alexametrics
28.3 C
Bojonegoro
Tuesday, May 17, 2022

Dari Bodjonegoro Menjadi Bojonegoro

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Masyarakat tentu tidak banyak mengenal lambang daerah Bojonegoro di masa silam. Logo lama identik warna hijau dengan komoditas unggul Bojonegoro, yakni tembakau dan jati.

Belum diketahui secara pasti, penerapan logo lama itu. Hanya, logo tersebut sulit dicari jejaknya. Dalam mesin pencari digital juga tidak ditemukan sejarah cikal bakal dan makna dari lambang daerah masa silam itu.

Nanang Fahrudin, salah satu penulis buku Bodjonegoro Tempoe Doeloe mengatakan, tidak ada referensi pasti logo lama Bojonegoro dipakai hingga tahun berapa. Hanya, berdasar risetnya memang warga Bojonegoro sendiri banyak yang tidak tahu logo lama dengan visualisasi antara daun tembakau dan daun jati.

Nanang, sapaan akrabnya, mengatakan, lambang Bojonegoro lama digunakan di KTP orang-orang kelahiran 1970-an. ’’Coba saja lihat KTP milik mbah. Itu ada logo kecil Bojonegoro berwarna hijau dengan daun tembakau dan daun jati di sisi kanan kirinya,’’ ujar pemuda tinggal di Desa Bungur, Kecamatan Kanor itu.

Baca Juga :  Lebih Suka Lompat Jauh

Dia mengatakan, tidak mendapat referensi pasti. Namun, hanya berasal dari penalaran saja. Bojonegoro memang memiliki industri tembakau yang mengalami pasang surut. Namun, masa kejayaan tembakau bisa dilihat dengan banyaknya rumah pengeringan tembakau untuk menopang industri rokok di Bojonegoro.

Begitu pula dengan daun jati. Jika ditafsirkan, memang Bojonegoro memiliki pohon jati yang dikenal dengan kualitasnya. Sementara daunnya yang lebar digunakan sebagai pembungkus makanan. Bahkan, daun jati digunakan bungkus nasi buwuhan.

’’Referensi pasti logo lama sulit dicari. Padahal, setiap lambang daerah pasti disusun oleh peraturan daerah atau perda. Saya tidak menemukan perda yang mengatur logo lama itu,’’ ujar pria bergiat di pers ini.

Logo lama masih memakai ejaan Bodjonegoro. Sebelum menggunakan ejaan yang disempurnakan (EYD) penulisan Bojonegoro memakai dj. Setelah diberlakukan EYD nama Bodjonegoro di dokumen-dokumen negara diubah menjadi Bojonegoro dengan menghilangkan huruf d.

Baca Juga :  14.500 Pendaftar Menanti BLT UMKM, Masih Tunggu Keputusan Kementrian

Hingga era 1950-an, kayu jati masih menjadi primadona. Pengiriman kayu dilakukan dengan jalur transportasi darat dan sungai. Transportasi melalui Sungai Bengawan Solo ke Manyar, Gresik. Dermaga pemberangkatan rakit-rakit itu berada di Desa Ngulanan, Kecamatan Dander.

Dia menceritakan, logo lama itu selanjutnya diganti dengan logo bergambar padi dan kapas sebagaimana lambang daerah Bojonegoro kini. Logo padi dan kapas itu berdasarkan Perda Nomor 4 Tahun 1977 yang disahkan tanggal 28 Agustus 1977.

Dalam buku Bodjonegoro Tempoe Doeloe itu mengatakan, tertera tangkai padi dengan 45 butir bewarna kuning keemasan. Dan tangkai kapas berbunga 17 kuntum merekah. Di bawahnya ada tulisan Jer Karya Raharja Mawa Karya mengandung makna kiasan bahwa suatu usaha untuk mencapai kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat tidak pernah kunjung tiba tanpa dibarengi bekerja keras dan bekerja nyata atas dasar pengabdian tulus dan ikhlas.’’Logo baru saat ini bisa kita cari di website. Logo lama memang sulit dicari cikal bakalnya,’’ tuturnya.

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Masyarakat tentu tidak banyak mengenal lambang daerah Bojonegoro di masa silam. Logo lama identik warna hijau dengan komoditas unggul Bojonegoro, yakni tembakau dan jati.

Belum diketahui secara pasti, penerapan logo lama itu. Hanya, logo tersebut sulit dicari jejaknya. Dalam mesin pencari digital juga tidak ditemukan sejarah cikal bakal dan makna dari lambang daerah masa silam itu.

Nanang Fahrudin, salah satu penulis buku Bodjonegoro Tempoe Doeloe mengatakan, tidak ada referensi pasti logo lama Bojonegoro dipakai hingga tahun berapa. Hanya, berdasar risetnya memang warga Bojonegoro sendiri banyak yang tidak tahu logo lama dengan visualisasi antara daun tembakau dan daun jati.

Nanang, sapaan akrabnya, mengatakan, lambang Bojonegoro lama digunakan di KTP orang-orang kelahiran 1970-an. ’’Coba saja lihat KTP milik mbah. Itu ada logo kecil Bojonegoro berwarna hijau dengan daun tembakau dan daun jati di sisi kanan kirinya,’’ ujar pemuda tinggal di Desa Bungur, Kecamatan Kanor itu.

Baca Juga :  Pendaftar Kepala Disdik Kosong

Dia mengatakan, tidak mendapat referensi pasti. Namun, hanya berasal dari penalaran saja. Bojonegoro memang memiliki industri tembakau yang mengalami pasang surut. Namun, masa kejayaan tembakau bisa dilihat dengan banyaknya rumah pengeringan tembakau untuk menopang industri rokok di Bojonegoro.

Begitu pula dengan daun jati. Jika ditafsirkan, memang Bojonegoro memiliki pohon jati yang dikenal dengan kualitasnya. Sementara daunnya yang lebar digunakan sebagai pembungkus makanan. Bahkan, daun jati digunakan bungkus nasi buwuhan.

’’Referensi pasti logo lama sulit dicari. Padahal, setiap lambang daerah pasti disusun oleh peraturan daerah atau perda. Saya tidak menemukan perda yang mengatur logo lama itu,’’ ujar pria bergiat di pers ini.

Logo lama masih memakai ejaan Bodjonegoro. Sebelum menggunakan ejaan yang disempurnakan (EYD) penulisan Bojonegoro memakai dj. Setelah diberlakukan EYD nama Bodjonegoro di dokumen-dokumen negara diubah menjadi Bojonegoro dengan menghilangkan huruf d.

Baca Juga :  Kapal Tenggelam, 12 Nelayan Lamongan Dievakuasi ke Masalembu 

Hingga era 1950-an, kayu jati masih menjadi primadona. Pengiriman kayu dilakukan dengan jalur transportasi darat dan sungai. Transportasi melalui Sungai Bengawan Solo ke Manyar, Gresik. Dermaga pemberangkatan rakit-rakit itu berada di Desa Ngulanan, Kecamatan Dander.

Dia menceritakan, logo lama itu selanjutnya diganti dengan logo bergambar padi dan kapas sebagaimana lambang daerah Bojonegoro kini. Logo padi dan kapas itu berdasarkan Perda Nomor 4 Tahun 1977 yang disahkan tanggal 28 Agustus 1977.

Dalam buku Bodjonegoro Tempoe Doeloe itu mengatakan, tertera tangkai padi dengan 45 butir bewarna kuning keemasan. Dan tangkai kapas berbunga 17 kuntum merekah. Di bawahnya ada tulisan Jer Karya Raharja Mawa Karya mengandung makna kiasan bahwa suatu usaha untuk mencapai kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat tidak pernah kunjung tiba tanpa dibarengi bekerja keras dan bekerja nyata atas dasar pengabdian tulus dan ikhlas.’’Logo baru saat ini bisa kita cari di website. Logo lama memang sulit dicari cikal bakalnya,’’ tuturnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/