alexametrics
24 C
Bojonegoro
Tuesday, June 28, 2022

Lansia Berpotensi Alami Gangguan Tidur

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Insomnia atau gangguan tidur banyak dialami lansia di Bojonegoro. Spesialis psikiatri RSUD dr Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro Utami Sanjaya memerkirakan 75 persen pasien lansia mengalami kesulitan tidur. Pemicunya karena faktor psikis. Sementara 25 persen kesulitan tidur karena pengaruh penyakit fisik.

Meski faktor psikis mendominasi, kata dia, hampir seluruh pasien tidak mengakuinya. ‘’Kalau datang ke poli laporannya bukan karena psikis, tapi karena gangguan tidurnya,’’ katanya.

Merujuk National Sleep Foundation 2010, 67 persen dari 1.508 lansia (berusia 65 tahun ke atas) di Amerika melaporkan mengalami insomnia. Sementara 7,3 persen lansia mengalami gangguan dalam memulai tidur dan mempertahankan tidur.

Sementara prevalensi insomnia di Indonesia pada lansia tergolong tinggi. Yakni, sekitar 67 persen dari populasi  berusia di atas 65 tahun. Berdasarkan hasil penelitian, insomnia banyak dialami perempuan (78,1 persen) berusia 60-74 tahun. Selebihnya laki-laki pada usia yang sama.

Utami menjelaskan, lamanya tidur ideal setiap orang berbeda. Rata-rata angka kuantitasnya sekitar 6-8 jam per hari. Meski sebagian orang  kuantitas tidurnya kurang ideal, namun mereka merasa cukup dan tanpa keluhan apa pun. Sementara yang kuantitas tidurnya ideal, masih merasa kurang.

Baca Juga :  Andik Sujarwo Jadi Plt Dinas PUĀ 

Faktor usia, diakui dokter jebolan Fakultas Kedokteran Unair Surabaya ini, memengaruhi waktu tidur. Kecenderungan usia semakin bertambah, lamanya waktu tidur juga berkurang. Rata-rata lansia cukup tidur selama enam jam. ”Asal tidak ada keluhan sakit atau keluhan lain, bisa dikatakan tidurnya berkualitas meski relatif sebentar,” terang ibu dua anak itu.

Tidur ideal, menurut Utami, secara kualitas ditentukan pada malam hari. Bukan pada siang hari. Siang hari tergolong istirahat.

Dikatakan dia, tergolong insomnia jika waktu tidur terganggu. Namun, tak perlu khawatir jika kuantitas tidur tak terlalu lama. ”Asal bangun tidur merasa segar, tidak merasa terganggu, dan tidak memengaruhi kehidupan sosial dan pekerjaan,” ujar dokter berjilbab itu.

Jika tidak merasa terganggu, tapi mengalami perubahan jadwal tidur, menurut Utami, itu bukan termasuk insomnia. ”Biasanya ini untuk pekerja sif malam,’’ tuturnya.

Utami menjelaskan, kriteria gangguan tidur minimal satu bulan mengalami kesulitan tidur terus-menerus. Namun, kalau kesulitan tidur hanya sepekan tiga kali, itu bukan termasuk  insomnia. ”Bisa jadi hanya  perubahan siklus saja,’’ tegas dia.

Penyebab insomnia, terang dia, terbagi dua. Organik dan nonorganik. Organik disebabkan karena penyakit fisik atau kelainan. Seperti kelainan saraf. Sementara penderita hipertensi dan diabetes adalah penyakit fisik terbanyak penyebab insomnia.

Baca Juga :  Pembentukan Pansel Sekda Belum Final

Sementara nonorganik disebabkan karena faktor psikis. Seperti depresi, gangguan jiwa, dan kecemasan berlebihan. Dalam kasus yang ditangani, terang Utami, pasien insomnia terbanyak dipicu karena kecemasan berlebihan.

Dia mencontohkan lansia yang sudah pensiun merasa hidup sendiri atau karena cemas dengan penyakit yang diderita. Seperti pasien pengidap jantung dan diabetes.

Disinggung terkait penggunaan obat tidur, dia menegaskan, harus disertai petunjuk dokter atau psikiater. Jika dibeli mandiri takut terjadi efek samping. ‘’Agar tidak terjadi adiksi atau ketergantungan obat tidur. Yang terpenting, sebelum tidur usahakan tidak makan makanan berat atau mengandung cafein, seperti kopi, teh, atau coklat,’’ ujar dia.

Terpisah, Kepala Seksi Promosi Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Bojonegoro Imam Wahyudi mengatakan, insomnia pada lansia belum menjadi prioritas dalam program lansia sehat. Karena keluhan paling banyak biasanya gangguan persendian.

Menurut Imam, untuk pencegahan, dia  mengajak lansia bisa mengelola stres yang dialami.  ‘’Berusaha meningkatkan kualitas rohani dengan memperbanyak beribadah. Dan, dianjurkan agar anggota keluarganya untuk menghibur yang bersangkutan,’’ ucapnya.

Di antaranya mengajak berkomunikasi dan menghormati agar tidak timbul rasa khawatir yang berujung stres. ‘’Layanan untuk lansia sehat sudah ada di tiap-tiap posyandu lansia,’’ paparnya.

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Insomnia atau gangguan tidur banyak dialami lansia di Bojonegoro. Spesialis psikiatri RSUD dr Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro Utami Sanjaya memerkirakan 75 persen pasien lansia mengalami kesulitan tidur. Pemicunya karena faktor psikis. Sementara 25 persen kesulitan tidur karena pengaruh penyakit fisik.

Meski faktor psikis mendominasi, kata dia, hampir seluruh pasien tidak mengakuinya. ‘’Kalau datang ke poli laporannya bukan karena psikis, tapi karena gangguan tidurnya,’’ katanya.

Merujuk National Sleep Foundation 2010, 67 persen dari 1.508 lansia (berusia 65 tahun ke atas) di Amerika melaporkan mengalami insomnia. Sementara 7,3 persen lansia mengalami gangguan dalam memulai tidur dan mempertahankan tidur.

Sementara prevalensi insomnia di Indonesia pada lansia tergolong tinggi. Yakni, sekitar 67 persen dari populasi  berusia di atas 65 tahun. Berdasarkan hasil penelitian, insomnia banyak dialami perempuan (78,1 persen) berusia 60-74 tahun. Selebihnya laki-laki pada usia yang sama.

Utami menjelaskan, lamanya tidur ideal setiap orang berbeda. Rata-rata angka kuantitasnya sekitar 6-8 jam per hari. Meski sebagian orang  kuantitas tidurnya kurang ideal, namun mereka merasa cukup dan tanpa keluhan apa pun. Sementara yang kuantitas tidurnya ideal, masih merasa kurang.

Baca Juga :  Kerjakan Skripsi, Gadis ini Tetap Produktif Jual Suvenir

Faktor usia, diakui dokter jebolan Fakultas Kedokteran Unair Surabaya ini, memengaruhi waktu tidur. Kecenderungan usia semakin bertambah, lamanya waktu tidur juga berkurang. Rata-rata lansia cukup tidur selama enam jam. ”Asal tidak ada keluhan sakit atau keluhan lain, bisa dikatakan tidurnya berkualitas meski relatif sebentar,” terang ibu dua anak itu.

Tidur ideal, menurut Utami, secara kualitas ditentukan pada malam hari. Bukan pada siang hari. Siang hari tergolong istirahat.

Dikatakan dia, tergolong insomnia jika waktu tidur terganggu. Namun, tak perlu khawatir jika kuantitas tidur tak terlalu lama. ”Asal bangun tidur merasa segar, tidak merasa terganggu, dan tidak memengaruhi kehidupan sosial dan pekerjaan,” ujar dokter berjilbab itu.

Jika tidak merasa terganggu, tapi mengalami perubahan jadwal tidur, menurut Utami, itu bukan termasuk insomnia. ”Biasanya ini untuk pekerja sif malam,’’ tuturnya.

Utami menjelaskan, kriteria gangguan tidur minimal satu bulan mengalami kesulitan tidur terus-menerus. Namun, kalau kesulitan tidur hanya sepekan tiga kali, itu bukan termasuk  insomnia. ”Bisa jadi hanya  perubahan siklus saja,’’ tegas dia.

Penyebab insomnia, terang dia, terbagi dua. Organik dan nonorganik. Organik disebabkan karena penyakit fisik atau kelainan. Seperti kelainan saraf. Sementara penderita hipertensi dan diabetes adalah penyakit fisik terbanyak penyebab insomnia.

Baca Juga :  Perlu Museum Purbakala di Temayang

Sementara nonorganik disebabkan karena faktor psikis. Seperti depresi, gangguan jiwa, dan kecemasan berlebihan. Dalam kasus yang ditangani, terang Utami, pasien insomnia terbanyak dipicu karena kecemasan berlebihan.

Dia mencontohkan lansia yang sudah pensiun merasa hidup sendiri atau karena cemas dengan penyakit yang diderita. Seperti pasien pengidap jantung dan diabetes.

Disinggung terkait penggunaan obat tidur, dia menegaskan, harus disertai petunjuk dokter atau psikiater. Jika dibeli mandiri takut terjadi efek samping. ‘’Agar tidak terjadi adiksi atau ketergantungan obat tidur. Yang terpenting, sebelum tidur usahakan tidak makan makanan berat atau mengandung cafein, seperti kopi, teh, atau coklat,’’ ujar dia.

Terpisah, Kepala Seksi Promosi Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Bojonegoro Imam Wahyudi mengatakan, insomnia pada lansia belum menjadi prioritas dalam program lansia sehat. Karena keluhan paling banyak biasanya gangguan persendian.

Menurut Imam, untuk pencegahan, dia  mengajak lansia bisa mengelola stres yang dialami.  ‘’Berusaha meningkatkan kualitas rohani dengan memperbanyak beribadah. Dan, dianjurkan agar anggota keluarganya untuk menghibur yang bersangkutan,’’ ucapnya.

Di antaranya mengajak berkomunikasi dan menghormati agar tidak timbul rasa khawatir yang berujung stres. ‘’Layanan untuk lansia sehat sudah ada di tiap-tiap posyandu lansia,’’ paparnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/