alexametrics
29.2 C
Bojonegoro
Tuesday, June 28, 2022

Calon Pengantin Wajib Konseling Tes HIV

BOJONEGORO – Penerapan Perda Nomor 12 Tahun 2017 tentang Penanggulangan HIV-AIDS dan tuberkulosis (TB)tersebut belum bisa berjalan. Penyebabnya masih harus menunggu turunnya peraturan bupati (perbup). Perda tersebut disahkan akhir tahun lalu. Di dalam  perda tersebut mewajibkan petugas kesehatan untuk memberikan konseling kepada calon pengantin (catin) untuk melaksanakan tes HIV.

Karena jumlah kasus baru HIV-AIDS di Bojonegoro dari tahun 2015 sebanyak 186 kasus, pada 2016 menurun menjadi 166 orang, dan di akhir 2017 kembali meningkat menjadi 176 kasus. Tercatat ada lima kecamatan tertinggi  kasus HIV-AIDS, yakni Kecamatan Kota dengan penderita sebanyak 16 orang, Kecamatan Balen ada 12 orang, Kecamatan Dander ada 11 orang, Kecamatan Kalitidu ada 10 orang, dan Kecamatan Sumberrejo ada 7 orang.

Kasi Penyakit Menular Dinas Kesehatan (Dinkes) Bojonegoro Whenny Dyah menyampaikan, perda tersebut sangat mungkin diterapkan untuk mendeteksi secara dini virus HIV-AIDS di wilayah Bojonegoro.

Baca Juga :  Siswa Kelas 12 Harus Seriusi Ujian EHB BKS

Selain calon pengantin, para penderita TB juga wajib dikonseling untuk melakukan tes HIV. Karena TB merupakan salah satu penyakit penyerta atau infeksi oportunistik (IO) terbanyak pada orang dengan HIV-AIDS (ODHA). Sehingga, perlu adanya pemeriksaan tes HIV-AIDS kepada penderita TB, begitu pun sebaliknya. “ODHA perlu lakukan tes TB dan juga penderita TB perlu lakukan tes HIV-AIDS,” katanya.

Namun, tetap memerlukan persetujuan dari pasien TB atau calon pengantin, karena itu pihak puskesmas atau rumah sakit tetap melakukan konseling agar yang bersangkutan bersedia melakukan tes HIV. Sekaligus memberitahukan bahwa tes tersebut merupakan imbauan langsung dari pemerintah.

Whenny pun menyampaikan bahwa perda tersebut setidaknya mampu menekan persebaran virus TB dan HIV-AIDS. Karena, selain dari sisi pengobatan, perda tersebut juga mengatur tentang peran seluruh dinas-dinas terkait untuk mengembalikan kondisi sosial dan ekonominya. “Dalam mengatasi kedua virus tersebut, tentu peran dari seluruh sektor sangat dibutuhkan, karena dinkes hanya dari sisi pengobatan saja, sedangkan yang terpenting ialah kondisi sosial dan ekonomi penderita,” terangnya.

Baca Juga :  Awal Tahun, Objek Wisata Tancap Gas

Sementara itu, jumlah kasus penderita penyakit TB kembali meningkat tahun 2017. Whenny mengatakan pemerintah pusat sudah menargetkan untuk menemukan kasus TB pada 2017 di Bojonegoro sebanyak 1.696 kasus. Ternyata dalam setahun lalu, Dinkes Bojonegoro justru menemukan 1.784 orang yang terkena penyakit TB. Sebelumnya, pada 2016 temuan kasus TB sebanyak 1.293.

Sehingga tak heran, setiap tahunnya jumlah kasus TB terus meningkat. Sebab penyakit TB biasa disebakan oleh bakteri basil atau Mycobacterium tuberculosis yang tersebar melalui udara. Karena itu, Whenny mengimbau agar segera periksa apabila ada gejala seperti terserang batuk selama 21 hari atau lebih, batuk mengeluarkan darah, dan hingga demam. “Sehingga kalau segera periksa, deteksi penyakit TB bisa ditangani secara dini,” ujarnya.

BOJONEGORO – Penerapan Perda Nomor 12 Tahun 2017 tentang Penanggulangan HIV-AIDS dan tuberkulosis (TB)tersebut belum bisa berjalan. Penyebabnya masih harus menunggu turunnya peraturan bupati (perbup). Perda tersebut disahkan akhir tahun lalu. Di dalam  perda tersebut mewajibkan petugas kesehatan untuk memberikan konseling kepada calon pengantin (catin) untuk melaksanakan tes HIV.

Karena jumlah kasus baru HIV-AIDS di Bojonegoro dari tahun 2015 sebanyak 186 kasus, pada 2016 menurun menjadi 166 orang, dan di akhir 2017 kembali meningkat menjadi 176 kasus. Tercatat ada lima kecamatan tertinggi  kasus HIV-AIDS, yakni Kecamatan Kota dengan penderita sebanyak 16 orang, Kecamatan Balen ada 12 orang, Kecamatan Dander ada 11 orang, Kecamatan Kalitidu ada 10 orang, dan Kecamatan Sumberrejo ada 7 orang.

Kasi Penyakit Menular Dinas Kesehatan (Dinkes) Bojonegoro Whenny Dyah menyampaikan, perda tersebut sangat mungkin diterapkan untuk mendeteksi secara dini virus HIV-AIDS di wilayah Bojonegoro.

Baca Juga :  Konsep Taman Harus Bisa Diakses Disabilitas

Selain calon pengantin, para penderita TB juga wajib dikonseling untuk melakukan tes HIV. Karena TB merupakan salah satu penyakit penyerta atau infeksi oportunistik (IO) terbanyak pada orang dengan HIV-AIDS (ODHA). Sehingga, perlu adanya pemeriksaan tes HIV-AIDS kepada penderita TB, begitu pun sebaliknya. “ODHA perlu lakukan tes TB dan juga penderita TB perlu lakukan tes HIV-AIDS,” katanya.

Namun, tetap memerlukan persetujuan dari pasien TB atau calon pengantin, karena itu pihak puskesmas atau rumah sakit tetap melakukan konseling agar yang bersangkutan bersedia melakukan tes HIV. Sekaligus memberitahukan bahwa tes tersebut merupakan imbauan langsung dari pemerintah.

Whenny pun menyampaikan bahwa perda tersebut setidaknya mampu menekan persebaran virus TB dan HIV-AIDS. Karena, selain dari sisi pengobatan, perda tersebut juga mengatur tentang peran seluruh dinas-dinas terkait untuk mengembalikan kondisi sosial dan ekonominya. “Dalam mengatasi kedua virus tersebut, tentu peran dari seluruh sektor sangat dibutuhkan, karena dinkes hanya dari sisi pengobatan saja, sedangkan yang terpenting ialah kondisi sosial dan ekonomi penderita,” terangnya.

Baca Juga :  Kontraktor Minta Bupati Cabut Perbup

Sementara itu, jumlah kasus penderita penyakit TB kembali meningkat tahun 2017. Whenny mengatakan pemerintah pusat sudah menargetkan untuk menemukan kasus TB pada 2017 di Bojonegoro sebanyak 1.696 kasus. Ternyata dalam setahun lalu, Dinkes Bojonegoro justru menemukan 1.784 orang yang terkena penyakit TB. Sebelumnya, pada 2016 temuan kasus TB sebanyak 1.293.

Sehingga tak heran, setiap tahunnya jumlah kasus TB terus meningkat. Sebab penyakit TB biasa disebakan oleh bakteri basil atau Mycobacterium tuberculosis yang tersebar melalui udara. Karena itu, Whenny mengimbau agar segera periksa apabila ada gejala seperti terserang batuk selama 21 hari atau lebih, batuk mengeluarkan darah, dan hingga demam. “Sehingga kalau segera periksa, deteksi penyakit TB bisa ditangani secara dini,” ujarnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/