alexametrics
24.7 C
Bojonegoro
Wednesday, May 25, 2022

Sosok Baru yang Jadi Solusi

PENGAMAT komunikasi politik Amrullah Ali Moebin menilai, pernyataan bupati yang menilai Mirza Ali Manshur sebagai sosok pemimpin masa depan memiliki banyak arti.

‘’Dalam kajian atau teori komunikasi dramaturgi, seorang politisi itu apa yang disampaikan di depan dan dirumuskan di belakang kadang berbeda,’’ ujar Aam, sapaan akrabnya.

Nah, apakah pernyataan yang disampaikan bupati dalam menilai Aming, sapaan akrab Mirza Ali Manshur, itu benar-benar tulus untuk memberikan simpati kepada Aming, bahwa yang bersangkutan benar-benar layak menjadi pemimpin masa untuk melanjutkan kepemimpinannya sebagai bupati atau hanya sebatas lips service. ‘’Itu yang tahu hanya Pak Bupati,’’ tandas dosen ilmu komunikasi politik Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Tulungagung itu.

Baca Juga :  M. Tawwabur Rokhim, Ubah Tanaman Secang Jadi Minuman Sarat Manfaat

Namun demikian, lanjut Aam, apa yang disampaikan bupati itu juga bisa dinilai sebagai harapan untuk memunculkan sosok baru dalam perebutan kursi bupati pada pemilihan kepala daerah (pilkada) 2020. ‘’Dari enam calon internal PKB yang muncul, nama Pak Mirza kan tidak ada. Nah, menurut saya ini bisa menjadi solusi jika nanti dibutuhkan sosok baru,’’ terang pengamat komunikasi politik jebolan pascasarjana Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) Surabaya itu.

Aam lebih lanjut menyampaikan, dibanding enam calon dari PKB yang muncul, semuanya merupakan sosok politisi dan tokoh NU yang sudah lama dikenal. Baik lama dalam arti usia maupun lama berada di lingkungan keluarga penguasa. Sehingga, apabila nanti masyarakat membutuhkan sosok baru, maka putra tokoh nahdliyin Ahmad Fauzan Umar itu bisa menjadi solusi yang merepresentatifkan sebagai kader muda NU. Dan, isyarat tawaran tersebut sudah disampaikan bupati. ‘’Terkadang masyarakat itu membutuhkan sosok baru dan muda. Nah, Pak Mirza bisa menjadi solusi. Selain sosok baru, juga masih muda,’’ tandas akademisi asli Tuban itu.

Baca Juga :  Rekrut Caleg Potensial

PENGAMAT komunikasi politik Amrullah Ali Moebin menilai, pernyataan bupati yang menilai Mirza Ali Manshur sebagai sosok pemimpin masa depan memiliki banyak arti.

‘’Dalam kajian atau teori komunikasi dramaturgi, seorang politisi itu apa yang disampaikan di depan dan dirumuskan di belakang kadang berbeda,’’ ujar Aam, sapaan akrabnya.

Nah, apakah pernyataan yang disampaikan bupati dalam menilai Aming, sapaan akrab Mirza Ali Manshur, itu benar-benar tulus untuk memberikan simpati kepada Aming, bahwa yang bersangkutan benar-benar layak menjadi pemimpin masa untuk melanjutkan kepemimpinannya sebagai bupati atau hanya sebatas lips service. ‘’Itu yang tahu hanya Pak Bupati,’’ tandas dosen ilmu komunikasi politik Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Tulungagung itu.

Baca Juga :  Sekkab Diantar Milenial, Wabup Kirim Utusan

Namun demikian, lanjut Aam, apa yang disampaikan bupati itu juga bisa dinilai sebagai harapan untuk memunculkan sosok baru dalam perebutan kursi bupati pada pemilihan kepala daerah (pilkada) 2020. ‘’Dari enam calon internal PKB yang muncul, nama Pak Mirza kan tidak ada. Nah, menurut saya ini bisa menjadi solusi jika nanti dibutuhkan sosok baru,’’ terang pengamat komunikasi politik jebolan pascasarjana Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) Surabaya itu.

Aam lebih lanjut menyampaikan, dibanding enam calon dari PKB yang muncul, semuanya merupakan sosok politisi dan tokoh NU yang sudah lama dikenal. Baik lama dalam arti usia maupun lama berada di lingkungan keluarga penguasa. Sehingga, apabila nanti masyarakat membutuhkan sosok baru, maka putra tokoh nahdliyin Ahmad Fauzan Umar itu bisa menjadi solusi yang merepresentatifkan sebagai kader muda NU. Dan, isyarat tawaran tersebut sudah disampaikan bupati. ‘’Terkadang masyarakat itu membutuhkan sosok baru dan muda. Nah, Pak Mirza bisa menjadi solusi. Selain sosok baru, juga masih muda,’’ tandas akademisi asli Tuban itu.

Baca Juga :  Politisi Gerindra juga Berkaus Fredy

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/