alexametrics
30.7 C
Bojonegoro
Monday, May 16, 2022

Dampak Pemekaran Desa; Sosiologis Masyarakat Justru Aman

Radar Bojonegoro – Dampak sosiologi masyarakat atas rencana pemekaran desa tidak perlu dikhawatirkan. Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Bojonegoro (Unigoro) Rupiarsieh memastikan, perubahan sosial atas pemekaran wilayah desa tidak akan menyebabkan gesekan sosial.

“Bojonegoro tingkat toleransinya tinggi. Jarang ada gejolak di masyarakat. Apalagi karena peristiwa pemekaran desa, rasanya tidak akan ada gesekan sosial,” jelasnya. Dia menambahkan, dampak sosiologi bisa saja terjadi. Namun, hanya sesaat.

“Ketika masyarakat nanti merasa repot mengurus perubahan administrasi kependudukannya. Itu bisa terjadi perubahan interaksi sosial dalam bentuk kegugupan. Tapi, itu hanya sesaat saja. Setelah proses itu selesai, ya sudah,” tutur dosen juga ketua Forum Dekan FISIP dan FIA Perguruan Tinggi Swasta se-Jawa Timur.

Baca Juga :  Ajak Perempuan Menyukai Fotografi

Bisa jadi, menurut Rupiarsih, perubahan interaksi sosial sebagai dampak pemekaran bisa terjadi ketika nanti masya rakat menyadari sejarahnya. Namun, hal itu umum. Tidak berpotensi menimbulkan konflik. “Kami dulu bareng-bareng mengurus ini itu, sekarang enggak,” tutur Arsieh sapaannya.

Menurut dia, suatu pemekaran desa baru berpotensi menimbulkan gesekan sosial ketika ada perasaan kuat melatarbelakanginya. Misalnya, ethnosentrisme (berlebihan pada suku) dan primordialisme (kecintaan pada tradisi lingkungan pertama).

Dia menyatakan persetujuannya terhadap pemekaran desa. Perkembangan demografi harus diimbangi pemekaran wilayah. “Jika wilayah terlalu banyak penduduk, aparatur akan kerepotan melakukan pelayanan. Imbasnya masyarakat tidak terlayani dengan baik. Kepuasan sosial masyarakat terhadap aparatur rendah,” bebernya. (sab)

Baca Juga :  Sita 63 Motor Knalpot Brong

Radar Bojonegoro – Dampak sosiologi masyarakat atas rencana pemekaran desa tidak perlu dikhawatirkan. Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Bojonegoro (Unigoro) Rupiarsieh memastikan, perubahan sosial atas pemekaran wilayah desa tidak akan menyebabkan gesekan sosial.

“Bojonegoro tingkat toleransinya tinggi. Jarang ada gejolak di masyarakat. Apalagi karena peristiwa pemekaran desa, rasanya tidak akan ada gesekan sosial,” jelasnya. Dia menambahkan, dampak sosiologi bisa saja terjadi. Namun, hanya sesaat.

“Ketika masyarakat nanti merasa repot mengurus perubahan administrasi kependudukannya. Itu bisa terjadi perubahan interaksi sosial dalam bentuk kegugupan. Tapi, itu hanya sesaat saja. Setelah proses itu selesai, ya sudah,” tutur dosen juga ketua Forum Dekan FISIP dan FIA Perguruan Tinggi Swasta se-Jawa Timur.

Baca Juga :  Sering Turun Hujan, Pengerjaan Tetap Lanjut

Bisa jadi, menurut Rupiarsih, perubahan interaksi sosial sebagai dampak pemekaran bisa terjadi ketika nanti masya rakat menyadari sejarahnya. Namun, hal itu umum. Tidak berpotensi menimbulkan konflik. “Kami dulu bareng-bareng mengurus ini itu, sekarang enggak,” tutur Arsieh sapaannya.

Menurut dia, suatu pemekaran desa baru berpotensi menimbulkan gesekan sosial ketika ada perasaan kuat melatarbelakanginya. Misalnya, ethnosentrisme (berlebihan pada suku) dan primordialisme (kecintaan pada tradisi lingkungan pertama).

Dia menyatakan persetujuannya terhadap pemekaran desa. Perkembangan demografi harus diimbangi pemekaran wilayah. “Jika wilayah terlalu banyak penduduk, aparatur akan kerepotan melakukan pelayanan. Imbasnya masyarakat tidak terlayani dengan baik. Kepuasan sosial masyarakat terhadap aparatur rendah,” bebernya. (sab)

Baca Juga :  Aristo Disodorkan Jadi Kandidat CEO Persibo

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/