alexametrics
25.2 C
Bojonegoro
Tuesday, June 28, 2022

Pengusaha Kuliner Keluhkan Harga Cabai

Radar Bojonegoro – Harga cabai rawit sejak awal 2021 hingga kemarin (17/2) masih bertahan Rp 80 ribu per kilogram. Harga normalnya sekitar Rp 30 ribu per kilogram. Tingginya harga itu sangat berdampak bagi para pelaku usaha kuliner dengan menu masakan pedas, menyebabkan omzetnya menurun. Padahal, mereka juga harus bertahan menjaga usahanya tetap jalan di tengah pandemi Covid-19.

Pengusaha kuliner ayam geprek Nurkhozin mengatakan, harga cabai rawit sejak Januari tak kunjung stabil. Harga normalnya cabai rawit sekitar Rp 30 ribu per kilogram. Sejak Januari harganya sudah Rp 60 ribu per kilogram, lalu naik perlahan. Harga tertingginya sempat Rp 90 ribu per kilogram, lalu sekarang turun lagi menjadi Rp 80 ribu per kilogram.

“Harga cabai sampai sekarang masih mahal, belum stabil. Saya sendiri akhirnya menyiasati dengan mengurangi jumlah cabainya agar marginnya tidak terpaut jauh,” ujar pria yang memiliki warung di Jalan Panglima Sudirman tersebut.

Baca Juga :  Prediksi Penurunan DBH Tidak Logis

Nurkhozin mengaku sejak pandemi Covid-19 lalu ditambah harga cabai rawit mahal mengakibatkan omzetnya menurun sekitar 30-40 persen. Tetapi, ia tetap optimistis mampu bertahan melewati masa-masa sulit tersebut. Karena, penikmat ayam geprek di Bojonegoro sangat banyak. Jadi, ia berusaha terus memperbaiki pelayanan dan menyajikan masakan dengan kualitas yang baik.

“Alhamdulillah masih bisa bertahan meski pandemi Covid-19. Semoga bisa kembali normal dan harga cabai lekas turun,” ucapnya.

Keluhan yang sama dilontarkan Candra, pengusaha nasi kepal. Omzetnya menurun sekitar 20 persen akibat mahalnya harga cabai rawit. Candra menyiasati dengan mencampur cabai rawit segar dan lada putih. Selama masa pandemi Covid-19, Candra merasa sudah bisa beradaptasi. Karena memang sejak awal memulai usaha tidak memliki warung. Seluruh penjualannya via ojek online.

Baca Juga :  Mulai 13 Oktober, Tes SKD Tiga Kabupaten Bergantian

“Tetapi meski sudah bisa beradaptasi, pandemi Covid-19 tentu tetap ada pengaruhnya. Salah satunya daya beli masya rakat kan cenderung menurun,” bebernya. Terpisah, salah satu pedagang di Pasar Bojonegoro Sumiyati mengatakan, harga cabai rawit masih Rp 80 ribu per kilogram. Selain mahal, terkadang kondisi cabainya kurang segar.

Ada kemungkinan, faktor musim hujan yang mengakibatkan hasil panen kurang optimal. Sedangkan, cabai keriting dan cabai biasa harganya Rp 40 ribu hingga Rp 45 ribu per kilogram. “Karena mahal, para pembeli jarang beli cabai rawit satu kilogram, paling sering belinya setengah kilogram,” ucapnya. Hingga berita ini ditulis, Jawa Pos Radar Bojonegoro berusaha mengonfirmasi Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Mikro Bojonegoro Sukaemi melalui sambungan telepon. Namun, belum ada respons. 

Radar Bojonegoro – Harga cabai rawit sejak awal 2021 hingga kemarin (17/2) masih bertahan Rp 80 ribu per kilogram. Harga normalnya sekitar Rp 30 ribu per kilogram. Tingginya harga itu sangat berdampak bagi para pelaku usaha kuliner dengan menu masakan pedas, menyebabkan omzetnya menurun. Padahal, mereka juga harus bertahan menjaga usahanya tetap jalan di tengah pandemi Covid-19.

Pengusaha kuliner ayam geprek Nurkhozin mengatakan, harga cabai rawit sejak Januari tak kunjung stabil. Harga normalnya cabai rawit sekitar Rp 30 ribu per kilogram. Sejak Januari harganya sudah Rp 60 ribu per kilogram, lalu naik perlahan. Harga tertingginya sempat Rp 90 ribu per kilogram, lalu sekarang turun lagi menjadi Rp 80 ribu per kilogram.

“Harga cabai sampai sekarang masih mahal, belum stabil. Saya sendiri akhirnya menyiasati dengan mengurangi jumlah cabainya agar marginnya tidak terpaut jauh,” ujar pria yang memiliki warung di Jalan Panglima Sudirman tersebut.

Baca Juga :  Kalangan Legislatif Pesimis Proyek Usai Tiga Minggu

Nurkhozin mengaku sejak pandemi Covid-19 lalu ditambah harga cabai rawit mahal mengakibatkan omzetnya menurun sekitar 30-40 persen. Tetapi, ia tetap optimistis mampu bertahan melewati masa-masa sulit tersebut. Karena, penikmat ayam geprek di Bojonegoro sangat banyak. Jadi, ia berusaha terus memperbaiki pelayanan dan menyajikan masakan dengan kualitas yang baik.

“Alhamdulillah masih bisa bertahan meski pandemi Covid-19. Semoga bisa kembali normal dan harga cabai lekas turun,” ucapnya.

Keluhan yang sama dilontarkan Candra, pengusaha nasi kepal. Omzetnya menurun sekitar 20 persen akibat mahalnya harga cabai rawit. Candra menyiasati dengan mencampur cabai rawit segar dan lada putih. Selama masa pandemi Covid-19, Candra merasa sudah bisa beradaptasi. Karena memang sejak awal memulai usaha tidak memliki warung. Seluruh penjualannya via ojek online.

Baca Juga :  Harga Cabai Naik

“Tetapi meski sudah bisa beradaptasi, pandemi Covid-19 tentu tetap ada pengaruhnya. Salah satunya daya beli masya rakat kan cenderung menurun,” bebernya. Terpisah, salah satu pedagang di Pasar Bojonegoro Sumiyati mengatakan, harga cabai rawit masih Rp 80 ribu per kilogram. Selain mahal, terkadang kondisi cabainya kurang segar.

Ada kemungkinan, faktor musim hujan yang mengakibatkan hasil panen kurang optimal. Sedangkan, cabai keriting dan cabai biasa harganya Rp 40 ribu hingga Rp 45 ribu per kilogram. “Karena mahal, para pembeli jarang beli cabai rawit satu kilogram, paling sering belinya setengah kilogram,” ucapnya. Hingga berita ini ditulis, Jawa Pos Radar Bojonegoro berusaha mengonfirmasi Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Mikro Bojonegoro Sukaemi melalui sambungan telepon. Namun, belum ada respons. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/