan,’’ terangnya.

Baca Juga :  Harga Sembako ­Mulai Naik

KOTA – Harga daging ayam di Lamongan melonjak hingga Rp 35.000 per kilogram (kg) di Lamongan. Kondisi itu diperparah dengan daya beli masyarakat menurun. Akibatnya, sejumlah pedagang memilih tidak berjualan.  

Menurut salah satu pedagang ayam di pasar modern Lamongan, Zumaroh, harga ayam sudah naik sejak libur natal dan tahun baru lalu.  Namun kenaikan itu masih bisa dikendalikan, sebab kebutuhan konsumen masih stabil.  ‘’Pedagang masih bisa menutupi kekurangan modal dengan mengandalkan permintaan dari konsumen,’’ ungkapnya jumat (19/1). 

Namun, lanjut dia, hampir bersamaan daya beli masyarakat turun karena lahan pertanian sedang memasuki musim tanam. Sehingga  kondisi pasar cukup sepi, sedangkan harga ayam masih naik. Karena itu pedagang kecil banyak yang memilih libur berjualan sampai harga kembali stabil. ‘’Saat musim tanam memang daya beli masyarakat sering turun. Karena uangnya difokuskan untuk modal tanam,’’ tukasnya. 

Baca Juga :  Harga Cabai Tak Stabil

Menurut dia, kenaikan harga ayam dipengaruhi berbagai faktor. Salah satunya kondisi cuaca. Kondisi cuaca yang buruk akan membuat pengiriman ayam terkendala. Selama ini pasokan ayam banyak mengandalkan dari luar kota. ‘’Ketika cuacanya tidak mendukung, pengiriman terlambat dan kondisi ayam kurang sehat,’’ ujarnya. 

Zumaroh mengatakan, kondisi cuaca cukup berpengaruh terhadap pertumbuhan ayam. Terutama ayam pedaging karena sangat rentan terhadap penyakit dan stress. Akibatnya hasil panen sedikit yang membuat  harga ayam terus mengalami kenaikan.  

Dia berharap ada perhatian dari pemerintah untuk mengendalikan harga ayam. Sebab kenaikan harga ayam saat ini tidak wajar jika dikaitkan dengan daya beli masyarakat yang cenderung turun. ‘’Seharusnya kenaikan harga terjadi ketika kondisi pasar sedang ramai sehingga pedagang tidak perlu mencari tambahan modal karena tidak bisa kulakan,’’ terangnya.

Baca Juga :  BAGIKAN 300 PAKET SEMBAKO UNTUK KAUM DHUAFA SEKITAR PERUSAHAAN

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/