alexametrics
22.5 C
Bojonegoro
Wednesday, June 29, 2022

Tiap Pulang Bojonegoro Selalu Kangen Ngopi dan Nasi Pecel

SELAMA 2008-2011, Radlix Julian pernah mengemban pendidikan di Bojonegoro. Perjalanan karir musiknya juga terpengaruh lingkaran pertemanan di Bojonegoro. Dulu geluti musik metal, kini electronic dance music (EDM).

Semangat berkarya Radlix Julian di dunia musik tak mengenal batas. Aliran musik yang ia geluti terus mengalami perubahan. Bukan karena labil atau ikut-ikutan tren. Tapi, pencarian jati diri. Karena pemuda kelahiran Juli 1994 itu tak pernah main-main dalam bermusik.

Berawal dari musik cadas metal, lalu kini memantapkan hatinya menjadi seorang disc jockey (DJ) mengusung electronic dance music (EDM).
Jawa Pos Radar Bojonegoro berkesempatan bertemu Radlix Julian di Semarang.

Janji temu di sebuah warung kopi pusat kota pun terealisasi Minggu malam (15/9) lalu. Ia memang berdomisili di Kota Atlas. Namun, musisi muda itu pernah hijrah mengemban sekolah jurusan teknik elektro di SMK Siang Bojonegoro pada 2008 hingga 2011.

Karena itu, ada beberapa kenangan seputar Bojonegoro yang sulit untuk dilupakan. Di Bojonegoro ia punya kerabat tinggal di Dusun Jarakan, Desa Ngablak, Kecamatan Dander. ’’Meski singkat tinggal di Bojonegoro hanya tiga tahun, tapi setahun sekali pasti menyempatkan pulang Bojonegoro, karena ada nenek di sana,’’ ujarnya.

Salah satu kenangan tak mudah dilupakan, yakni kudapan andalan Bojonegoro. Tiap ia pulang ke Bojonegoro pasti menyempatkan diri makan nasi pecel di Pasar Kota Bojonegoro. Selain nasi pecel, ia juga kangen dengan suasana nongkrong di warung kopi. Menurutnya, iklim ngopi di Bojonegoro sangat kental dan selalu berkesan.

Sosoknya yang kalem namun supel, membuat obrolan semakin gayeng. Ia menceritakan bahwa gerbang awal mengenal musik ketika masih duduk di bangku sekolah dasar (SD). Aliran musik kali pertama yang ia suka ialah musik rock lawas seperti Boomerang atau Power Metal.

Menurutnya, jiwa muda berapi-api yang mengantarkannya menyelami musik berdistorsi. Selama di Bojonegoro, ia berjejaring dengan skena musik bawah tanah. ’’Dulu beberapa kali ikut menggarap gigs bersama teman-teman di Bojonegoro,’’ kata pemuda kelahiran Surabaya itu.

Baca Juga :  Persoalan Limbah, PT BMI Minta Diawasi Warga

Lalu sekitar 2010 lalu, Radlix membentuk band beraliran brutal death metal bernama Disfigure Deputation. Band tersebut ia bentuk bersama tiga temannya asal Semarang. Berposisi sebagai gitaris, bandnya pernah manggung di salah satu gigs di Bojonegoro. Juga menelurkan dua lagu berjudul Pyarometer dan Referensi Illuminati. Bahkan, usai lulus SMK pada 2011 lalu, Disfigure Deputation lakukan tur se-Jawa bersama salah satu band ibu kota, yakni Revenge The Fate.

’’Lumayan seru menggeluti musik metal, bertemu dengan banyak teman dari berbagai kota,’’ tutur pemuda bernama asli Rachmad Djulianto itu.

Tetapi ternyata band tersebut tak bertahan lama. Sekitar medio 2013, band Disfigure Deputation sempat vakum karena kesibukan tiap personel. Namun, ternyata tak ada kejelasan hingga akhir 2013. Ternyata, skill gitarnya dilirik salah satu band beraliran rock alternative bernama Ready Steady Go.

Beberapa lagu ia produksi dan panggung telah ia lalui. Tetapi lagi-lagi perjalanan tak semulus yang dibayangkan. Sekitar awal 2016, Ready Steady Go memutuskan untuk bubar karena vokalis perempuannya menikah. ’’Karena komitmen sudah tak sesolid dulu, kami pun memutuskan bubar awal 2016,’’ ujarnya.

Karena dua kali gagal membentuk band, ia sempat putus asa bermusik. Tetapi, karena ia merasa passion-nya di dunia musik, akhirnya tercetuslah ide berkarya secara solo. Sehingga, setelah menimang-nimang, Radlix terbersit belajar menjadi  DJ.

Ia sempat belajar DJ selama kurang lebih enam bulan. Aliran musik DJ yang ia geluti secara khusus ialah electronic dance music (EDM). ’’Pada 2016 itu musik EDM sedang naik dan ternyata masih cocok dengan kuping saya, akhirnya bersemangat belajar DJ,’’ jelasnya.

Semangatnya tak main-main. Sejak akhir 2016 hingga sekarang kerap manggung di berbagai event EDM di berbagai klub Semarang, Jogjakarta, Kudus, dan sekitarnya. Bahkan, namanya pernah tercatat dalam kompetisi 100 Top DJ Indonesia.

Baca Juga :  Dari Bank Jatim untuk Kemaslahatan Warga Tuban

Radlix pernah mengisi salah satu event besar musik EDM, yakni HIN Dance Music Festival (HDMF) di Jakarta. Pada 2018 lalu Radlix sempat masuk ke daftar 100 DJ terbaik Indonesia. Sekitar enam lagu telah ia ciptakan, sisanya tiap manggung ia bawakan lagu sesuai request pengunjung klub.

’’Alhamdulillah banyak job, karena juga mengikuti perkembangan banyaknya didirikan klub di berbagai kota,’’ terangnya.

Meski banting setir yang dijalani Radlix cukup signifikan, namun menurutnya tidak ada masalah. Karena pada intinya ia ingin terus berkarya di dunia musik. Jaringannya di skena musik identik ingar-bingar dunia malam itu sudah lumayan mengakar.

Karena selain sibuk ber-DJ, sejak 2018 ia membentuk Sunday Sick Entertainment yang bergerak di bidang manajemen artis. ’’Setidaknya ada lebih dari lima musisi DJ asal Semarang dan ibu kota di bawah manajemen Sunday Sick Entertainment,’’ katanya.

Ia mengatakan, ada salah satu band EDM ia manage dan kini namanya bersinar, yakni Dream Makers. Jadwal manggung Dream Makers cukup padat. Sehingga jadwal manggung Radlix ikut berangsur berkurang. Radlix dulu bisa manggung 4 sampai 5 kali per minggu, kini tinggal 2 sampai 3 kali per bulan.

Ia mengatakan jam terbang Dream Makers cukup tinggi. Tak hanya sering bolak-balik manggung di Jakarta maupun Bali, namun juga kerap manggung di luar Jawa. ’’Minggu depan Dream Makers manggung di Samarinda, lalu minggu depannya lagi manggung di Batam,’’ ucapnya.

Meski jadwal manggung Radlix cukup berkurang, ia ingin fokus berada di balik layar. Kelak ia ingin terus melebarkan sayapnya di dunia manajemen artis. Baru-baru ini, Radlix sedang menggeluti bisnis clothing line.

’’Berkarya dan berbisnis sangat bisa dipadukan, saya sangat ingin ke depannya fokus di balik layar agar lebih banyak waktu luang bersama keluarga,’’ pungkasnya. (*/rij)

SELAMA 2008-2011, Radlix Julian pernah mengemban pendidikan di Bojonegoro. Perjalanan karir musiknya juga terpengaruh lingkaran pertemanan di Bojonegoro. Dulu geluti musik metal, kini electronic dance music (EDM).

Semangat berkarya Radlix Julian di dunia musik tak mengenal batas. Aliran musik yang ia geluti terus mengalami perubahan. Bukan karena labil atau ikut-ikutan tren. Tapi, pencarian jati diri. Karena pemuda kelahiran Juli 1994 itu tak pernah main-main dalam bermusik.

Berawal dari musik cadas metal, lalu kini memantapkan hatinya menjadi seorang disc jockey (DJ) mengusung electronic dance music (EDM).
Jawa Pos Radar Bojonegoro berkesempatan bertemu Radlix Julian di Semarang.

Janji temu di sebuah warung kopi pusat kota pun terealisasi Minggu malam (15/9) lalu. Ia memang berdomisili di Kota Atlas. Namun, musisi muda itu pernah hijrah mengemban sekolah jurusan teknik elektro di SMK Siang Bojonegoro pada 2008 hingga 2011.

Karena itu, ada beberapa kenangan seputar Bojonegoro yang sulit untuk dilupakan. Di Bojonegoro ia punya kerabat tinggal di Dusun Jarakan, Desa Ngablak, Kecamatan Dander. ’’Meski singkat tinggal di Bojonegoro hanya tiga tahun, tapi setahun sekali pasti menyempatkan pulang Bojonegoro, karena ada nenek di sana,’’ ujarnya.

Salah satu kenangan tak mudah dilupakan, yakni kudapan andalan Bojonegoro. Tiap ia pulang ke Bojonegoro pasti menyempatkan diri makan nasi pecel di Pasar Kota Bojonegoro. Selain nasi pecel, ia juga kangen dengan suasana nongkrong di warung kopi. Menurutnya, iklim ngopi di Bojonegoro sangat kental dan selalu berkesan.

Sosoknya yang kalem namun supel, membuat obrolan semakin gayeng. Ia menceritakan bahwa gerbang awal mengenal musik ketika masih duduk di bangku sekolah dasar (SD). Aliran musik kali pertama yang ia suka ialah musik rock lawas seperti Boomerang atau Power Metal.

Menurutnya, jiwa muda berapi-api yang mengantarkannya menyelami musik berdistorsi. Selama di Bojonegoro, ia berjejaring dengan skena musik bawah tanah. ’’Dulu beberapa kali ikut menggarap gigs bersama teman-teman di Bojonegoro,’’ kata pemuda kelahiran Surabaya itu.

Baca Juga :  Dari Air Mengalir Kesejahteraan Warga

Lalu sekitar 2010 lalu, Radlix membentuk band beraliran brutal death metal bernama Disfigure Deputation. Band tersebut ia bentuk bersama tiga temannya asal Semarang. Berposisi sebagai gitaris, bandnya pernah manggung di salah satu gigs di Bojonegoro. Juga menelurkan dua lagu berjudul Pyarometer dan Referensi Illuminati. Bahkan, usai lulus SMK pada 2011 lalu, Disfigure Deputation lakukan tur se-Jawa bersama salah satu band ibu kota, yakni Revenge The Fate.

’’Lumayan seru menggeluti musik metal, bertemu dengan banyak teman dari berbagai kota,’’ tutur pemuda bernama asli Rachmad Djulianto itu.

Tetapi ternyata band tersebut tak bertahan lama. Sekitar medio 2013, band Disfigure Deputation sempat vakum karena kesibukan tiap personel. Namun, ternyata tak ada kejelasan hingga akhir 2013. Ternyata, skill gitarnya dilirik salah satu band beraliran rock alternative bernama Ready Steady Go.

Beberapa lagu ia produksi dan panggung telah ia lalui. Tetapi lagi-lagi perjalanan tak semulus yang dibayangkan. Sekitar awal 2016, Ready Steady Go memutuskan untuk bubar karena vokalis perempuannya menikah. ’’Karena komitmen sudah tak sesolid dulu, kami pun memutuskan bubar awal 2016,’’ ujarnya.

Karena dua kali gagal membentuk band, ia sempat putus asa bermusik. Tetapi, karena ia merasa passion-nya di dunia musik, akhirnya tercetuslah ide berkarya secara solo. Sehingga, setelah menimang-nimang, Radlix terbersit belajar menjadi  DJ.

Ia sempat belajar DJ selama kurang lebih enam bulan. Aliran musik DJ yang ia geluti secara khusus ialah electronic dance music (EDM). ’’Pada 2016 itu musik EDM sedang naik dan ternyata masih cocok dengan kuping saya, akhirnya bersemangat belajar DJ,’’ jelasnya.

Semangatnya tak main-main. Sejak akhir 2016 hingga sekarang kerap manggung di berbagai event EDM di berbagai klub Semarang, Jogjakarta, Kudus, dan sekitarnya. Bahkan, namanya pernah tercatat dalam kompetisi 100 Top DJ Indonesia.

Baca Juga :  Bulog Pastikan tak Beli Gabah Petani

Radlix pernah mengisi salah satu event besar musik EDM, yakni HIN Dance Music Festival (HDMF) di Jakarta. Pada 2018 lalu Radlix sempat masuk ke daftar 100 DJ terbaik Indonesia. Sekitar enam lagu telah ia ciptakan, sisanya tiap manggung ia bawakan lagu sesuai request pengunjung klub.

’’Alhamdulillah banyak job, karena juga mengikuti perkembangan banyaknya didirikan klub di berbagai kota,’’ terangnya.

Meski banting setir yang dijalani Radlix cukup signifikan, namun menurutnya tidak ada masalah. Karena pada intinya ia ingin terus berkarya di dunia musik. Jaringannya di skena musik identik ingar-bingar dunia malam itu sudah lumayan mengakar.

Karena selain sibuk ber-DJ, sejak 2018 ia membentuk Sunday Sick Entertainment yang bergerak di bidang manajemen artis. ’’Setidaknya ada lebih dari lima musisi DJ asal Semarang dan ibu kota di bawah manajemen Sunday Sick Entertainment,’’ katanya.

Ia mengatakan, ada salah satu band EDM ia manage dan kini namanya bersinar, yakni Dream Makers. Jadwal manggung Dream Makers cukup padat. Sehingga jadwal manggung Radlix ikut berangsur berkurang. Radlix dulu bisa manggung 4 sampai 5 kali per minggu, kini tinggal 2 sampai 3 kali per bulan.

Ia mengatakan jam terbang Dream Makers cukup tinggi. Tak hanya sering bolak-balik manggung di Jakarta maupun Bali, namun juga kerap manggung di luar Jawa. ’’Minggu depan Dream Makers manggung di Samarinda, lalu minggu depannya lagi manggung di Batam,’’ ucapnya.

Meski jadwal manggung Radlix cukup berkurang, ia ingin fokus berada di balik layar. Kelak ia ingin terus melebarkan sayapnya di dunia manajemen artis. Baru-baru ini, Radlix sedang menggeluti bisnis clothing line.

’’Berkarya dan berbisnis sangat bisa dipadukan, saya sangat ingin ke depannya fokus di balik layar agar lebih banyak waktu luang bersama keluarga,’’ pungkasnya. (*/rij)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/