alexametrics
27 C
Bojonegoro
Friday, May 20, 2022

Angkat Tema Remaja sesuai Usianya

Kebiasaan membaca buku dan menulis puisi membuat Sulis Muntikah tak kesulitan ketika mengonsep pementasan teater. Dia bisa menjadi sutradara maupun tokoh di panggung.

SULIS menulis tentang apa yang dilihat di sekelilingnya. Tentang realitas lingkungan dan kritik sosial. Dia yang duduk di bangku SMK, banyak menceritakan tentang kritik lingkungan sekolah seperti bullying, moral remaja, dan good looking.
Ternyata tulisannya tersebut dijadikan bahan materi pementasan teater di sekolah. Hingga kini, sudah ada tiga judul narasi yang dipentaskan. Di antaranya, Cinta itu Luka dan Dewasa.
Sulis memilih mengangkat tema remaja dan segala permasalahannya karena dirinya juga masih remaja. Dia harus bisa mengemas kritik sosial secara halus yang diperankan para tokoh. Sulis juga harus memertimbangkan durasi waktu yang dibutuhkan selama pementasan. “Kalau pentas di kelas, cukup 15-20 menit. Even bisa 30 menit, sementara pentas besar lebih lama lagi bisa satu jam. Dan alhamdulillah sudah pernah terlibat  semuanya, meski tidak selalu menjadi sutradara utama,” terang perempuan kelahiran 23 Juni 2001 itu.
Selama menjadi sutradara, Sulis banyak memelajari karakter orang. Generasi remaja yang cenderung memiliki pemikirannya sendiri membuat dirinya agak sulit untuk memerankan tokoh sesuai kebutuhan narasi. Sehingga, tantangannya tidak hanya saat penyusunan naskah. Juga mencari tokoh. “Kita kan dasarnya bukan pekerja seni yang sudah terbiasa dengan monolog. Sehingga tugas sutradara dobel, sebab harus melakukan pendekatan lagi ke tokohnya agar pesan moral sampai,” terang dara asal Desa Plosowahyu, Lamongan ini.
Sulis tidak pernah menerima imbalan uang dari setiap pertunjukan teater yang disutradarainya. Dia menikmati setiap pengalaman dan ilmu yang diberikan dari pementasan. Tidak jarang, Sulis ikut dilibatkan sebagai tokoh, namun bukan dari narasi yang dibuatnya. Dari pementasan itu, dia banyak belajar kekurangan selama menulis dan menjadi sutradara.
Untuk mengembangkan kemampuannya, Sulis memilih aktif di beberapa komunitas. Di antaranya, komunitas teater, komunitas sosial, dan literasi. Beberapa bulan lalu, Sulis bersama teman komunitasnya berhasil merilis antologi puisi pertama yang berjudul Ketika Rasa.
Sulis masih memiliki mimpi untuk bisa membuat karya solo yang bisa menjadi kenang-kenangan suatu hari. “Kalau kita punya karya sendiri pastinya ada kebanggaan. Tapi semuanya butuh proses dan mudah-mudahan disegerakan,” tuturnya.

Baca Juga :  Tak Ada Kejelasan, Bagaimana Nasib Pekerja PT WIN Setelah Terbakar?

Kebiasaan membaca buku dan menulis puisi membuat Sulis Muntikah tak kesulitan ketika mengonsep pementasan teater. Dia bisa menjadi sutradara maupun tokoh di panggung.

SULIS menulis tentang apa yang dilihat di sekelilingnya. Tentang realitas lingkungan dan kritik sosial. Dia yang duduk di bangku SMK, banyak menceritakan tentang kritik lingkungan sekolah seperti bullying, moral remaja, dan good looking.
Ternyata tulisannya tersebut dijadikan bahan materi pementasan teater di sekolah. Hingga kini, sudah ada tiga judul narasi yang dipentaskan. Di antaranya, Cinta itu Luka dan Dewasa.
Sulis memilih mengangkat tema remaja dan segala permasalahannya karena dirinya juga masih remaja. Dia harus bisa mengemas kritik sosial secara halus yang diperankan para tokoh. Sulis juga harus memertimbangkan durasi waktu yang dibutuhkan selama pementasan. “Kalau pentas di kelas, cukup 15-20 menit. Even bisa 30 menit, sementara pentas besar lebih lama lagi bisa satu jam. Dan alhamdulillah sudah pernah terlibat  semuanya, meski tidak selalu menjadi sutradara utama,” terang perempuan kelahiran 23 Juni 2001 itu.
Selama menjadi sutradara, Sulis banyak memelajari karakter orang. Generasi remaja yang cenderung memiliki pemikirannya sendiri membuat dirinya agak sulit untuk memerankan tokoh sesuai kebutuhan narasi. Sehingga, tantangannya tidak hanya saat penyusunan naskah. Juga mencari tokoh. “Kita kan dasarnya bukan pekerja seni yang sudah terbiasa dengan monolog. Sehingga tugas sutradara dobel, sebab harus melakukan pendekatan lagi ke tokohnya agar pesan moral sampai,” terang dara asal Desa Plosowahyu, Lamongan ini.
Sulis tidak pernah menerima imbalan uang dari setiap pertunjukan teater yang disutradarainya. Dia menikmati setiap pengalaman dan ilmu yang diberikan dari pementasan. Tidak jarang, Sulis ikut dilibatkan sebagai tokoh, namun bukan dari narasi yang dibuatnya. Dari pementasan itu, dia banyak belajar kekurangan selama menulis dan menjadi sutradara.
Untuk mengembangkan kemampuannya, Sulis memilih aktif di beberapa komunitas. Di antaranya, komunitas teater, komunitas sosial, dan literasi. Beberapa bulan lalu, Sulis bersama teman komunitasnya berhasil merilis antologi puisi pertama yang berjudul Ketika Rasa.
Sulis masih memiliki mimpi untuk bisa membuat karya solo yang bisa menjadi kenang-kenangan suatu hari. “Kalau kita punya karya sendiri pastinya ada kebanggaan. Tapi semuanya butuh proses dan mudah-mudahan disegerakan,” tuturnya.

Baca Juga :  Memicu Kerusakan Jalan Kabupaten Lamongan

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/