alexametrics
25.2 C
Bojonegoro
Sunday, August 14, 2022

Layak Jadi Cagar Budaya

- Advertisement -

RUMAH sarat sejarah yang pernah disinggahi Presiden Soekarno pada 9 Juli 1957 silam itu sudah layak jadi cagar budaya. Selain arsitektur, juga interior bangunan tersebut masih utuh.

Menurut salah satu arkeolog sekaligus pegawai Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro Nunung Dianawati, meski rumah itu tidak pernah disinggahi Bung Karno pun sudah layak jadi cagar budaya.

“Karena melihat dari gaya arsitektur rumah yang indies (Belanda) itu sudah layak dijadikan cagar budaya,” ujar perempuan asal Kelurahan Karangpacar itu.

Perempuan yang juga tergabung tim ahli cagar budaya Bojonegoro itu sudah pernah merundingkan menjadikan rumah tersebut sebagai cagar budaya. Namun, masih ada beberapa pertimbangan yang perlu dikaji. Apalagi, status rumah masih milik pribadi.

Baca Juga :  Lebah Trigona Lebih Menjanjikan, Begini Cerita Peternak di Lamongan...

“Ketika ditetapkan cagar budaya, ada banyak syarat harus dipenuhi. Salah satunya tidak boleh mengubah keaslian rumah tersebut,” tuturnya.

- Advertisement -

Nantinya apabila rumah itu dijadikan cagar budaya, Pemkab Bojonegoro juga ikut merawat dan membayar pajak bumi bangunan (PBB) setengahnya. Kerap kali rumah pribadi yang dijadikan cagar budaya membuat pemilik rumah tidak leluasa menempatinya. Tetapi, sepengamatannya pemilik rumah itu sangat merawat dan tetap mempertahankan keaslian arsitekturnya.

Sementara itu, ada empat situs yang sudah direkomendasikan ke Pemkab Bojonegoro sebagai cagar budaya. Yakni rumah kuno peninggalan Belanda di Kecamatan Padangan. Tahun lalu, pemkab telah membeli rumah kuno tersebut.

Serta, makam kubur kalang di Desa Tanggir, Kecamatan Malo, pill box zaman Jepang di bawah Jembatan Kaliketek, dan perahu besi Desa Ngraho, Kecamatan Gayam.

Baca Juga :  Yua Piyur Alifah, Siswi SMAN Gelar Perpustakaan Berkonsep Camping

Kepala Bidang (Kabid) Kelembagaan dan SDM Pariwisata dan Budaya Disbudpar Bojonegoro Dyah Enggarini mengaku kurang memahami secara utuh terkait cagar budaya. “Mbak Nunung yang lebih paham mas, karena urusan penetapan cagar budaya memang ada banyak pertimbangan,” ujarnya.

Jawa Pos Radar Bojonegoro juga sudah berusaha menghubungi Kepala Disbudpar Bojonegoro Amir Syahid melalui sambungan telepon. Namun, tidak ada jawaban setelah beberapa kali dihubungi.

RUMAH sarat sejarah yang pernah disinggahi Presiden Soekarno pada 9 Juli 1957 silam itu sudah layak jadi cagar budaya. Selain arsitektur, juga interior bangunan tersebut masih utuh.

Menurut salah satu arkeolog sekaligus pegawai Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro Nunung Dianawati, meski rumah itu tidak pernah disinggahi Bung Karno pun sudah layak jadi cagar budaya.

“Karena melihat dari gaya arsitektur rumah yang indies (Belanda) itu sudah layak dijadikan cagar budaya,” ujar perempuan asal Kelurahan Karangpacar itu.

Perempuan yang juga tergabung tim ahli cagar budaya Bojonegoro itu sudah pernah merundingkan menjadikan rumah tersebut sebagai cagar budaya. Namun, masih ada beberapa pertimbangan yang perlu dikaji. Apalagi, status rumah masih milik pribadi.

Baca Juga :  BKD Lamongan Ajukan 230 CPNS dan 325 Kuota PPPK Tahun 2021

“Ketika ditetapkan cagar budaya, ada banyak syarat harus dipenuhi. Salah satunya tidak boleh mengubah keaslian rumah tersebut,” tuturnya.

- Advertisement -

Nantinya apabila rumah itu dijadikan cagar budaya, Pemkab Bojonegoro juga ikut merawat dan membayar pajak bumi bangunan (PBB) setengahnya. Kerap kali rumah pribadi yang dijadikan cagar budaya membuat pemilik rumah tidak leluasa menempatinya. Tetapi, sepengamatannya pemilik rumah itu sangat merawat dan tetap mempertahankan keaslian arsitekturnya.

Sementara itu, ada empat situs yang sudah direkomendasikan ke Pemkab Bojonegoro sebagai cagar budaya. Yakni rumah kuno peninggalan Belanda di Kecamatan Padangan. Tahun lalu, pemkab telah membeli rumah kuno tersebut.

Serta, makam kubur kalang di Desa Tanggir, Kecamatan Malo, pill box zaman Jepang di bawah Jembatan Kaliketek, dan perahu besi Desa Ngraho, Kecamatan Gayam.

Baca Juga :  Pasien Isoman Bisa Pinjam Tabung Oksigen di Polres

Kepala Bidang (Kabid) Kelembagaan dan SDM Pariwisata dan Budaya Disbudpar Bojonegoro Dyah Enggarini mengaku kurang memahami secara utuh terkait cagar budaya. “Mbak Nunung yang lebih paham mas, karena urusan penetapan cagar budaya memang ada banyak pertimbangan,” ujarnya.

Jawa Pos Radar Bojonegoro juga sudah berusaha menghubungi Kepala Disbudpar Bojonegoro Amir Syahid melalui sambungan telepon. Namun, tidak ada jawaban setelah beberapa kali dihubungi.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/