alexametrics
29.3 C
Bojonegoro
Sunday, June 26, 2022

Ambrol, Dipicu Penambang Pasir

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Tanggul di tepi Sungai Bengawan Solo persisnya Dusun Puncel, Desa Pilang, Kecamatan Kanor, ambrol. Hingga kemarin (16/9) kondisinya semakin mengkhawatirkan karena semakin merekah.

Warga setempat resah atas kondisi tanggul sekaligus tebing itu ambles. Sebab, saat Sungai Bengawan Solo pasang atau naik, bisa mengancam banjir. Diperkirakan tanggul ambrol dipicu penambangan pasir dan kondisi tebing kering karena kemarau.

Pantauan Jawa Pos Radar Bojonegoro, kedalaman tanggul ambles sekitar 3 meter. Tanggul digunakan jalan menuju area sawah yang rusak berat atau terputus sepanjang 105 meter. ’’Sebagian warga yang tahu kejadian ini,’’ kata Darkum, warga Dusun Puncel ditemui di lokasi kejadian kemarin.

Baca Juga :  Satpol PP Mengaku Baru Tahu

Menurut dia, kondisi seperti ini tentu akan mengancam banjir ketika air bengawan pasang. Termasuk menggenangi sawah warga. Sekitar tanggul ambles itu ada 25 hektare sawah. Belum termasuk kebun.

Warga menilai tanggul ambles ini diduga karena adanya penambangan pasir di Sungai Bengawan Solo. ’’Itu perkiraan masyarakat. Tergerus pasir, ada penambang pasir,’’ ujar dia.

Kepala Seksi (Kasi) Rehabilitasi dan Rekonstruksi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro Yudi Hendro menuturkan, retakan di tebing itu penyebab utamanya adalah penambangan pasir.

Sehingga, membuat tebing tergeser dan mengalami retak dengan panjang sekitar 25 meter. Kondisi tentunya mengancam banjir, saat musim hujan mendatang. ’’Penyebab utamanya penambangan pasir,’’ tegas dia.

Baca Juga :  Besar Kemungkinan Kuota Haji di Bojonegoro Terbatas

Dia menuturkan, kondisi itu juga dipicu tebing yang kering. Sehingga daya ikat tanah cenderung hilang. Mudah tererosi aliran sungai di bagian bawah tebing, juga lereng yang terjal. Serta beban lereng tak sebanding. Termasuk kurangnya vegetasi. Sehingga tidak mampu menahan lereng dan terjadi longsor.

’’Berpotensi longsoran susulan di sekitar tebing,’’ tandasnya.

Yudi menambahkan, pihaknya mengaku tidak memiliki kewenangan memperbaikinya. Sehingga, dia melaporkan kejadian tersebut ke Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo. Sebab, pernah memperbaiki memakai uang anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD), ternyata menjadi temuan Badan Pemeriksa Keuangan atau BPK.

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Tanggul di tepi Sungai Bengawan Solo persisnya Dusun Puncel, Desa Pilang, Kecamatan Kanor, ambrol. Hingga kemarin (16/9) kondisinya semakin mengkhawatirkan karena semakin merekah.

Warga setempat resah atas kondisi tanggul sekaligus tebing itu ambles. Sebab, saat Sungai Bengawan Solo pasang atau naik, bisa mengancam banjir. Diperkirakan tanggul ambrol dipicu penambangan pasir dan kondisi tebing kering karena kemarau.

Pantauan Jawa Pos Radar Bojonegoro, kedalaman tanggul ambles sekitar 3 meter. Tanggul digunakan jalan menuju area sawah yang rusak berat atau terputus sepanjang 105 meter. ’’Sebagian warga yang tahu kejadian ini,’’ kata Darkum, warga Dusun Puncel ditemui di lokasi kejadian kemarin.

Baca Juga :  Data UHC Harus Diperbarui Setiap Bulan

Menurut dia, kondisi seperti ini tentu akan mengancam banjir ketika air bengawan pasang. Termasuk menggenangi sawah warga. Sekitar tanggul ambles itu ada 25 hektare sawah. Belum termasuk kebun.

Warga menilai tanggul ambles ini diduga karena adanya penambangan pasir di Sungai Bengawan Solo. ’’Itu perkiraan masyarakat. Tergerus pasir, ada penambang pasir,’’ ujar dia.

Kepala Seksi (Kasi) Rehabilitasi dan Rekonstruksi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro Yudi Hendro menuturkan, retakan di tebing itu penyebab utamanya adalah penambangan pasir.

Sehingga, membuat tebing tergeser dan mengalami retak dengan panjang sekitar 25 meter. Kondisi tentunya mengancam banjir, saat musim hujan mendatang. ’’Penyebab utamanya penambangan pasir,’’ tegas dia.

Baca Juga :  Pelaku Pemukulan Ditangkap

Dia menuturkan, kondisi itu juga dipicu tebing yang kering. Sehingga daya ikat tanah cenderung hilang. Mudah tererosi aliran sungai di bagian bawah tebing, juga lereng yang terjal. Serta beban lereng tak sebanding. Termasuk kurangnya vegetasi. Sehingga tidak mampu menahan lereng dan terjadi longsor.

’’Berpotensi longsoran susulan di sekitar tebing,’’ tandasnya.

Yudi menambahkan, pihaknya mengaku tidak memiliki kewenangan memperbaikinya. Sehingga, dia melaporkan kejadian tersebut ke Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo. Sebab, pernah memperbaiki memakai uang anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD), ternyata menjadi temuan Badan Pemeriksa Keuangan atau BPK.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/