alexametrics
24 C
Bojonegoro
Wednesday, May 25, 2022

Jangan Takut Rapid Test Karena Belum Tentu Positif Covid-19 

LAMONGAN, Radar Lamongan  – Tingkat akurasi pemeriksaan menggunakan Rapid Test dengan alat Afias-6 hampir 90 persen. Namun tes ini hanya mendeteksi kekebalan tubuh seseorang. Sehingga dinyatakan reaktif rapid test belum tentu positif Covid-19.  

Menurut juru bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Lamongan, dr Taufik Hidayat, yang bisa menyatakan positif Covid-19 yakni hasil swab test. Karena tes ini untuk mendeteksi antigen yang memungkinkan virus menyerang tubuh seseorang. ‘’Karena itu jangan takut kalau dites rapid atau Afias-16,’’ tuturnya kemarin (17/5).

Pria yang juga Kepala Dinas Kesehatan Lamongan itu menjelaskan, pemeriksaan menggunaan rapid maupun Afias-6 memang bukan penentu hasil akhir. Sebab hasil laboratorium yang diakui Kementerian Kesehatan adalah pemeriksaan menggunakan swab test. Namun secara prosedur tetap (protap), tidak semua orang dalam pemantauan (ODP) maupun pasien dalam pengawasan (PDP) bisa dilakukan swab test. ‘’Kecuali mereka memiliki kondisi tubuh yang sangat menurun disertai dengan penyakit akut,’’ ujarnya. 

Baca Juga :  Banyak Dicari, Apotek Kehabisan Stok Oksigen

Jika kondisinya  menunjukkan orang tanpa gejala (OTG), lanjut dia, maka pemeriksaan hanya bisa dilakukan dengan rapid test atau afias-6. “Karena standar yang ditentukan demikian sehingga kita pilih afias-6 untuk mendeteksi dini,” ujarnya. 

Dia melanjutkan, hasil reaktif afias-6 dan rapid test belum tentu hasil swab testnya positif. Jika kasusnya demikian, berarti pasien pernah terinfeksi kemudian membentuk antibodi dan antibodi itu bertahan dalam tubuhnya sehingga dia akan sulit terinfeksi lagi. ‘’Artinya, bisa saja orang tersebut sudah menunjukkan kondisi sembuh. Sehingga kekebalan tubuhnya membaik,’’ terangnya.

Sebaliknya, terang dia, jika hasil Afias-6 reaktif kemudian swab testnya juga positif, kondisi itu akan memudahkan petugas dalam proses tracing dan upaya penyembuhan. ‘’Sebab mereka yang hasilnya reaktif langsung dikarantina dan dilakukan tracing terhadap keluarganya,’’ tukasnya. 

Taufik menambahkan, rapid test dan Afias-6 berfungsi untuk tracing dan screening. Jika kegiatan itu bisa dimaksimalkan, otomatis rantai penularan Covid-19 bisa dihentikan. Sebab alat ini bisa mendeteksi kekebalan tubuh seseorang terhadap kemungkinan tertularnya virus atau bahkan bisa meminimalisasi virus itu berkembang meski sudah pernah terinfeksi. 

Baca Juga :  Pembangunan Jalan Sesuai Standar

Dia mengungkapkan, screening sementara menggunakan rapid test telah dilakukan terhadap 3.413 Orang, ditemukan reaktif 64 Orang. Kemudian menggunakan Afias-6 telah dilakukan pada 2.991 Orang dengan hasil 239 Orang reaktif. ‘’Mereka yang menunjukkan hasil reaktif, akan dilakukan swab test,’’ ujarnya. 

Menurut dia, tindakan screening ini penting, karena bisa menjadi antisipasi dini munculnya klaster baru. Sebab sasarannya bukan hanya yang pernah kontak dengan pasien terkonfirmasi positif, melainkan juga berhubungan dengan titik-titik yang memungkinkan berkembangnya virus. Seperti pasar, pabrik, pondok pesantren, dan sampel massal masing-masing kecamatan. ‘’Karena itu rapid test dan Afias-6 saat ini gencar dilakukan di lokasi-lokasi seperti itu,’’ tukasnya.

LAMONGAN, Radar Lamongan  – Tingkat akurasi pemeriksaan menggunakan Rapid Test dengan alat Afias-6 hampir 90 persen. Namun tes ini hanya mendeteksi kekebalan tubuh seseorang. Sehingga dinyatakan reaktif rapid test belum tentu positif Covid-19.  

Menurut juru bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Lamongan, dr Taufik Hidayat, yang bisa menyatakan positif Covid-19 yakni hasil swab test. Karena tes ini untuk mendeteksi antigen yang memungkinkan virus menyerang tubuh seseorang. ‘’Karena itu jangan takut kalau dites rapid atau Afias-16,’’ tuturnya kemarin (17/5).

Pria yang juga Kepala Dinas Kesehatan Lamongan itu menjelaskan, pemeriksaan menggunaan rapid maupun Afias-6 memang bukan penentu hasil akhir. Sebab hasil laboratorium yang diakui Kementerian Kesehatan adalah pemeriksaan menggunakan swab test. Namun secara prosedur tetap (protap), tidak semua orang dalam pemantauan (ODP) maupun pasien dalam pengawasan (PDP) bisa dilakukan swab test. ‘’Kecuali mereka memiliki kondisi tubuh yang sangat menurun disertai dengan penyakit akut,’’ ujarnya. 

Baca Juga :  Griya Sehat Lamongan

Jika kondisinya  menunjukkan orang tanpa gejala (OTG), lanjut dia, maka pemeriksaan hanya bisa dilakukan dengan rapid test atau afias-6. “Karena standar yang ditentukan demikian sehingga kita pilih afias-6 untuk mendeteksi dini,” ujarnya. 

Dia melanjutkan, hasil reaktif afias-6 dan rapid test belum tentu hasil swab testnya positif. Jika kasusnya demikian, berarti pasien pernah terinfeksi kemudian membentuk antibodi dan antibodi itu bertahan dalam tubuhnya sehingga dia akan sulit terinfeksi lagi. ‘’Artinya, bisa saja orang tersebut sudah menunjukkan kondisi sembuh. Sehingga kekebalan tubuhnya membaik,’’ terangnya.

Sebaliknya, terang dia, jika hasil Afias-6 reaktif kemudian swab testnya juga positif, kondisi itu akan memudahkan petugas dalam proses tracing dan upaya penyembuhan. ‘’Sebab mereka yang hasilnya reaktif langsung dikarantina dan dilakukan tracing terhadap keluarganya,’’ tukasnya. 

Taufik menambahkan, rapid test dan Afias-6 berfungsi untuk tracing dan screening. Jika kegiatan itu bisa dimaksimalkan, otomatis rantai penularan Covid-19 bisa dihentikan. Sebab alat ini bisa mendeteksi kekebalan tubuh seseorang terhadap kemungkinan tertularnya virus atau bahkan bisa meminimalisasi virus itu berkembang meski sudah pernah terinfeksi. 

Baca Juga :  Tetap Harus Waspadai Orang Gila

Dia mengungkapkan, screening sementara menggunakan rapid test telah dilakukan terhadap 3.413 Orang, ditemukan reaktif 64 Orang. Kemudian menggunakan Afias-6 telah dilakukan pada 2.991 Orang dengan hasil 239 Orang reaktif. ‘’Mereka yang menunjukkan hasil reaktif, akan dilakukan swab test,’’ ujarnya. 

Menurut dia, tindakan screening ini penting, karena bisa menjadi antisipasi dini munculnya klaster baru. Sebab sasarannya bukan hanya yang pernah kontak dengan pasien terkonfirmasi positif, melainkan juga berhubungan dengan titik-titik yang memungkinkan berkembangnya virus. Seperti pasar, pabrik, pondok pesantren, dan sampel massal masing-masing kecamatan. ‘’Karena itu rapid test dan Afias-6 saat ini gencar dilakukan di lokasi-lokasi seperti itu,’’ tukasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/