alexametrics
26.8 C
Bojonegoro
Friday, May 20, 2022

Kenaikan Harga Beras Dirasa Wajar

BOJONEGORO – Kenaikan harga beras antara Rp 300 sampai Rp 500 per kilogram masih dianggap normal. Dinas Perdagangan (Disdag) Bojonegoro belum melakukan tindakan serius. Sebab, kenaikan itu masih di bawah harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan Kementerian Perdagangan. 

Kabid Bina Sarana Perdagangan Disdag Bojonegoro Agus Haryana mengatakan, kenaikan harga beras di sejumlah pasar tradisional masih wajar. Produksi bulan ini cenderung menurun, sedangkan kebutuhan konsumen masih tinggi. Karena itu, sejumlah pengusaha cenderung menaikkan harga karena ketersediaan barang memang kurang. 

Menurut Agus, selama ini harga cenderung ditentukan oleh pasar. Sehingga, pemerintah akan sulit melakukan stabilisasi. Sebab, ketika harga tersebut ditetapkan berdasarkan HET, pertimbangannya juga lebih khusus. Seperti ketersediaan, kebutuhan, dan kemampuan daya beli. 

Baca Juga :  Partai Golkar-United Russia Party MoU Dorong Penguatan Investasi

’’Sama halnya dengan minyak goreng dan gula, harganya bisa dikendalikan,” ujarnya kemarin (18/8). 

Jika harga bisa disesuaikan HET, lanjut dia, konsumen akan diuntungkan karena meski persediaan beras menipis harga tidak akan naik. Berbeda jika tidak ada kebijakan khusus mengenai harga, kenaikan dipastikan akan terus ada. 

Kenaikan harga beras, kata Agus, dipicu oleh distribusi dan kondisi pasar. Karena selama ini harga dikendalikan oleh pasar, bukan pemerintah. Sehingga, tidak bisa setara. Namun, jika kenaikan beras terjadi secara terus-menerus, pihaknya akan melakukan survei persediaan ke perusahaan. Apabila kenaikan dipengaruhi minimnya stok, pihaknya akan menggandeng pihak terkait melakukan operasi pasar. 

Ahmad, penjual beras di Bojonegoro, mengatakan, kondisi pertanian bulan ini kurang produktif. Apalagi pertanian padi, hanya mengandalkan daerah di wilayah bantaran Bengawan Solo. Sehingga, dampaknya produksi beras turun, tapi kebutuhan pasar tetap tinggi. 

Baca Juga :  TKI asal Temayang yang Jatuh dari Bangunan Setinggi 15 Meter

Harga beras medium Rp 8.500 dari sebelumnya Rp 8.200. Sedangkan, premium Rp 9.500, dari harga sebelumnya Rp 9.000. ’’Untuk konsumsi, masyarakat Bojonegoro masih mengandalkan jenis premium dan medium,” ujarnya. 

BOJONEGORO – Kenaikan harga beras antara Rp 300 sampai Rp 500 per kilogram masih dianggap normal. Dinas Perdagangan (Disdag) Bojonegoro belum melakukan tindakan serius. Sebab, kenaikan itu masih di bawah harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan Kementerian Perdagangan. 

Kabid Bina Sarana Perdagangan Disdag Bojonegoro Agus Haryana mengatakan, kenaikan harga beras di sejumlah pasar tradisional masih wajar. Produksi bulan ini cenderung menurun, sedangkan kebutuhan konsumen masih tinggi. Karena itu, sejumlah pengusaha cenderung menaikkan harga karena ketersediaan barang memang kurang. 

Menurut Agus, selama ini harga cenderung ditentukan oleh pasar. Sehingga, pemerintah akan sulit melakukan stabilisasi. Sebab, ketika harga tersebut ditetapkan berdasarkan HET, pertimbangannya juga lebih khusus. Seperti ketersediaan, kebutuhan, dan kemampuan daya beli. 

Baca Juga :  TKI asal Temayang yang Jatuh dari Bangunan Setinggi 15 Meter

’’Sama halnya dengan minyak goreng dan gula, harganya bisa dikendalikan,” ujarnya kemarin (18/8). 

Jika harga bisa disesuaikan HET, lanjut dia, konsumen akan diuntungkan karena meski persediaan beras menipis harga tidak akan naik. Berbeda jika tidak ada kebijakan khusus mengenai harga, kenaikan dipastikan akan terus ada. 

Kenaikan harga beras, kata Agus, dipicu oleh distribusi dan kondisi pasar. Karena selama ini harga dikendalikan oleh pasar, bukan pemerintah. Sehingga, tidak bisa setara. Namun, jika kenaikan beras terjadi secara terus-menerus, pihaknya akan melakukan survei persediaan ke perusahaan. Apabila kenaikan dipengaruhi minimnya stok, pihaknya akan menggandeng pihak terkait melakukan operasi pasar. 

Ahmad, penjual beras di Bojonegoro, mengatakan, kondisi pertanian bulan ini kurang produktif. Apalagi pertanian padi, hanya mengandalkan daerah di wilayah bantaran Bengawan Solo. Sehingga, dampaknya produksi beras turun, tapi kebutuhan pasar tetap tinggi. 

Baca Juga :  Bisnis Parsel Mulai Marak

Harga beras medium Rp 8.500 dari sebelumnya Rp 8.200. Sedangkan, premium Rp 9.500, dari harga sebelumnya Rp 9.000. ’’Untuk konsumsi, masyarakat Bojonegoro masih mengandalkan jenis premium dan medium,” ujarnya. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/