alexametrics
32.6 C
Bojonegoro
Monday, August 8, 2022

Revitalisasi Pasar Tradisional, Tingkat Ekonomi Masyarakat Bojonegoro

Pada masa pandemi saat ini memang perekonomian mengalami penurunan daya beli masyarakat, banyak masyarakat terdampak akibat pandemi covid saat, seperti terjadinya phk di banyak perusahaan dan pemotongan gaji menyebabakan penurunan daya beli masyarakat, dan hal ini juga menyebabkan penurunan daya beli dipasar tradisional. Hal ini menyebabkan penurunan minat pembeli, membuat wajah pasar menjadi sepi pembeli dari pada masa sebelum pandemi.

pasar tradisional merupakan pusat kegiatan ekonomi yang terletak pada suatu daerah dan pusat penjual yang salah satunya menjual hasil bumi dari masyarakat lokal, namum sering kita ketahui pasar tradisional kurang terjaga ketertiban, keamanan, dan kebersihannya kurang diperhatikan menjadikan masyarakat enggan ke pasar tradisional, dan itu sering dikeluhkan masyarakat ketika sedang berbelanja di pasar tersebut, yang akhirnya membuat sebagian pengelola pasar mendesak pemerintah melakukan sentuhan perbaikan. Terdapat empat Pasar yang melakukan desakan tersebut, diantaranya; Pasar Banjarjo, Pasar Kota Bojonegoro, Pasar Hewan Keboan, Pasar Sroyo   

pada sabtu 10 november 2020 pemerintah dan salah satu pengelola pasar melakukan evaluasi dan pembinaan, kegiatan tersebut dalam rangka revitalisasi pasar tradisional/pasar daerah milik Pemkab untuk untuk menata kembali ketertiban, keamanan ,dan perbaikan pasar. semoga dalam kegiatan revitalisasi ini bisa terwujud dan bisa menarik minat pembeli ke pasar tradisional juga memulihkan kembali ekonomi pada masa pandemi saat ini.

Baca Juga :  Pasar Tumpah Meluber di Jalan Nasional

Pemkab Bojonegoro mengalokasikan 9 pasar daerah atau pasar tradisional tersebut. Dimulai pada pertengahan juli 2020 dan ditargetkan akan selesai pada tanggal 15 desember 2020, selain itu pemkab bojonegoro juga akan merevitalisasi pasar tradisional lainnya yakni; Pasar Malo, Kalitidu, padangan, dander sugihwaras, kedungadem, dan pasar kanor. Pada akhir tahun kemarin pemerintah membangun 2 pasar tradisonal, yaitu pasar daerah Banjarjo 1 kota Bojonegoro dengan anggran Rp 47,6 miliar dan Pasar Daerah Sroyo Kecamatan Kanor dengan anggaran Rp. 19 miliar.

Dalam progresnya yakni Pasar Banjarjo dan Pasar sroyo, pasar banjarejo lebih dulu rampung dengan menggunakan dana APBD 2020 sebesar 47,6 miliar, pada awal tahun pengerjaannya sudah rampung dan setelah 5 bulan pengerjaan, akhirnya pada 7 Januari 2021 telah diresmikan oleh Bupati Bojonegoro Anna Muawannah, dengan nuansa modern pasar ini telah membangun 797, dibagi menjadi 2 lantai, dilantai bawah sebanyak 693 kios dan di lantai atas sebanyak 104 kios dan fasilitas pendukung lainnya seperti foodcourt (area makan) dan arena bermain untuk anak, serta ramah untuk difabel. Pada Pasar Sroyo pada bulan november juga sudah mencapai 90% pengerjannya dan menunggu proses akhir atau Finishing, pasar ini menggunakan dana APBD 2020 sebesar 19 miliar.

Baca Juga :  Larang Siswa Tangani MPLS

diharapkan dari revitalisasi pasar tersebut dari segi pedagang nantinya penataan kios bisa diatur dengan membuat kontrak yang baru membauat pedagang lebih disiplin, penempatan kios sesuai jenis dan kelompok dagangannya sekaligus rata dan adil(tidak diuntungkan sebelah pihak), memberikan tempat bagi pedagang kaki lima agar lebih tertib saat berjualan dan tidak memkai tempat sembarangan dan diberi harga wajar agar tidak memberatkannya, pada pasar banjarjo terdapat fasilitas tambahan berupa ramah bagi difabel ini harus di rawat kedpannya agar tidak tebengkalai, pada sektor sektor parkir juga diatur manajemennya jangan sampai terjadi perebutan pengelola dan perebutan wilayah parkir seperti yang kita ketahui di pasar lainnya, karena pada masa pandemi ini diberikan fasilitas seperti tempat cuci tangan dan sering dilakukan semprotan desinfektan agar steril dari virus corona, dan harapan besarnya dari revitalisasi ini juga bisa mendongkrak perekonomian setelah pendemi untuk mengangkat pasar tradisional agar dapat bersaing dengan mini market yang jumlahnya sangat banyak baik di desa maupun di kota agar punya daya saing yang tinggi.

*Prodi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universtias Muhammadiyah Malang

Pada masa pandemi saat ini memang perekonomian mengalami penurunan daya beli masyarakat, banyak masyarakat terdampak akibat pandemi covid saat, seperti terjadinya phk di banyak perusahaan dan pemotongan gaji menyebabakan penurunan daya beli masyarakat, dan hal ini juga menyebabkan penurunan daya beli dipasar tradisional. Hal ini menyebabkan penurunan minat pembeli, membuat wajah pasar menjadi sepi pembeli dari pada masa sebelum pandemi.

pasar tradisional merupakan pusat kegiatan ekonomi yang terletak pada suatu daerah dan pusat penjual yang salah satunya menjual hasil bumi dari masyarakat lokal, namum sering kita ketahui pasar tradisional kurang terjaga ketertiban, keamanan, dan kebersihannya kurang diperhatikan menjadikan masyarakat enggan ke pasar tradisional, dan itu sering dikeluhkan masyarakat ketika sedang berbelanja di pasar tersebut, yang akhirnya membuat sebagian pengelola pasar mendesak pemerintah melakukan sentuhan perbaikan. Terdapat empat Pasar yang melakukan desakan tersebut, diantaranya; Pasar Banjarjo, Pasar Kota Bojonegoro, Pasar Hewan Keboan, Pasar Sroyo   

pada sabtu 10 november 2020 pemerintah dan salah satu pengelola pasar melakukan evaluasi dan pembinaan, kegiatan tersebut dalam rangka revitalisasi pasar tradisional/pasar daerah milik Pemkab untuk untuk menata kembali ketertiban, keamanan ,dan perbaikan pasar. semoga dalam kegiatan revitalisasi ini bisa terwujud dan bisa menarik minat pembeli ke pasar tradisional juga memulihkan kembali ekonomi pada masa pandemi saat ini.

Baca Juga :  Menyoal Kembali Pembangunan Mall Pelayanan Publik di Masa Pendemi

Pemkab Bojonegoro mengalokasikan 9 pasar daerah atau pasar tradisional tersebut. Dimulai pada pertengahan juli 2020 dan ditargetkan akan selesai pada tanggal 15 desember 2020, selain itu pemkab bojonegoro juga akan merevitalisasi pasar tradisional lainnya yakni; Pasar Malo, Kalitidu, padangan, dander sugihwaras, kedungadem, dan pasar kanor. Pada akhir tahun kemarin pemerintah membangun 2 pasar tradisonal, yaitu pasar daerah Banjarjo 1 kota Bojonegoro dengan anggran Rp 47,6 miliar dan Pasar Daerah Sroyo Kecamatan Kanor dengan anggaran Rp. 19 miliar.

Dalam progresnya yakni Pasar Banjarjo dan Pasar sroyo, pasar banjarejo lebih dulu rampung dengan menggunakan dana APBD 2020 sebesar 47,6 miliar, pada awal tahun pengerjaannya sudah rampung dan setelah 5 bulan pengerjaan, akhirnya pada 7 Januari 2021 telah diresmikan oleh Bupati Bojonegoro Anna Muawannah, dengan nuansa modern pasar ini telah membangun 797, dibagi menjadi 2 lantai, dilantai bawah sebanyak 693 kios dan di lantai atas sebanyak 104 kios dan fasilitas pendukung lainnya seperti foodcourt (area makan) dan arena bermain untuk anak, serta ramah untuk difabel. Pada Pasar Sroyo pada bulan november juga sudah mencapai 90% pengerjannya dan menunggu proses akhir atau Finishing, pasar ini menggunakan dana APBD 2020 sebesar 19 miliar.

Baca Juga :  Deklarasikan Kampus Bersih Narkoba dan Anti Kekerasan Seksual

diharapkan dari revitalisasi pasar tersebut dari segi pedagang nantinya penataan kios bisa diatur dengan membuat kontrak yang baru membauat pedagang lebih disiplin, penempatan kios sesuai jenis dan kelompok dagangannya sekaligus rata dan adil(tidak diuntungkan sebelah pihak), memberikan tempat bagi pedagang kaki lima agar lebih tertib saat berjualan dan tidak memkai tempat sembarangan dan diberi harga wajar agar tidak memberatkannya, pada pasar banjarjo terdapat fasilitas tambahan berupa ramah bagi difabel ini harus di rawat kedpannya agar tidak tebengkalai, pada sektor sektor parkir juga diatur manajemennya jangan sampai terjadi perebutan pengelola dan perebutan wilayah parkir seperti yang kita ketahui di pasar lainnya, karena pada masa pandemi ini diberikan fasilitas seperti tempat cuci tangan dan sering dilakukan semprotan desinfektan agar steril dari virus corona, dan harapan besarnya dari revitalisasi ini juga bisa mendongkrak perekonomian setelah pendemi untuk mengangkat pasar tradisional agar dapat bersaing dengan mini market yang jumlahnya sangat banyak baik di desa maupun di kota agar punya daya saing yang tinggi.

*Prodi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universtias Muhammadiyah Malang

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/