alexametrics
23.4 C
Bojonegoro
Wednesday, August 17, 2022

Tidak Ada Penjaga, Anggaran Terbatas Jadi Alasan

- Advertisement -

KOTA – Dinas Perhubungan (Dishub) Lamongan mendata ada hampir 50 titik perlintasan kereta api (KA) dari Kecamatan Deket – Kecamatan Babat.

Tak semua perlintasan tersebut ada penjaganya yang bertugas memberi tanda bila KA melintas di perlintasan setempat.

‘’Hanya titik padat kendaraan yang diberi petugas,’’ tutur Sekretraris Dinas Perhubungan Lamongan, Makhfud Efendi, kepada Jawa Pos Radar Lamongan kemarin (17/9).

Akibatnya, lanjut dia, kecelakaan kerap terjadi di perlintasan wilayah tersebut. Salah satunya, pengendara motor matik, Ali Shodikin.

Warga Dusun Dati, Desa/ Kecamatan Pucuk itu tewas tertabrak KA Maharani di perlintasan tanpa palang pintu Desa Tritunggal, Kecamatan Babat saat berangkat kerja Sabtu pagi (16/9).

Baca Juga :  SDM Calon Perades di Bawah Standar, Rerata Nilai Dibawah 50
- Advertisement -

‘’Memang untuk perlintasan yang kecil-kecil belum diberi petugas, karena keterbatasan anggaran,’’ katanya. 

Menurut Makhfud, seluruh penjaga di beberapa titik perlintasan dibebankan pada kabupaten. PT KAI sudah menyampaikan bahwa kewenangan tersebut ditangani pemerintah tiap daerah. 

‘’Harusnya itu kewajiban mereka, tapi dibebankan ke kami di daerah,’’ ujarnya.  

Eks sekretaris DPU Bina Marga itu mengaku palang pintu tidak memungkinkan di pasang tiap perlintasan sebidang.

Alasannya, bakal menambah beban anggaran serta memicu kemacetan baru. Solusi paling efektif, menempatkan penjaga perlintasan. 

‘’Iya, penjaga perlintasan menjadi solusi yang paling tepat. Tapi pemerataannya saja yang perlu waktu dan koordinasi lebih intens,’’ katanya.  

Menurut dia, pihaknya terus berkoordinasi dengan pihak desa dan kecamatan yang terdapat perlintasan sebidang. 

Baca Juga :  Pasar Sayur Hidroponik Menjanjikan

‘’Bahkan, ada desa yang menambah petugas sendiri. Nah, ini yang akan menjadi bahan evaluasi kami,’’ ujarnya. 

KOTA – Dinas Perhubungan (Dishub) Lamongan mendata ada hampir 50 titik perlintasan kereta api (KA) dari Kecamatan Deket – Kecamatan Babat.

Tak semua perlintasan tersebut ada penjaganya yang bertugas memberi tanda bila KA melintas di perlintasan setempat.

‘’Hanya titik padat kendaraan yang diberi petugas,’’ tutur Sekretraris Dinas Perhubungan Lamongan, Makhfud Efendi, kepada Jawa Pos Radar Lamongan kemarin (17/9).

Akibatnya, lanjut dia, kecelakaan kerap terjadi di perlintasan wilayah tersebut. Salah satunya, pengendara motor matik, Ali Shodikin.

Warga Dusun Dati, Desa/ Kecamatan Pucuk itu tewas tertabrak KA Maharani di perlintasan tanpa palang pintu Desa Tritunggal, Kecamatan Babat saat berangkat kerja Sabtu pagi (16/9).

Baca Juga :  Eks Kades Pragelan Terancam Hukuman Berat
- Advertisement -

‘’Memang untuk perlintasan yang kecil-kecil belum diberi petugas, karena keterbatasan anggaran,’’ katanya. 

Menurut Makhfud, seluruh penjaga di beberapa titik perlintasan dibebankan pada kabupaten. PT KAI sudah menyampaikan bahwa kewenangan tersebut ditangani pemerintah tiap daerah. 

‘’Harusnya itu kewajiban mereka, tapi dibebankan ke kami di daerah,’’ ujarnya.  

Eks sekretaris DPU Bina Marga itu mengaku palang pintu tidak memungkinkan di pasang tiap perlintasan sebidang.

Alasannya, bakal menambah beban anggaran serta memicu kemacetan baru. Solusi paling efektif, menempatkan penjaga perlintasan. 

‘’Iya, penjaga perlintasan menjadi solusi yang paling tepat. Tapi pemerataannya saja yang perlu waktu dan koordinasi lebih intens,’’ katanya.  

Menurut dia, pihaknya terus berkoordinasi dengan pihak desa dan kecamatan yang terdapat perlintasan sebidang. 

Baca Juga :  Persela Lamongan Sangat Rindu Menang Rek!

‘’Bahkan, ada desa yang menambah petugas sendiri. Nah, ini yang akan menjadi bahan evaluasi kami,’’ ujarnya. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/