alexametrics
31.2 C
Bojonegoro
Monday, May 23, 2022

Sehari, Tiga Orang Bunuh Diri

BOJONEGORO – Dalam kurun waktu sehari, tiga warga di wilayah Bojonegoro memutuskan mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Identitas tiga warga tersebut diantaranya Sampi, 85, warga Dusun Piji, Desa Sumberjo, Kecamatan Margomulyo; Wardi, 57, warga Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngraho; dan Sukadi, 60 Dusun Tulung, Desa Karangan, Kecamatan Kepohbaru. Cara bunuh diri ketiga warga tersebut sama, yakni gantung diri.Kasubbag Humas Polres Bojonegoro AKP Mashadi menerangkan, bahwa semua kejadian bunuh diri tersebut terjadi pada Sabtu (17/3) lalu.

Dia pun menyampaikan rata-rata penyebabnya akibat depresi karena sakit yang diderita oleh pelaku bunuh diri tersebut tak kunjung sembuh, ditambah lagi usia yang tua. “Motif bunuh diri di wilayah Bojonegoro didominasi oleh orang lanjut usia yang depresi karena sakit-sakitan dan tak kunjung sembuh,” jelasnya.

Adapun kejadian bunuh diri pada Sabtu lalu memang beruntun. Sampi, 85, warga Dusun Piji, Desa Sumberjo, Kecamatan Margomulyo ditemukan gantung diri oleh anak kandungnya, Sukarlan, di kamar mandi pukul 06.10. Motif bunuh diri karena depresi menderita sakit menahun.

Baca Juga :  Belum Digunakan, Perpustakaan Mini Akan Dibongkar

Lalu Wardi, 57, warga Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngraho pun ditemukan tewas gantung diri oleh anaknya, Jaki, di blandar kamarnya pukul 11.45. Motifnya pun sama, yakni depresi terserang penyakit komplikasi ginjal, hipertensi, dan diabetes.

Kasus serupa juga dialami oleh Sukadi, 60 Dusun Tulung, Desa Karangan, Kecamatan Kepohbaru. Dia juga tewas ditemukan oleh anaknya, Siswantoro, gantung diri di blandar atap rumahnya pukul 21.30. “Namun, motif bunuh diri di Desa Karangan, Kecamatan Kepohbaru tersebut belum diketahui,” jelasnya. Berdasarkan pemeriksaan medis juga tidak ditemukan tanda-tanda penganiayaan, hanya luka bekas jeratan tali di leher.

Tercatat, pada bulan Januari-Maret 2018 sudah 8 kasus bunuh diri. Januari, 3 kasus; Februari, 2 kasus; dan Maret, 3 kasus. Sementara, apabila dilihat jumlah kasus bunuh diri tiap tahunnya di Bojonegoro peningkatannya cukup signifikan. Pada 2015, 8 kasus; 2016, 14 kasus; lalu pada 2017 meningkat drastis sejumlah 33 kasus.

Baca Juga :  Parkir Sembarangan, Truk Diseruduk

Mashadi mengatakan sebagian besar kasus bunuh diri dilakukan dengan cara gantung diri, sisanya minum racun serangga atau menabrakkan diri ke kereta api.Salah satu psikolog di Bojonegoro, Hartatik, mengungkapkan bahwa bunuh diri terjadi karena akumulasi masalah sedari kecil hingga tua dan tidak mau bercerita dengan orang di dekatnya.

Meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa faktor spiritual memang berpengaruh. Karena pondasi berupa iman sangat memberikan dorongan kepada siapapun untuk tidak melakukan bunuh diri. Karena agama apapun mengharamkan bunuh diri.

Tetapi tidak mudah untuk memberikan dogma kepada semua orang. “Sebagai orang yang sedang depresi, kita harus berusaha menjadi kawan mereka, dan memberikan motivasi dan dukungan yang positif juga,” pungkasnya.  

 

BOJONEGORO – Dalam kurun waktu sehari, tiga warga di wilayah Bojonegoro memutuskan mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Identitas tiga warga tersebut diantaranya Sampi, 85, warga Dusun Piji, Desa Sumberjo, Kecamatan Margomulyo; Wardi, 57, warga Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngraho; dan Sukadi, 60 Dusun Tulung, Desa Karangan, Kecamatan Kepohbaru. Cara bunuh diri ketiga warga tersebut sama, yakni gantung diri.Kasubbag Humas Polres Bojonegoro AKP Mashadi menerangkan, bahwa semua kejadian bunuh diri tersebut terjadi pada Sabtu (17/3) lalu.

Dia pun menyampaikan rata-rata penyebabnya akibat depresi karena sakit yang diderita oleh pelaku bunuh diri tersebut tak kunjung sembuh, ditambah lagi usia yang tua. “Motif bunuh diri di wilayah Bojonegoro didominasi oleh orang lanjut usia yang depresi karena sakit-sakitan dan tak kunjung sembuh,” jelasnya.

Adapun kejadian bunuh diri pada Sabtu lalu memang beruntun. Sampi, 85, warga Dusun Piji, Desa Sumberjo, Kecamatan Margomulyo ditemukan gantung diri oleh anak kandungnya, Sukarlan, di kamar mandi pukul 06.10. Motif bunuh diri karena depresi menderita sakit menahun.

Baca Juga :  Hitung Ulang Merata pada 20 Kecamatan

Lalu Wardi, 57, warga Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngraho pun ditemukan tewas gantung diri oleh anaknya, Jaki, di blandar kamarnya pukul 11.45. Motifnya pun sama, yakni depresi terserang penyakit komplikasi ginjal, hipertensi, dan diabetes.

Kasus serupa juga dialami oleh Sukadi, 60 Dusun Tulung, Desa Karangan, Kecamatan Kepohbaru. Dia juga tewas ditemukan oleh anaknya, Siswantoro, gantung diri di blandar atap rumahnya pukul 21.30. “Namun, motif bunuh diri di Desa Karangan, Kecamatan Kepohbaru tersebut belum diketahui,” jelasnya. Berdasarkan pemeriksaan medis juga tidak ditemukan tanda-tanda penganiayaan, hanya luka bekas jeratan tali di leher.

Tercatat, pada bulan Januari-Maret 2018 sudah 8 kasus bunuh diri. Januari, 3 kasus; Februari, 2 kasus; dan Maret, 3 kasus. Sementara, apabila dilihat jumlah kasus bunuh diri tiap tahunnya di Bojonegoro peningkatannya cukup signifikan. Pada 2015, 8 kasus; 2016, 14 kasus; lalu pada 2017 meningkat drastis sejumlah 33 kasus.

Baca Juga :  Akan Tindak Parkir Sembarangan

Mashadi mengatakan sebagian besar kasus bunuh diri dilakukan dengan cara gantung diri, sisanya minum racun serangga atau menabrakkan diri ke kereta api.Salah satu psikolog di Bojonegoro, Hartatik, mengungkapkan bahwa bunuh diri terjadi karena akumulasi masalah sedari kecil hingga tua dan tidak mau bercerita dengan orang di dekatnya.

Meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa faktor spiritual memang berpengaruh. Karena pondasi berupa iman sangat memberikan dorongan kepada siapapun untuk tidak melakukan bunuh diri. Karena agama apapun mengharamkan bunuh diri.

Tetapi tidak mudah untuk memberikan dogma kepada semua orang. “Sebagai orang yang sedang depresi, kita harus berusaha menjadi kawan mereka, dan memberikan motivasi dan dukungan yang positif juga,” pungkasnya.  

 

Artikel Terkait

Most Read

PERSIBO : Fokus Laga Kandang Pamungkas 

Dorong Perempuan Memimpin UKM Berkualitas

Kunjungan RI-1 ke Tuban

Artikel Terbaru


/