alexametrics
25.2 C
Bojonegoro
Sunday, August 14, 2022

Tenaga Kerja Bojonegoro Melimpah, Rentan Lonjakan Pengangguran

- Advertisement -

Radar Bojonegoro – Tahun ini, ternyata menjadi tantangan Kabupaten Bojonegoro. Bahkan, bisa disebut periode emas Bojonegoro karena adanya bonus demografi. Ledakan penduduk ini terjadi pada usia produktif. Fenomena sosial ini berdasar Sensus Penduduk (SP) 2020. Jumlah penduduk Bojonegoro pada 2020 mencapai 1.301.635 jiwa. Ternyata, 72,28 persen di antaranya penduduk usia produktif, yakni usia 15 tahun hingga 64 tahun.

Atau setara 940.821 jiwa usia produktif. Cukup mendominasi. Dan, terjadi saat pandemi Covid-19. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Bojonegoro Firman Bastian membenarkan Kabupaten Bojonegoro mengalami bonus demografi.

Bonus demografi merupakan istilah bagi kondisi penduduk usia produktif lebih banyak dibanding usia tidak produktif. Bonus demografi pasti dialami oleh suatu wilayah. Hanya terjadi sekali dan tidak akan terulang. Seperti negara maju sudah melewati bonus demografi. “Selama berdirinya suatu wilayah, bonus demografi hanya terjadi sekali,” katanya ditemui di kantornya kemarin (17/2).

Menurut Firman, bonus demografi akan terjadi sekitar 10 tahun. Pada sensus penduduk selanjutnya, 2030 tidak terjadi akan terjadi lagi. Dan menjadi periode emas dalam aspek kependudukan. Terdapat beberapa dampak positif dari bonus demografi. Seperti, memacu pertumbuhan ekonomi. Dan pemerintah dapat mempersiapkan perencanaan pembangunan sarana fisik maupun sosial ekonomi guna membangun wilayah maju.

Dampak positif lainnya, tutur Firman, mengubah pola pikir generasi muda lebih kreatif. Serta, merangsang penanaman modal dari dalam dan luar negeri dipicu dari banyaknya tenaga kerja produktif. Bahkan, menjadi modal besar, dengan sumber daya manusia (SDM) berkualitas sehingga daya saing tinggi. Mantan Kepala BPS Madiun itu menjelaskan, ketika pemerintah suatu wilayah bisa memanfaatkan bonus demografi dengan menyediakan lapangan pekerjaan dan meningkatkan keterampilan penduduk usia produktif, tentu bisa mengangkat kemajuan wilayah. Berimbas baik terhadap pendapatan per kapita akan meningkat.

Baca Juga :  Kesembuhan TBC Di Bojonegoro di Atas 90 Persen
- Advertisement -

“Jika usia produktif kecil, dan penduduk usia tidak produktif banyak akan membuat suatu wilayah kesulitan untuk maju. Karena kekurangan sumber daya manusia di usia produktif,” jelasnya. Sebaliknya, salah penanganan ledakan jumlah penduduk usia produktif, tentu bisa menjadi beban atau berdampak negatif dalam perekonomian. Bisa berpotensi pengangguran secara besar-besaran. Mengakibatkan kerusakan lingkungan ketika tidak diikuti kesadaran lingkungan yang baik.

Tenaga kerja akan didominasi dari luar daerah, apabila penduduk tidak memiliki skill. Dan berimbas perekonomian memburuk hingga kesehatan menurun. “Jika tidak terkelola dengan baik, pengangguran akan banyak. Tenaga kerja tidak terserap. Lapangan kerja terbatas, persiangan pencari kerja akan tinggi,” bebernya.

Firman menerangkan, terdapat syarat-syarat bonus demografi mampu mencapai sasaran. Seperti kualitas penduduk yang baik. Suplai tenaga kerja produktif diimbangi lapagan kerja besar. Tabungan rumah tangga diinvestasikan kegiatan produktif. Upaya peningkatan kesehatan remaja, terutama kesehatan reproduksi dan penanggulangan perilaku tidak sehat. “Jumlah anak sedikit memungkinkan perempuan masuk pasar tenaga kerja, sehingga meningkatkan pendapatan,” tambahnya.

Baca Juga :  Belasan Ribu Biker Meriahkan Fun Bike

Sementara itu, Boy Singging Gitayuda, dosen ekonomi asal Kecamatan Ngasem ini mengungkapkan, bonus demografi menjadi hal dialami suatu wilayah. Bojonegoro kini mendapat bagian melimpahnya penduduk usia kerja atau produktif. Boy justru mempertanyakan kesiapan Pemkab Bojonegoro memanfaatkan bonus demografi, dengan banyaknya penduduk usia produktif. “Apakah skill dimiliki penduduk siap untuk bekerja? Apakah lapangan kerja sudah cukup?” ujar dosen Fakutas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Trunojoyo Madura itu.

Alumni SMAN 1 Bojonegoro itu menekankan pihak-pihak terkait memperbanyak lapangan kerja. Selain itu turut meningkatkan keterampilan penduduk usia kerja. “Intinya semakin banyak lapangan kerja semakin baik,” jelasnya.

Boy menjelaskan, beberapa program pemerintah pusat bisa mengantisipasi dan memanfaatkan bonus demografi. Dalam aspek keterampilan penduduk, pemerintah pusat memberikan pelatihan kerja agar penduduk usia kerja siap masuk dunia kerja. “Contohnya program kartu prakerja,” ujarnya.

Selain itu, aspek lapangan kerja pemerintah pusat membuka kesempatan perusahaan di dalam maupun luar negeri untuk melakukan investasi. Agar semakin banyak lapangan kerja tersedia. “Bagaimana dengan pemerintah daerah?” ungkapnya. Sebaliknya, salah mengelola bonus demografi, menurut Boy, akan berdampak buruk. Pengangguran akan melimpah akibat tidak terserapnya penduduk usia kerja. (irv)

Radar Bojonegoro – Tahun ini, ternyata menjadi tantangan Kabupaten Bojonegoro. Bahkan, bisa disebut periode emas Bojonegoro karena adanya bonus demografi. Ledakan penduduk ini terjadi pada usia produktif. Fenomena sosial ini berdasar Sensus Penduduk (SP) 2020. Jumlah penduduk Bojonegoro pada 2020 mencapai 1.301.635 jiwa. Ternyata, 72,28 persen di antaranya penduduk usia produktif, yakni usia 15 tahun hingga 64 tahun.

Atau setara 940.821 jiwa usia produktif. Cukup mendominasi. Dan, terjadi saat pandemi Covid-19. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Bojonegoro Firman Bastian membenarkan Kabupaten Bojonegoro mengalami bonus demografi.

Bonus demografi merupakan istilah bagi kondisi penduduk usia produktif lebih banyak dibanding usia tidak produktif. Bonus demografi pasti dialami oleh suatu wilayah. Hanya terjadi sekali dan tidak akan terulang. Seperti negara maju sudah melewati bonus demografi. “Selama berdirinya suatu wilayah, bonus demografi hanya terjadi sekali,” katanya ditemui di kantornya kemarin (17/2).

Menurut Firman, bonus demografi akan terjadi sekitar 10 tahun. Pada sensus penduduk selanjutnya, 2030 tidak terjadi akan terjadi lagi. Dan menjadi periode emas dalam aspek kependudukan. Terdapat beberapa dampak positif dari bonus demografi. Seperti, memacu pertumbuhan ekonomi. Dan pemerintah dapat mempersiapkan perencanaan pembangunan sarana fisik maupun sosial ekonomi guna membangun wilayah maju.

Dampak positif lainnya, tutur Firman, mengubah pola pikir generasi muda lebih kreatif. Serta, merangsang penanaman modal dari dalam dan luar negeri dipicu dari banyaknya tenaga kerja produktif. Bahkan, menjadi modal besar, dengan sumber daya manusia (SDM) berkualitas sehingga daya saing tinggi. Mantan Kepala BPS Madiun itu menjelaskan, ketika pemerintah suatu wilayah bisa memanfaatkan bonus demografi dengan menyediakan lapangan pekerjaan dan meningkatkan keterampilan penduduk usia produktif, tentu bisa mengangkat kemajuan wilayah. Berimbas baik terhadap pendapatan per kapita akan meningkat.

Baca Juga :  Penempatan Eks Sekdes PNS Dinilai Tak Manusiawi
- Advertisement -

“Jika usia produktif kecil, dan penduduk usia tidak produktif banyak akan membuat suatu wilayah kesulitan untuk maju. Karena kekurangan sumber daya manusia di usia produktif,” jelasnya. Sebaliknya, salah penanganan ledakan jumlah penduduk usia produktif, tentu bisa menjadi beban atau berdampak negatif dalam perekonomian. Bisa berpotensi pengangguran secara besar-besaran. Mengakibatkan kerusakan lingkungan ketika tidak diikuti kesadaran lingkungan yang baik.

Tenaga kerja akan didominasi dari luar daerah, apabila penduduk tidak memiliki skill. Dan berimbas perekonomian memburuk hingga kesehatan menurun. “Jika tidak terkelola dengan baik, pengangguran akan banyak. Tenaga kerja tidak terserap. Lapangan kerja terbatas, persiangan pencari kerja akan tinggi,” bebernya.

Firman menerangkan, terdapat syarat-syarat bonus demografi mampu mencapai sasaran. Seperti kualitas penduduk yang baik. Suplai tenaga kerja produktif diimbangi lapagan kerja besar. Tabungan rumah tangga diinvestasikan kegiatan produktif. Upaya peningkatan kesehatan remaja, terutama kesehatan reproduksi dan penanggulangan perilaku tidak sehat. “Jumlah anak sedikit memungkinkan perempuan masuk pasar tenaga kerja, sehingga meningkatkan pendapatan,” tambahnya.

Baca Juga :  Sopir Ngantuk, Truk Tangki Halangi Dua RelĀ 

Sementara itu, Boy Singging Gitayuda, dosen ekonomi asal Kecamatan Ngasem ini mengungkapkan, bonus demografi menjadi hal dialami suatu wilayah. Bojonegoro kini mendapat bagian melimpahnya penduduk usia kerja atau produktif. Boy justru mempertanyakan kesiapan Pemkab Bojonegoro memanfaatkan bonus demografi, dengan banyaknya penduduk usia produktif. “Apakah skill dimiliki penduduk siap untuk bekerja? Apakah lapangan kerja sudah cukup?” ujar dosen Fakutas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Trunojoyo Madura itu.

Alumni SMAN 1 Bojonegoro itu menekankan pihak-pihak terkait memperbanyak lapangan kerja. Selain itu turut meningkatkan keterampilan penduduk usia kerja. “Intinya semakin banyak lapangan kerja semakin baik,” jelasnya.

Boy menjelaskan, beberapa program pemerintah pusat bisa mengantisipasi dan memanfaatkan bonus demografi. Dalam aspek keterampilan penduduk, pemerintah pusat memberikan pelatihan kerja agar penduduk usia kerja siap masuk dunia kerja. “Contohnya program kartu prakerja,” ujarnya.

Selain itu, aspek lapangan kerja pemerintah pusat membuka kesempatan perusahaan di dalam maupun luar negeri untuk melakukan investasi. Agar semakin banyak lapangan kerja tersedia. “Bagaimana dengan pemerintah daerah?” ungkapnya. Sebaliknya, salah mengelola bonus demografi, menurut Boy, akan berdampak buruk. Pengangguran akan melimpah akibat tidak terserapnya penduduk usia kerja. (irv)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/