alexametrics
25.2 C
Bojonegoro
Sunday, August 14, 2022

Beras Berkutu-Bau Harus Diusut Tuntas

- Advertisement -

TUBAN, Radar Tuban – Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) Jatim angkat bicara soal beras bantuan pangan non tunai (BPNT) yang ditemukan berkutu dan bau.

Koordinator Advokasi Anggaran Fitra Jawa Timur Miftahul Huda menyesalkan masih ditemukannya bantuan sosial berupa beras tidak layak konsumsi tersebut. Menurut dia, seharusnya kejadian tersebut tidak terulang. ‘’Dulu, program raskin juga pernah seperti ini, berasnya berkutu dan bau. Sekarang, mesti programnya sudah berubah, tapi masih saja sama. Lagi-lagi ditemukan beras yang berkutu dan bau,’’ ujar Miftah menyesalkan terulangnya kasus yang sama.

Ditegaskan dia, perkara bantuan sosial yang tidak sesuai spesifikasi ini tidak bisa dianggap sepele. Polisi harus menuntaskan proses penyelidikan hingga penyidikan. Mengungkap dari mana asal beras tidak sesuai standar yang ditetapkan Kementerian Sosial (Kemensos) itu. ‘’Polisi harus mengungkap ini, karena beras yang diterima KPM (keluarga penerima manfaat, Red) tidak sesuai spek,’’ tegas mantan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ini.

Baca Juga :  Masih Terapkan Pembelajaran Tatap Muka Penuh

Miftah lebih lanjut menyampaikan, jika tidak ada komitmen dari Bulog sebagai penyedia beras maupun pihak terkait untuk menjamin kualitas beras yang diterima KPM, maka lebih baik dikembalikan ke sistem awal. Supplier mengambil langsung beras dari petani. ‘’Jika komitmen, lebih baik seperti itu. Dikembalikan ke sistem awal. Karena sebelumnya terbukti tidak ada masalah. Beras yang diterima KPM kualitasnya premium,’’ tegasnya.

Dikonfirmasi terpisah, Kasatreskrim Polres Tuban AKP Mustijat Priyambodo mengatakan, pengusutan kasus bantuan sosial berupa beras yang tidak sesuai spesifikasi itu masih belum menemukan titik terang. Sampai saat ini pihaknya masih mengumpulkan bahan keterangan dan alat bukti. ‘’Sementara belum (ada titik terang, Red),’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Tuban.

Baca Juga :  Tak Penuhi Target, Korkab Bisa Dikeluarkan
- Advertisement -

Begitu juga saat disinggung terkait kemungkinan penyimpangan pengadaan beras, karena tidak sesuai spesifikasi. Perwira berpangkat balok tiga di pundaknya ini enggan berkomentar.

Sekadar diketahui, beras BPNT dengan kualitas yang jelek, berkutu dan bau ditemukan di sejumlah kecamatan. Salah satunya di Kecamatan Jenu. Di Desa Socorejo, masyarakat KPM beramai-ramai mengembalikan beras yang tidak layak konsumsi. Bahkan, proses pengembalian itu berlangsung sampai dua kali, karena kualitasnya masih saja sama. Meski demikian, Perum Bulog membantah bahwa beras tersebut berasal dari gudangnya.  Bulog juga mengklaim bahwa beras BPNT yang disuplai merupakan beras dengan kualitas bagus dan layak dikonsumsi.

TUBAN, Radar Tuban – Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) Jatim angkat bicara soal beras bantuan pangan non tunai (BPNT) yang ditemukan berkutu dan bau.

Koordinator Advokasi Anggaran Fitra Jawa Timur Miftahul Huda menyesalkan masih ditemukannya bantuan sosial berupa beras tidak layak konsumsi tersebut. Menurut dia, seharusnya kejadian tersebut tidak terulang. ‘’Dulu, program raskin juga pernah seperti ini, berasnya berkutu dan bau. Sekarang, mesti programnya sudah berubah, tapi masih saja sama. Lagi-lagi ditemukan beras yang berkutu dan bau,’’ ujar Miftah menyesalkan terulangnya kasus yang sama.

Ditegaskan dia, perkara bantuan sosial yang tidak sesuai spesifikasi ini tidak bisa dianggap sepele. Polisi harus menuntaskan proses penyelidikan hingga penyidikan. Mengungkap dari mana asal beras tidak sesuai standar yang ditetapkan Kementerian Sosial (Kemensos) itu. ‘’Polisi harus mengungkap ini, karena beras yang diterima KPM (keluarga penerima manfaat, Red) tidak sesuai spek,’’ tegas mantan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ini.

Baca Juga :  Kawal Pembangunan Kesehatan dengan Program Germas

Miftah lebih lanjut menyampaikan, jika tidak ada komitmen dari Bulog sebagai penyedia beras maupun pihak terkait untuk menjamin kualitas beras yang diterima KPM, maka lebih baik dikembalikan ke sistem awal. Supplier mengambil langsung beras dari petani. ‘’Jika komitmen, lebih baik seperti itu. Dikembalikan ke sistem awal. Karena sebelumnya terbukti tidak ada masalah. Beras yang diterima KPM kualitasnya premium,’’ tegasnya.

Dikonfirmasi terpisah, Kasatreskrim Polres Tuban AKP Mustijat Priyambodo mengatakan, pengusutan kasus bantuan sosial berupa beras yang tidak sesuai spesifikasi itu masih belum menemukan titik terang. Sampai saat ini pihaknya masih mengumpulkan bahan keterangan dan alat bukti. ‘’Sementara belum (ada titik terang, Red),’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Tuban.

Baca Juga :  DTKS Tidak Update, Picu Persoalan Mendasar Kemiskinan
- Advertisement -

Begitu juga saat disinggung terkait kemungkinan penyimpangan pengadaan beras, karena tidak sesuai spesifikasi. Perwira berpangkat balok tiga di pundaknya ini enggan berkomentar.

Sekadar diketahui, beras BPNT dengan kualitas yang jelek, berkutu dan bau ditemukan di sejumlah kecamatan. Salah satunya di Kecamatan Jenu. Di Desa Socorejo, masyarakat KPM beramai-ramai mengembalikan beras yang tidak layak konsumsi. Bahkan, proses pengembalian itu berlangsung sampai dua kali, karena kualitasnya masih saja sama. Meski demikian, Perum Bulog membantah bahwa beras tersebut berasal dari gudangnya.  Bulog juga mengklaim bahwa beras BPNT yang disuplai merupakan beras dengan kualitas bagus dan layak dikonsumsi.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/