alexametrics
27.1 C
Bojonegoro
Wednesday, May 25, 2022

Stok Air Kritis

LAMONGAN, Radar Lamongan – Stok air di Lamongan sudah kritis. Ditunjukkan dengan cadangan air yang tinggal 1 Persen. Berdasarkan data Dinas PU Sumber Daya Air setempat, total cadangan air di 44 waduk dan 100 embung aktif  di Lamongan mencapai 112,78 Juta meter kubik (M3). Namun kemarin (16/10) tinggal tersisa 1,36 Juta M3. “Sekarang (kemarin, Red) hanya waduk milik pemerintah pusat yang masih terdapat cadangan air. Sementara waduk kabupaten sebagian besar sudah kering,” kata Kabag Humas dan Protokol Pemkab Lamongan, Agus Hendrawan.

Menurut Agus, sebagian besar waduk dan embung sudah tidak bisa dimanfaatkan karena sudah tak memiliki stok air. Khususnya waduk kabupaten. Karena kapasitas menyimpan air terbatas. Sehingga praktis hanya tiga waduk yang masih memiliki cadangan air. Yakni Waduk Gondang di Kecamatan Sugio tersisa 1,15 Juta M3 dari kapasitas maksimal 19,9 Juta M3. Kemudian Waduk Jajong di Kecamatan Laren hanya tersisa 100 ribu M3 dari kapasitas maksimal 951.600 M3. Dan Waduk Prijetan di Kecamatan Kedungpring dari kapasitas maksimal 5,64 Juta M3 hanya tinggal tersisa 116.973 M3.

Baca Juga :  Perlu Satu Data untuk Penanganan Kemiskinan Ekstrem

Agus mengatakan, cadangan air yang tersisa tersebut hanya memenuhi kebutuhan pertanian. Karena air yang tersisia tidak layak konsumsi. Kecuali melalui proses penyaringan seperti yang dilakukan oleh perusahaan air minum. ‘’Sehingga cadangan air yang hanya tersisa 1 persen itu tidak terlalu berdampak signifikan untuk kebutuhan air sehari-hari bagi warga,’’ terangnya.

Meski begitu, Agus meminta supaya petani memperhatikan rencana tata tanam global yang dibuat oleh dinas terkait. Agar bisa menghemat cadangan air. ‘’Tujuannya ketika terjadi kekeringan, minimal petani sudah memasuki panen,’’ tuturnya.

Menurut Agus, selain kemarau panjang, kritisnya cadangan air tersebut juga disebabkan waduk dan embung di Lamongan tidak berfungsi maksimal saat musim penghujan. Yakni tidak bisa menampung air hujan secara maksimal karena terjadi masalah terjadi sedimentasi (pendangkalan). Saat musim penghujan, fungsi penyimpanan hanya 70 persen dari kapasitas normal.

Baca Juga :  Macet lagi, Babat Butuh Rekayasa Penanganan

Karena itu, ungkap dia, tahun ini Pemkab Lamongan mengalokasikan dana sekitar Rp 5,6 Miliar untuk normalisasi/pengerukan 41 embung dan rehabilitasi 8 sungai. “Program itu sebagai upaya semaksimal mungkin supaya penyimpanan air menjadi normal,” jelasnya.

LAMONGAN, Radar Lamongan – Stok air di Lamongan sudah kritis. Ditunjukkan dengan cadangan air yang tinggal 1 Persen. Berdasarkan data Dinas PU Sumber Daya Air setempat, total cadangan air di 44 waduk dan 100 embung aktif  di Lamongan mencapai 112,78 Juta meter kubik (M3). Namun kemarin (16/10) tinggal tersisa 1,36 Juta M3. “Sekarang (kemarin, Red) hanya waduk milik pemerintah pusat yang masih terdapat cadangan air. Sementara waduk kabupaten sebagian besar sudah kering,” kata Kabag Humas dan Protokol Pemkab Lamongan, Agus Hendrawan.

Menurut Agus, sebagian besar waduk dan embung sudah tidak bisa dimanfaatkan karena sudah tak memiliki stok air. Khususnya waduk kabupaten. Karena kapasitas menyimpan air terbatas. Sehingga praktis hanya tiga waduk yang masih memiliki cadangan air. Yakni Waduk Gondang di Kecamatan Sugio tersisa 1,15 Juta M3 dari kapasitas maksimal 19,9 Juta M3. Kemudian Waduk Jajong di Kecamatan Laren hanya tersisa 100 ribu M3 dari kapasitas maksimal 951.600 M3. Dan Waduk Prijetan di Kecamatan Kedungpring dari kapasitas maksimal 5,64 Juta M3 hanya tinggal tersisa 116.973 M3.

Baca Juga :  PKPI dan PKS Berlabuh ke PAN?

Agus mengatakan, cadangan air yang tersisa tersebut hanya memenuhi kebutuhan pertanian. Karena air yang tersisia tidak layak konsumsi. Kecuali melalui proses penyaringan seperti yang dilakukan oleh perusahaan air minum. ‘’Sehingga cadangan air yang hanya tersisa 1 persen itu tidak terlalu berdampak signifikan untuk kebutuhan air sehari-hari bagi warga,’’ terangnya.

Meski begitu, Agus meminta supaya petani memperhatikan rencana tata tanam global yang dibuat oleh dinas terkait. Agar bisa menghemat cadangan air. ‘’Tujuannya ketika terjadi kekeringan, minimal petani sudah memasuki panen,’’ tuturnya.

Menurut Agus, selain kemarau panjang, kritisnya cadangan air tersebut juga disebabkan waduk dan embung di Lamongan tidak berfungsi maksimal saat musim penghujan. Yakni tidak bisa menampung air hujan secara maksimal karena terjadi masalah terjadi sedimentasi (pendangkalan). Saat musim penghujan, fungsi penyimpanan hanya 70 persen dari kapasitas normal.

Baca Juga :  Satpol PP Panggil Pengelola Kafe BK

Karena itu, ungkap dia, tahun ini Pemkab Lamongan mengalokasikan dana sekitar Rp 5,6 Miliar untuk normalisasi/pengerukan 41 embung dan rehabilitasi 8 sungai. “Program itu sebagai upaya semaksimal mungkin supaya penyimpanan air menjadi normal,” jelasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/