alexametrics
28.7 C
Bojonegoro
Monday, August 8, 2022

Tarik Albothyl Dari Peredaran, Ini Kata Dinkes Lamongan

KOTA – Dinas Kesehatan (Dinkes) Lamongan menerima rilis resmi dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) terkait obat sariawan yang ditarik perederannya. Tak hanya Albothyl yang bermasalah. Juga obat sariawan lainnya, Medisio, Prescotide, dan Aptil. ‘’Memang benar. Berdasar rilis resminya, produsen obat sariawan itu diberi waktu sebulan penarikan,’’ tutur Kabid Sumberdaya Kesehatan (SDK) Dinkes Lamongan, Ni Luh Nanik Supeni, kemarin (18/2).

Dia mengklaim pihaknya sudah memberi instruksi pada petugas Puskesmas guna menyampaikan informasi penarikan empat merek obat sariawan tersebut. Menurut Ni Luh, pihaknya tak memiliki kewenangan untuk melakukan penarikan obat di apotek maupun toko obat.

‘’Kita hanya boleh mengimbau, sedangkan untuk pengawasan dan sidak kewenangannya BPOM,’’ tuturnya saat dikonfirmasi via ponsel. Kecuali, lanjut dia, jika nantinya diminta BPOM untuk membantu pengawasan di lapangan.

Menurut Ni Luh, saat melakukan operasi terkait obat yang beredar di Lamongan, pihak BPOM selalu berkomunikasi dengan dinkes. ‘’Sebelumnya sudah pernah. Kalau nanti diminta untuk membantu, kami siap,’’ katanya.  

Ni Luh menjelaskan, Albothyl sudah lama beredar di pasaran. Label berwarna biru menunjukkan bahwa merek tersebut bisa dijual secara bebas terbatas. Namun, informasi yang dia terima, penarikan ini berdasar dari keluhan masyarakat penggunaan Albothyl dan tiga produk lainnya. 

Baca Juga :  Halaman SD Banjir, Bersandal Jepit ke Sekolah

‘’Izinnya ada dan sudah lama beredar, tapi adanya keluhan dari masyarakat membuat BPOM menarik peredarannya. Itu informasi yang kami terima,’’ tutur. Seperti diberitakan Jawa Pos (17/2), dua tahun terakhir BPOM menerima 38 laporan dari kalangan profesional kesehatan terkait efek samping dari Albothyl.

Obat yang dipromosikan mengobati sariawan itu memiliki efek samping yang berbahaya. ‘’Laporannya itu ada yang bertambah parah sariawannya setelah diobati menggunakan Albothyl,’’ ujar Ni Luh. 

Informasi lain, lanjut Ni Luh, BPOM membekukan peredaran Albothyl dan tiga merek obat sariawan lainnya mengandung policresulen. Kandungan tersebut dinilai para ahli kesehatan berbahaya. Terutama jika digunakan sebagai antiseptik mengobati luka bagian oral atau mulut. 

‘’Berita terkait itu sudah menjadi viral beberapa hari belakangan,’’ katanya.Selain rilis terkait empat obat sariawan ini, Ni Luh mengaku selalu mendapat rilis terkait obat yang dilarang beredar.

Contohnya Viostin DS dan Enzyplex yang diduga mengandung DNA babi beberapa waktu lalu. Selain itu, rilis merek obat yang masuk ke dalam public warning juga sering di-publish oleh BPOM. 

Baca Juga :  Ikuti Ekstrakurikuler Dai Cilik

‘’Kebanyakan yang masuk public warning jamu yang mengandung bahan kimia obat (BKO),’’ ujarnya. Kepala Dinkes Lamongan, Taufiq Hidayat, mengatakan, Albothyl dicabut peredarannya karena kurang bermanfaat bagi masyarakat.

Meski mendapatkan izin edar, setelah diteliti ada komponen yang kurang baik untuk masyarakat. Sehingga, produk tersebut wajib ditarik. ‘’Semua obat sebelum didistribusikan akan mendapatkan pengawasan dan pengecekan dari BPOM,” ujarnya. 

Menurut dia, pada prinsipnya obat atau sejenisnya yang diperjualbelikan harus melalui standar khusus. Jika beredar tanpa prosedur, maka berarti illegal. Jika sudah beredar tapi dicabut izin edarnya, maka berarti obat tersebut tidak lagi bermanfaat bagi masyarakat. 

Dinkes menghimbau seluruh masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan sebelum membeli obat. Dia mengaku belum melakukan pengecekan secara menyeluruh ke sejumlah puskesmas. ‘’Tapi sudah kita lakukan tindak lanjut internal dengan mengirimkan surat,’’ ujarnya.  

Taufiq memastikan masyarakat sudah lebih cepat reaksinya melibat informasi beredar sehingga tidak lagi menggunakan produk tersebut. “Untuk instansi kesehatan sudah diperingatkan lebih dini, dan menggantinya dengan produk lainnya,” katanya. 

KOTA – Dinas Kesehatan (Dinkes) Lamongan menerima rilis resmi dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) terkait obat sariawan yang ditarik perederannya. Tak hanya Albothyl yang bermasalah. Juga obat sariawan lainnya, Medisio, Prescotide, dan Aptil. ‘’Memang benar. Berdasar rilis resminya, produsen obat sariawan itu diberi waktu sebulan penarikan,’’ tutur Kabid Sumberdaya Kesehatan (SDK) Dinkes Lamongan, Ni Luh Nanik Supeni, kemarin (18/2).

Dia mengklaim pihaknya sudah memberi instruksi pada petugas Puskesmas guna menyampaikan informasi penarikan empat merek obat sariawan tersebut. Menurut Ni Luh, pihaknya tak memiliki kewenangan untuk melakukan penarikan obat di apotek maupun toko obat.

‘’Kita hanya boleh mengimbau, sedangkan untuk pengawasan dan sidak kewenangannya BPOM,’’ tuturnya saat dikonfirmasi via ponsel. Kecuali, lanjut dia, jika nantinya diminta BPOM untuk membantu pengawasan di lapangan.

Menurut Ni Luh, saat melakukan operasi terkait obat yang beredar di Lamongan, pihak BPOM selalu berkomunikasi dengan dinkes. ‘’Sebelumnya sudah pernah. Kalau nanti diminta untuk membantu, kami siap,’’ katanya.  

Ni Luh menjelaskan, Albothyl sudah lama beredar di pasaran. Label berwarna biru menunjukkan bahwa merek tersebut bisa dijual secara bebas terbatas. Namun, informasi yang dia terima, penarikan ini berdasar dari keluhan masyarakat penggunaan Albothyl dan tiga produk lainnya. 

Baca Juga :  Tewas Terjepit Bodi Truk

‘’Izinnya ada dan sudah lama beredar, tapi adanya keluhan dari masyarakat membuat BPOM menarik peredarannya. Itu informasi yang kami terima,’’ tutur. Seperti diberitakan Jawa Pos (17/2), dua tahun terakhir BPOM menerima 38 laporan dari kalangan profesional kesehatan terkait efek samping dari Albothyl.

Obat yang dipromosikan mengobati sariawan itu memiliki efek samping yang berbahaya. ‘’Laporannya itu ada yang bertambah parah sariawannya setelah diobati menggunakan Albothyl,’’ ujar Ni Luh. 

Informasi lain, lanjut Ni Luh, BPOM membekukan peredaran Albothyl dan tiga merek obat sariawan lainnya mengandung policresulen. Kandungan tersebut dinilai para ahli kesehatan berbahaya. Terutama jika digunakan sebagai antiseptik mengobati luka bagian oral atau mulut. 

‘’Berita terkait itu sudah menjadi viral beberapa hari belakangan,’’ katanya.Selain rilis terkait empat obat sariawan ini, Ni Luh mengaku selalu mendapat rilis terkait obat yang dilarang beredar.

Contohnya Viostin DS dan Enzyplex yang diduga mengandung DNA babi beberapa waktu lalu. Selain itu, rilis merek obat yang masuk ke dalam public warning juga sering di-publish oleh BPOM. 

Baca Juga :  Pilkades Lebih Rawan daripada Pilpres

‘’Kebanyakan yang masuk public warning jamu yang mengandung bahan kimia obat (BKO),’’ ujarnya. Kepala Dinkes Lamongan, Taufiq Hidayat, mengatakan, Albothyl dicabut peredarannya karena kurang bermanfaat bagi masyarakat.

Meski mendapatkan izin edar, setelah diteliti ada komponen yang kurang baik untuk masyarakat. Sehingga, produk tersebut wajib ditarik. ‘’Semua obat sebelum didistribusikan akan mendapatkan pengawasan dan pengecekan dari BPOM,” ujarnya. 

Menurut dia, pada prinsipnya obat atau sejenisnya yang diperjualbelikan harus melalui standar khusus. Jika beredar tanpa prosedur, maka berarti illegal. Jika sudah beredar tapi dicabut izin edarnya, maka berarti obat tersebut tidak lagi bermanfaat bagi masyarakat. 

Dinkes menghimbau seluruh masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan sebelum membeli obat. Dia mengaku belum melakukan pengecekan secara menyeluruh ke sejumlah puskesmas. ‘’Tapi sudah kita lakukan tindak lanjut internal dengan mengirimkan surat,’’ ujarnya.  

Taufiq memastikan masyarakat sudah lebih cepat reaksinya melibat informasi beredar sehingga tidak lagi menggunakan produk tersebut. “Untuk instansi kesehatan sudah diperingatkan lebih dini, dan menggantinya dengan produk lainnya,” katanya. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/