alexametrics
25.9 C
Bojonegoro
Friday, May 27, 2022

Sembilan Tahun, Dirikan Lima Kedai

ABDUSSOMAD berbisnis kedai kopi sejak 2010. Dia mampu melebarkan sayap dalam berbisnis kopi. Saat ini, ada lima titik dengan puluhan karyawan yang menggantungkan gaji setiap bulan.

Cukup sulit menemui Abdussomad. Kesibukannya memantau kerajaan bisnis miliknya tidak bisa dihindari. Apalagi saat ini dia sedang mengerjakan projek kedai baru di Kecamatan Sugio. Pebisnis kelahiran Glagah ini memutuskan membuka usaha sendiri setelah keluar dari pekerjaan sebelumnya, menjaga kedai kopi milik orang.

“Sebelumnya memang ikut di kedai kopi. Awal membuka usaha didukung sama juragan yang dulu,” tutur bapak satu anak ini.

Sebagai pemilik kedai kopi, penting sekali mempelajari trik-trik pengelolaan. Pengalamannya bekerja di kedai kopi sangat menguntungkan. Selain mengadopsi cara membuat kopi, dia banyak belajar tentang manajerialnya. Maraknya pengusaha kopi di Lamongan harus dipikirkan. Jika tidak pandai mensiasati, maka pengusaha akan mundur dan gulung tikar. Ilmu itu didapatnya selama tiga tahun menjadi karyawan. Ternyata memang terjadi, dan hampir semua pengusaha akan merasakannya.

Baca Juga :  Manufacturing Hope

Somad melihat pengusaha kopi Lamongan sebagian besar pemain lama. Mereka sudah memiliki bisnis di luar kota. Kemudian mengembangkan usaha di kampung halamannya. Untuk kopi, dia tidak membuat sendiri. Melainkan ada suplier. “Jadi ada lima kedai kopi besar yang saya droping, tapi kopinya juga dari luar kota,” ujar pria kelahiran Glagah tersebut.

Mengawali bisnis kopi dengan puluhan bahkan ratusan pesaing, tidak mudah. Untuk menentukan lokasi, dia bisa tiga empat kali survei. Sangat jarang satu dua kali survei langsung jadi. Selain pertimbangan titiknya dan lahan parkir, juga harga sewa. Apalagi untuk lokasi yang strategis di tengah kota. Harga yang ditawarkan juga tinggi.

Untuk sewa di kawasan yang ada di pusat kota, Somad harus merogoh kocek lebih dari Rp 20 juta setiap tahun. Belum tagihan listrik, PDAM, wifi, dan pajak yang dipungut daerah. Pengeluaran ini harus dimanage sejak awal. Apalagi seluruh karyawannya menerapkan sistem gaji bulanan.

Baca Juga :  Koalisi PAN Sudah Komplet

Seluruh karyawannya diberlakukan shif. Ada dua shift untuk pekerjaan 24 jam. Dia memilih karyawan nonmahasiswa agar bisa bekerja maksimal. Sebab kesehatan karyawan juga menjadi pertimbangannya memerkerjakan mahasiswa. Untuk kedainya, sampai sekarang masih mengandalkan menu kopi Jawa. Kopi khas pecinta kopi lokal masih diunggulkan. Sehingga konsep semi kafe belum diusungnya. Sebab pengunjungnya belum berubah sejak sembilan tahun dibuka. Mereka cukup nyaman dengan konsep warung yang ditawarkan. “Kalau saya sisipi menu lain juga kurang diminati,” tuturnya.

Belanja untuk tempat usahanya, dilakukan sendiri. Kebutuhan belanja, maksimal satu hari Rp 1 juta. Anggaran itu menyesuaikan dengan kunjungan. Sehingga tidak bisa menjadi patokan. Somad hanya berusaha agar kedainya tetap diminati. Saat ini ada lima kedai. Di lingkup kota tiga, Sidoarjo satu, dan Sugio satu. Maraknya penjual kopi baru tidak menjadikan saingan baginya. Karena setiap kedai kopi memiliki pelanggan sendiri-sendiri.

ABDUSSOMAD berbisnis kedai kopi sejak 2010. Dia mampu melebarkan sayap dalam berbisnis kopi. Saat ini, ada lima titik dengan puluhan karyawan yang menggantungkan gaji setiap bulan.

Cukup sulit menemui Abdussomad. Kesibukannya memantau kerajaan bisnis miliknya tidak bisa dihindari. Apalagi saat ini dia sedang mengerjakan projek kedai baru di Kecamatan Sugio. Pebisnis kelahiran Glagah ini memutuskan membuka usaha sendiri setelah keluar dari pekerjaan sebelumnya, menjaga kedai kopi milik orang.

“Sebelumnya memang ikut di kedai kopi. Awal membuka usaha didukung sama juragan yang dulu,” tutur bapak satu anak ini.

Sebagai pemilik kedai kopi, penting sekali mempelajari trik-trik pengelolaan. Pengalamannya bekerja di kedai kopi sangat menguntungkan. Selain mengadopsi cara membuat kopi, dia banyak belajar tentang manajerialnya. Maraknya pengusaha kopi di Lamongan harus dipikirkan. Jika tidak pandai mensiasati, maka pengusaha akan mundur dan gulung tikar. Ilmu itu didapatnya selama tiga tahun menjadi karyawan. Ternyata memang terjadi, dan hampir semua pengusaha akan merasakannya.

Baca Juga :  Disemayamkan Dengan Penuh Penghormatan

Somad melihat pengusaha kopi Lamongan sebagian besar pemain lama. Mereka sudah memiliki bisnis di luar kota. Kemudian mengembangkan usaha di kampung halamannya. Untuk kopi, dia tidak membuat sendiri. Melainkan ada suplier. “Jadi ada lima kedai kopi besar yang saya droping, tapi kopinya juga dari luar kota,” ujar pria kelahiran Glagah tersebut.

Mengawali bisnis kopi dengan puluhan bahkan ratusan pesaing, tidak mudah. Untuk menentukan lokasi, dia bisa tiga empat kali survei. Sangat jarang satu dua kali survei langsung jadi. Selain pertimbangan titiknya dan lahan parkir, juga harga sewa. Apalagi untuk lokasi yang strategis di tengah kota. Harga yang ditawarkan juga tinggi.

Untuk sewa di kawasan yang ada di pusat kota, Somad harus merogoh kocek lebih dari Rp 20 juta setiap tahun. Belum tagihan listrik, PDAM, wifi, dan pajak yang dipungut daerah. Pengeluaran ini harus dimanage sejak awal. Apalagi seluruh karyawannya menerapkan sistem gaji bulanan.

Baca Juga :  Manufacturing Hope

Seluruh karyawannya diberlakukan shif. Ada dua shift untuk pekerjaan 24 jam. Dia memilih karyawan nonmahasiswa agar bisa bekerja maksimal. Sebab kesehatan karyawan juga menjadi pertimbangannya memerkerjakan mahasiswa. Untuk kedainya, sampai sekarang masih mengandalkan menu kopi Jawa. Kopi khas pecinta kopi lokal masih diunggulkan. Sehingga konsep semi kafe belum diusungnya. Sebab pengunjungnya belum berubah sejak sembilan tahun dibuka. Mereka cukup nyaman dengan konsep warung yang ditawarkan. “Kalau saya sisipi menu lain juga kurang diminati,” tuturnya.

Belanja untuk tempat usahanya, dilakukan sendiri. Kebutuhan belanja, maksimal satu hari Rp 1 juta. Anggaran itu menyesuaikan dengan kunjungan. Sehingga tidak bisa menjadi patokan. Somad hanya berusaha agar kedainya tetap diminati. Saat ini ada lima kedai. Di lingkup kota tiga, Sidoarjo satu, dan Sugio satu. Maraknya penjual kopi baru tidak menjadikan saingan baginya. Karena setiap kedai kopi memiliki pelanggan sendiri-sendiri.

Artikel Terkait

Most Read

Owner Miliki Aset Perhiasan

Lagi, Maling Motor Dibekuk

Ajak Pemuda Berkompetisi

Artikel Terbaru


/