alexametrics
25.7 C
Bojonegoro
Thursday, June 30, 2022

Temukan Dua Sapi Penyakit Mulut dan Kuku Dijual

BLORA, Radar Bojonegoro – Penyakit mulut dan kuku (PMK) semakin bertambah hingga mencapai 973 kasus. Bahkan, ditemukan dua sapi suspek dijual tanpa uji medis. Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan dan Perikanan (DP4) Blora merasa keterbatasan petugas untuk mengawasi penjualan daging yang terjangkit PMK.

 

Kepala Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan dan Perikanan Blora Gundala Wejasena mengungkapkan, jumlah sapi suspek PMK per kemarin (17/6) mencapai 973 ekor. Dengan 9 ekor sapi ditemukan mati, 451 ekor sembuh. Sehingga tersisa 415 kasus masih ditangani.

 

“Untuk yang postif ada 10 ekor mulai dari awal diketahuinya terjangkit PMK di daerah,” jelasnya.

 

Gundala menjelaskan, penanganan PMK di daerah, ditemukan dua sapi suspek PMK dijual oleh peternak. Padahal, dalam proses penjualan saat terjadi wabah PMK ada syaratnya, seperti uji medis antenortem dan postmoretem.

 

Baca Juga :  Dana Bagi Hasil Cukai Tembakau Ditargetkan Naik Rp 10 Miliar

“Setelah mendapat kelayakan dan izin bisa dikonsumsi baru bisa disembelih,” jelasnya.

 

Gundala mengaku, tidak ada kebijakan khusus terkait pelarangan penjualan daging sapi terjangkit PMK. Hanya proses sebelum penyembelihan perlu melalui pemeriksaan petugas. Larangan yakni tidak diperbolehkan menjual sapi sudah mati karena PMK.

 

Menurut dia, jika ada pelarangan penjualan daging sapi terjangkit PMK akan lebih merugikan para peternak. Sedangkan, para pedagang menjual daging sapi tidak terjangkit PMK juga terdampak. “Ini namanya musibah sehingga semua pihak diharap bisa saling memahami,” jelasnya.

 

Gundala mengakui keterbatasan anggota bertugas di daerah dalam menangani PMK. Pihaknya tidak bisa mengawasi satu per satu jika terdapat sapi PMK dijual tanpa uji medis. Terkait penanganan, saat ini mengupayakan para peternak mendapatkan vaksin, namun belum bisa memastikan tanggal dan jumlah dosis diterima Blora. (luk/rij)

Baca Juga :  Kekurangan Komputer, Sekolah Pinjam Lapotp Siswa

BLORA, Radar Bojonegoro – Penyakit mulut dan kuku (PMK) semakin bertambah hingga mencapai 973 kasus. Bahkan, ditemukan dua sapi suspek dijual tanpa uji medis. Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan dan Perikanan (DP4) Blora merasa keterbatasan petugas untuk mengawasi penjualan daging yang terjangkit PMK.

 

Kepala Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan dan Perikanan Blora Gundala Wejasena mengungkapkan, jumlah sapi suspek PMK per kemarin (17/6) mencapai 973 ekor. Dengan 9 ekor sapi ditemukan mati, 451 ekor sembuh. Sehingga tersisa 415 kasus masih ditangani.

 

“Untuk yang postif ada 10 ekor mulai dari awal diketahuinya terjangkit PMK di daerah,” jelasnya.

 

Gundala menjelaskan, penanganan PMK di daerah, ditemukan dua sapi suspek PMK dijual oleh peternak. Padahal, dalam proses penjualan saat terjadi wabah PMK ada syaratnya, seperti uji medis antenortem dan postmoretem.

 

Baca Juga :  130 Orang Terserang DB, Dua Meninggal

“Setelah mendapat kelayakan dan izin bisa dikonsumsi baru bisa disembelih,” jelasnya.

 

Gundala mengaku, tidak ada kebijakan khusus terkait pelarangan penjualan daging sapi terjangkit PMK. Hanya proses sebelum penyembelihan perlu melalui pemeriksaan petugas. Larangan yakni tidak diperbolehkan menjual sapi sudah mati karena PMK.

 

Menurut dia, jika ada pelarangan penjualan daging sapi terjangkit PMK akan lebih merugikan para peternak. Sedangkan, para pedagang menjual daging sapi tidak terjangkit PMK juga terdampak. “Ini namanya musibah sehingga semua pihak diharap bisa saling memahami,” jelasnya.

 

Gundala mengakui keterbatasan anggota bertugas di daerah dalam menangani PMK. Pihaknya tidak bisa mengawasi satu per satu jika terdapat sapi PMK dijual tanpa uji medis. Terkait penanganan, saat ini mengupayakan para peternak mendapatkan vaksin, namun belum bisa memastikan tanggal dan jumlah dosis diterima Blora. (luk/rij)

Baca Juga :  Kekurangan Air Bersih Terus Meluas

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/