alexametrics
23.7 C
Bojonegoro
Monday, June 27, 2022

Angka Perceraian Menurun,Ini Kata Panitera Pengadilan Agama Bojonegoro

Parkiran di depan kantor Pengadilan Agama Bojonegoro terus ramai. Padahal, kantor ini bukan swalayan yang bisa menjadi magnet bagi warga. Kantor yang berhadapan dengan warung kopi Mak Bah itu benar-benar menjadi salah satu kantor yang selalu ramai pengunjung. Di kantor itulah status seseorang bisa berubah. Dulu yang di KTP-nya bisa tertulis kawin, setelah melalui proses persidangan dan diputuskan bercerai maka status akan berubah menjadi duda ataupun janda. 

Data yang diterima Jawa Pos Radar Bojonegoro selama 2017, jumlah perkara yang diajukan ke PA Bojonegoro mencapai 3.025. Jumlah yang cukup banyak. Meski dari tahun ke tahun mengalami penurunan.

Turunnya data tersebut terlihat dari perkara yang diajukan ke PA Bojonegoro. Pada 2015 sebanyak 3.194 perkara, pada 2016 ada 3.071. “Dari jumlah perkara yang diajukan memang yang mendominasi adalah perceraian,” kata Panitera Pengadilan Agama Bojonegoro Sholikhin Jamik, kemarin. 

Dia menjelaskan, jadi jumlah 3.025 itu adalah jumlah seluruh perkara yang diterima oleh pengadilan agama. Mulai dari perceraian hingga dispensasi nikah. Termasuk perkara waris. Namun, dari perkara itu yang mendominasi adalah perkara perceraian. 

Baca Juga :  Pasar Sroyo Direvitalisasi Lebih Dulu

Dia menjelaskan, turunnya perkara yang diajukan itu mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, bukti pembangunan di Bojonegoro mengalami kemajuan. 

“Ini penurunan termasuk diska juga. Jadi ini menandakan Bojonegoro semakin maju,” katanya, kemarin (18/2). Dia menjelaskan, dalam perceraian ini yang banyak mengajukan gugatan adalah dari pihak perempuan. Praktis, ini bukan hal biasa. Sebab, umumnya seorang laki-laki banyak yang mengajukan gugatan cerai. 

“Memang yang mendominasi gugatan datang dari pihak perempuan,” terang dia. Praktis, status duda yang disandang mereka itu karena akibat perbuatannya sendiri. Sebab, pihak perempuan menggugat cerai. 

Menurut Sholikhin, penyebab perempuan mengajukan gugatan cerai pada suaminya itu karena pendidikan perempuan semakin tinggi. Para perempuan semakin tahu hak-hak yang harus didapatkannya. “Jadi perempuan tahu tentang hak menggugat,” terang dia. Jadi, lanjut dia, pendidikan telah mengubah semuanya. 

Baca Juga :  Mbah Rukini, Penjaga Musik Siter asal Kecamatan Padangan

Dia mengaku, perkara gugatan yang diajukan oleh perempuan itu juga ada yang melatarbelakangi perkara ekonomi di keluarga. Data yang ada percerian karena persoalan ekonomi yakni 1.077. Sedangkan, karena perselisihan ada 973. Ada juga yang disebabkan karena dari suami atau istri ada yang meninggalkan salah satu pihak.

Yakni, sebanyak 644 perkara. Sholikhin melanjutkan, alasan perempuan meninggalkan seorang laki-laki itu karena si perempuan merasa terzalimi. Jadi, ini menjadi tamparan bagi laki-laki yang selama ini bisa mentang-mentang menceraikan istrinya. Sebab, kini perempuan sudah mulai sadar jika bisa mengajukan gugatan. 

Disinggung apakah gugatan perceraian yang diajukan oleh pihak perempuan bagian dari strategi laki-laki agar tidak mendapat beban tanggung jawab nafkah? Menurut Sholikhin tidak semua demikian.

Meski dia tidak mengelak jika strategi cerai gugat yang dilakukan perempuan itu bisa membuat ringan laki-laki. Diantaranya laki-laki bisa gugur kewajibannya untuk memberikan nafkah. 

Parkiran di depan kantor Pengadilan Agama Bojonegoro terus ramai. Padahal, kantor ini bukan swalayan yang bisa menjadi magnet bagi warga. Kantor yang berhadapan dengan warung kopi Mak Bah itu benar-benar menjadi salah satu kantor yang selalu ramai pengunjung. Di kantor itulah status seseorang bisa berubah. Dulu yang di KTP-nya bisa tertulis kawin, setelah melalui proses persidangan dan diputuskan bercerai maka status akan berubah menjadi duda ataupun janda. 

Data yang diterima Jawa Pos Radar Bojonegoro selama 2017, jumlah perkara yang diajukan ke PA Bojonegoro mencapai 3.025. Jumlah yang cukup banyak. Meski dari tahun ke tahun mengalami penurunan.

Turunnya data tersebut terlihat dari perkara yang diajukan ke PA Bojonegoro. Pada 2015 sebanyak 3.194 perkara, pada 2016 ada 3.071. “Dari jumlah perkara yang diajukan memang yang mendominasi adalah perceraian,” kata Panitera Pengadilan Agama Bojonegoro Sholikhin Jamik, kemarin. 

Dia menjelaskan, jadi jumlah 3.025 itu adalah jumlah seluruh perkara yang diterima oleh pengadilan agama. Mulai dari perceraian hingga dispensasi nikah. Termasuk perkara waris. Namun, dari perkara itu yang mendominasi adalah perkara perceraian. 

Baca Juga :  Cakades Petahana Cukup Cuti dan Tunjuk Plt

Dia menjelaskan, turunnya perkara yang diajukan itu mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, bukti pembangunan di Bojonegoro mengalami kemajuan. 

“Ini penurunan termasuk diska juga. Jadi ini menandakan Bojonegoro semakin maju,” katanya, kemarin (18/2). Dia menjelaskan, dalam perceraian ini yang banyak mengajukan gugatan adalah dari pihak perempuan. Praktis, ini bukan hal biasa. Sebab, umumnya seorang laki-laki banyak yang mengajukan gugatan cerai. 

“Memang yang mendominasi gugatan datang dari pihak perempuan,” terang dia. Praktis, status duda yang disandang mereka itu karena akibat perbuatannya sendiri. Sebab, pihak perempuan menggugat cerai. 

Menurut Sholikhin, penyebab perempuan mengajukan gugatan cerai pada suaminya itu karena pendidikan perempuan semakin tinggi. Para perempuan semakin tahu hak-hak yang harus didapatkannya. “Jadi perempuan tahu tentang hak menggugat,” terang dia. Jadi, lanjut dia, pendidikan telah mengubah semuanya. 

Baca Juga :  Siapkan Lima Atlet Ikut Piala Walikota Solo

Dia mengaku, perkara gugatan yang diajukan oleh perempuan itu juga ada yang melatarbelakangi perkara ekonomi di keluarga. Data yang ada percerian karena persoalan ekonomi yakni 1.077. Sedangkan, karena perselisihan ada 973. Ada juga yang disebabkan karena dari suami atau istri ada yang meninggalkan salah satu pihak.

Yakni, sebanyak 644 perkara. Sholikhin melanjutkan, alasan perempuan meninggalkan seorang laki-laki itu karena si perempuan merasa terzalimi. Jadi, ini menjadi tamparan bagi laki-laki yang selama ini bisa mentang-mentang menceraikan istrinya. Sebab, kini perempuan sudah mulai sadar jika bisa mengajukan gugatan. 

Disinggung apakah gugatan perceraian yang diajukan oleh pihak perempuan bagian dari strategi laki-laki agar tidak mendapat beban tanggung jawab nafkah? Menurut Sholikhin tidak semua demikian.

Meski dia tidak mengelak jika strategi cerai gugat yang dilakukan perempuan itu bisa membuat ringan laki-laki. Diantaranya laki-laki bisa gugur kewajibannya untuk memberikan nafkah. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/