alexametrics
23.3 C
Bojonegoro
Tuesday, June 28, 2022

Seribu Berkas Santunan Kematian Ngendon di Kesra Cair Bulan Depan

Radar Bojonegoro – Lebih dari seribu berkas pemohon santunan kematian masih ngendon di meja bagian kesejahteraan rakat (kesra). Sebab, berkas pengajuan yang masuk sejak Juni lalu, hingga kemarin (16/9) belum cair.

Alasannya, pagu anggaran Rp 6 miliar untuk 2.400 pemohon sudah terserap semua, sehingga untuk pengajuan sejak Juni, masih menunggu Perubahan Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah (P-APBD) 2020. Di dalam P-APBD anggaran santunan kematian tahun ini ditambah Rp 6 miliar, sehingga totalnya Rp 12 miliar.

Kabag Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Pemkab Bojonegoro Sahari menjelaskan, anggaran santunan kematian memang belum bisa cair. Sebab, anggarannya menunggu PAPBD bisa diserap. Meski demikian, pemohon santunan kematian tetap diterima.

‘’Nanti setelah bisa diserap akan langsung dibayarkan,’’ katanya kemarin (16/9). Sahari menjelaskan, jumlah pemohon santunan kematian terus bertambah. Hingga kini sudah lebih dari seribu orang mengajukan. Namun, pengajuan itu belum bisa dibayar. Sebab, tambahan anggaran baru bisa cair saat P-APBD bisa diserap Oktober mendatang.

Baca Juga :  Pilkades Dinasti, 7 Desa Cakades Pasutri

Kuota pengajuan santunan kematian dua kali lipat dari sebelumnya, yakni 4.800 orang. Kuota santunan kematian sebelumnya sekitar 2.400 orang. Disiapkan alokasi anggaran di APBD Rp 6 miliar. Setiap pemohon akan mendapatkan anggaran Rp 2,5 juta. Alokasi anggaran Rp 6 miliar itu, ternyata sudah habis pada pertengahan tahun ini. Sehingga, pengajuan yang masuk sejak Juni lalu tidak bisa dicairkan. Kemudian mengajukan tambahan anggaran di P-APBD.

Sesuai ketentuannya, santunan kematian diberikan kepada keluarga miskin yang keluarganya meninggal. Namun, bukan meninggal karena bencana atau Covid-19. Sebab, warga meninggal karena pandemic itu sudah ada alokasi anggarannya di badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) dan dinas kesehatan (dinkes). ‘’Kalau disini (kesra) yang meninggal biasa,’’ jelas mantan PNS pernah bertugas di dinas pemuda dan olahraga itu.

Baca Juga :  72 Tahun Persibo: Suka dan Duka Jawara, Meski Gaji Pemain Nunggak

Tahun depan, lanjut Sahari, alokasi anggaranya akan diperbanyak. Yakni, Rp 12 miliar. Harapannya, bisa cukup sampai akhir tahun. Ketua Komisi C DPRD Bojonegoro Mochlasin Afan mengatakan, bagian kesra harus melakukan verifikasi penerima santunan kematian itu dengan teliti. Penerima harus benar-benar warga yang tidak mampu. Sehingga, anggaran itu bisa meringankan beban keluarga yang ditinggalkan.

‘’Verifikasi harus dilakukan dengan teliti,’’ saran Afan. Menurut Afan, bantuan hibah seperti itu rawan bermasalah jika data tidak valid. Misalnya, warga yang seharusnya menda patkan, tapi tak menerima. ‘’Karena itu, data penerima santunan itu harus bena-benar valid,’’ tegas mantan aktivis HMI itu.

Radar Bojonegoro – Lebih dari seribu berkas pemohon santunan kematian masih ngendon di meja bagian kesejahteraan rakat (kesra). Sebab, berkas pengajuan yang masuk sejak Juni lalu, hingga kemarin (16/9) belum cair.

Alasannya, pagu anggaran Rp 6 miliar untuk 2.400 pemohon sudah terserap semua, sehingga untuk pengajuan sejak Juni, masih menunggu Perubahan Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah (P-APBD) 2020. Di dalam P-APBD anggaran santunan kematian tahun ini ditambah Rp 6 miliar, sehingga totalnya Rp 12 miliar.

Kabag Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Pemkab Bojonegoro Sahari menjelaskan, anggaran santunan kematian memang belum bisa cair. Sebab, anggarannya menunggu PAPBD bisa diserap. Meski demikian, pemohon santunan kematian tetap diterima.

‘’Nanti setelah bisa diserap akan langsung dibayarkan,’’ katanya kemarin (16/9). Sahari menjelaskan, jumlah pemohon santunan kematian terus bertambah. Hingga kini sudah lebih dari seribu orang mengajukan. Namun, pengajuan itu belum bisa dibayar. Sebab, tambahan anggaran baru bisa cair saat P-APBD bisa diserap Oktober mendatang.

Baca Juga :  Operasi Zebra 14 Hari, Hanya Menilang 140 Pelanggar

Kuota pengajuan santunan kematian dua kali lipat dari sebelumnya, yakni 4.800 orang. Kuota santunan kematian sebelumnya sekitar 2.400 orang. Disiapkan alokasi anggaran di APBD Rp 6 miliar. Setiap pemohon akan mendapatkan anggaran Rp 2,5 juta. Alokasi anggaran Rp 6 miliar itu, ternyata sudah habis pada pertengahan tahun ini. Sehingga, pengajuan yang masuk sejak Juni lalu tidak bisa dicairkan. Kemudian mengajukan tambahan anggaran di P-APBD.

Sesuai ketentuannya, santunan kematian diberikan kepada keluarga miskin yang keluarganya meninggal. Namun, bukan meninggal karena bencana atau Covid-19. Sebab, warga meninggal karena pandemic itu sudah ada alokasi anggarannya di badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) dan dinas kesehatan (dinkes). ‘’Kalau disini (kesra) yang meninggal biasa,’’ jelas mantan PNS pernah bertugas di dinas pemuda dan olahraga itu.

Baca Juga :  Pembukaan Jalan Molor

Tahun depan, lanjut Sahari, alokasi anggaranya akan diperbanyak. Yakni, Rp 12 miliar. Harapannya, bisa cukup sampai akhir tahun. Ketua Komisi C DPRD Bojonegoro Mochlasin Afan mengatakan, bagian kesra harus melakukan verifikasi penerima santunan kematian itu dengan teliti. Penerima harus benar-benar warga yang tidak mampu. Sehingga, anggaran itu bisa meringankan beban keluarga yang ditinggalkan.

‘’Verifikasi harus dilakukan dengan teliti,’’ saran Afan. Menurut Afan, bantuan hibah seperti itu rawan bermasalah jika data tidak valid. Misalnya, warga yang seharusnya menda patkan, tapi tak menerima. ‘’Karena itu, data penerima santunan itu harus bena-benar valid,’’ tegas mantan aktivis HMI itu.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/