alexametrics
32.8 C
Bojonegoro
Thursday, August 18, 2022

Jatah Dana Desa Susut Rp 41 M

- Advertisement -

KOTA – Pendapatan desa di Lamongan bakal menurun tahun ini. Karena jatah dana desa (DD) untuk Kota Soto tersebut Rp 41 miliar. Yakni dari Rp 363 miliar tahun lalu, menjadi Rp 321 miliar tahun ini. 

“Turun, tapi tidak banyak. Desa harus bisa membelanjakan secara efisien dana tersebut,” kata Kepala Bidang Sumber Daya Desa (SDD) Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Lamongan, Poedjianto rabu (17/1). 

Menurut Poedji, menurunnya jumlah DD tahun ini dipengaruhi cara penghitungan pusat. Ada tiga metode penghitungan. Yakni alokasi dasar, seluruh desa di Indonesia mendapatkan jatah sama. Kemudian alokasi formula, disesuaikan jumlah penduduk, luas wilayah serta data kemiskinan.

Serta alokasi afirmasi, disesuaikan dengan kondisi desa tertinggal atau sangat tertinggal serta jumlah penduduk miskinnya. “Besaran DD banyak dipengaruhi oleh alokasi afirmasi,” terangnya. 

Baca Juga :  Minggu Depan Lelang Proyek Pelebaran Jalan Bojonegoro-Balen

Perihal turunnya DD, Poedji enggan berkomentar banyak, karena kebijakan ini dari pusat. Daerah hanya melaksanakan sesuai dengan perhitungan pusat. Dia hanya menjelaskan, berkurangnya dukungan materil dari pemerintah pusat untuk desa ini berpengaruh cukup besar.

- Advertisement -

Sebab operasional dan pemeliharaan infrastruktur desa selama ini sangat bergantung dari DD. ‘’Ketika dana tersebut dipangkas, desa harus harus ada pertimbangan lebih dalam merumuskan pembelanjaan,’’ tuturnya. 

Poedji menambahkan, pencairan DD dilakukan tiga tahap. Tahap I diperkirakan akhir Januari hingga awal Februari sebesar 20 persen. Tahap kedua 40 persen diperkirakan cair Maret-Juni. Sisanya akan cair paling cepat Juni. “Mekanisme tersebut menyesuaikan dengan perbup (peraturan bupati) dan laporan realisasi,” terangnya.

Baca Juga :  Duga Korupsi Dana Desa, Kades Mojoagung Dituntut 1,5 Tahun

KOTA – Pendapatan desa di Lamongan bakal menurun tahun ini. Karena jatah dana desa (DD) untuk Kota Soto tersebut Rp 41 miliar. Yakni dari Rp 363 miliar tahun lalu, menjadi Rp 321 miliar tahun ini. 

“Turun, tapi tidak banyak. Desa harus bisa membelanjakan secara efisien dana tersebut,” kata Kepala Bidang Sumber Daya Desa (SDD) Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Lamongan, Poedjianto rabu (17/1). 

Menurut Poedji, menurunnya jumlah DD tahun ini dipengaruhi cara penghitungan pusat. Ada tiga metode penghitungan. Yakni alokasi dasar, seluruh desa di Indonesia mendapatkan jatah sama. Kemudian alokasi formula, disesuaikan jumlah penduduk, luas wilayah serta data kemiskinan.

Serta alokasi afirmasi, disesuaikan dengan kondisi desa tertinggal atau sangat tertinggal serta jumlah penduduk miskinnya. “Besaran DD banyak dipengaruhi oleh alokasi afirmasi,” terangnya. 

Baca Juga :  Agar Lalu Lintas Teratur, Dipasang Dua Traffic Light Baru

Perihal turunnya DD, Poedji enggan berkomentar banyak, karena kebijakan ini dari pusat. Daerah hanya melaksanakan sesuai dengan perhitungan pusat. Dia hanya menjelaskan, berkurangnya dukungan materil dari pemerintah pusat untuk desa ini berpengaruh cukup besar.

- Advertisement -

Sebab operasional dan pemeliharaan infrastruktur desa selama ini sangat bergantung dari DD. ‘’Ketika dana tersebut dipangkas, desa harus harus ada pertimbangan lebih dalam merumuskan pembelanjaan,’’ tuturnya. 

Poedji menambahkan, pencairan DD dilakukan tiga tahap. Tahap I diperkirakan akhir Januari hingga awal Februari sebesar 20 persen. Tahap kedua 40 persen diperkirakan cair Maret-Juni. Sisanya akan cair paling cepat Juni. “Mekanisme tersebut menyesuaikan dengan perbup (peraturan bupati) dan laporan realisasi,” terangnya.

Baca Juga :  Dasar Anak, Rumahnya sedang Direhab, Memilih Mainan Kembang Api

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/