alexametrics
27 C
Bojonegoro
Monday, August 8, 2022

Tugu Desa Temayang, Saksi Gugurnya 25 Pejuang Bojonegoro

Radar Bojonegoro – Wilayah Desa/Kecamatan Temayang merekam aksi para pejuang Bojonegoro dalam menggagalkan berbagai serangan pasukan Belanda. Setidaknya terjadi enam kali pertempuran dahsyat berlangsung. Hingga turunnya perintah penghentian gencatan senjata diterima Komando Brigade 1 Ronggolawe dari pemerintah pusat.

Pertempuran di Temayang itu menyimpan patriotisme bagi pejuang-pejuang Bojonegoro. Sengit dan menegangkan ketika pasukan  Belanda leluasa memasuki wilayah Bojonegoro. Pasukan Belanda terus merangsek hingga kawasan Temayang.

Perang gerilya dicetuskan untuk menumpas pasukan Belanda bersenjata lengkap. Namun, tak mudah menaklukkan pasukan Belanda membawa granat dan senjata. Pejuang-pejuang Bojonegoro berguguran.

Kantor Perhutani dan rumah rumah warga dibakar pasukan Belanda. Tak lelah, siang dan malam gerilya menumpas pasukan Belanda. Enam rentetan pertempuran dahsyat terjadi. Menegangkan dan adu strategi dan kecerdikan antara pejuang Bojonegoro dan pasukan Belanda. Kegigihan pejuang ini pun diabadikan dengan monumen tugu di Desa Temayang.

Suyanto, pemerhati sejarah lokal mengatakan peperangan tersebut cukup sengit dan menegangkan. Pasukan Belanda membawa persenjataan lengkap serta armada yang banyak. Sehingga pasukan Bojonegoro menerapkan perang gerilya untuk dapat melawannya. ‘’Memang pusat tempurnya di Palagan Temayang. Tapi, para pejuang juga gerilya menyusuri rel lori ke utara hingga Kapas dan Kota Bojonegoro. Mulai dari Desa Kedungsari, Desa Pandan toyo, dan seterusnya,” katanya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro kemarin (16/8).

Sehingga, peperangan tersebar luas di beberapa lokasi. Karena pasukan pejuang Bojonegoro kerap berpindah-pindah tempat untuk mengintai dan menghadang pasukan Belanda. Bahkan ada pula sejumlah anggota Brigade I Ronggolawe yang gerilya ke Desa Sugihwaras. ‘’Itu ada dua pejuang. Sembunyi di dua musala Sugihwaras. Bahkan ada yang berkamuflase jadi santri,” ujar pria bertugas di dinas kepemudaan dan olahraga itu.

Merujuk buku Sejarah Kabupaten Bojonegoro 1988, peristiwa Agresi Militer II di Karesidenan Bojonegoro diawali dengan mendaratnya pasukan Belanda di pelabuhan Glondong Kecamatan Tambakboyo, Kabupaten Tuban, pada 19 Desember 1948.

Para pejuang di bawah Komando Komandan Brigade I Ronggolawe Letnan Kolonel Soedirman telah mengetahui penanda peperangan. Sehari kemudian, pasukan Belanda mulai menyebar ke Bojonegoro dan Cepu.

Pelan tapi pasti, Belanda akhirnya menguasai kota persisnya 16 Januari 1949. Sementara pemerintah di Bojonegoro sudah memindahkan di kawasan selatan. Dan Temayang menjadi markas Komando Brigade I Ronggolawe dan Komando Batalyon 16. Pasukan Belanda mulai melancarkan serangan di Temayang. Berulang kali. Baik siang, malam, maupun pagi. Namun, selalu mendapat perlawanan sengit para pejuang Bojonegoro.

Secara kronologis dan singkat enam kali pertempuran dahsyat. Serangan pertama, 15 Maret 1949. Sekitar pukul 10.00. Pasukan Belanda merangsek menuju ke Desa Temayang dan menyergap pos terdepan di Dusun Ngabar, Desa Jono. Sersan Soebardi dengan Kopral Toegino gugur seketika. Belanda menggeledah rumah-rumah rakyat dan kepala desa. Rumah Perhutani juga dibakar.

Baca Juga :  Bendungan Gerak Penopang Irigasi Pertanian saat Kemarau

Serangan kedua, terjadi 27 Maret 1949 sekitar pukul 11.00. Satu kompi pasukan Belanda datang dari utara melalui Desa Ngujung, Desa Pandantoyo menyusuri rel lori menuju ke Desa Kedungsari. Tetapi, sesampai di Desa Papringan, disambut regu Sersan Ma’un di ketinggian kuburan desa setempat. Hujan tembakan berlangsung. Sersan Ma’un beserta anak buahnya gugur. Empat pucuk senjatanya juga dirampas.

Setibanya di Desa Kedungsari, pasukan Belanda membuat pos di rumah milik kepala mantri kehutanan. Di dekat Jembatan Desa Kedungsari selama tiga hari. Namun, belum lama pasukan Belanda beristirahat, Satuan Regu Senjata bantuan dipimpin Letda Soeprapto menembakkan mortir ke pos Belanda. Pada hari sama, serangan dimulai isyarat tembakan senjata mitraliur ringan Kopral Tabel. Senjata Tabel sempat macet, tapi dua pasukan Belanda tewas sewaktu mandi. Gelapnya malam, pasukan Bojonegoro dibantu rakyat setempat. Rakyat datang atas kesadarannya sendiri membawa nasi bungkus.

Tengah malam, Mayor Basoeki Rachmad dan Kapten Siswadi menelusuri dari Dusun Kali Bedah bertemu regu Djaelan dan pasukan Seksi Djadjuri. Mereka menyebrangi Sungai Pacal menemui Regu Syafri dan Regu Soeharto dan pasukan Seksi Soeprapto. Setelah bertemu dengan pasukan-pasukannya, Mayor Basoeki memerintahkan mereka istirahat persiapan rencana ketika malam.

Di Dusun Kranggatan berkumpul Letkol Soedirman, Mayor Roekinto Hendraningrat, Lettu Moch. Sa’id, Kapten Soetarto Sigit dan beberapa staf Batalyon 16 dan staf Brigade lainnya. Pukul 03.00, pasukan gabungan itu mengadakan serangan ke arah pos Belanda di dekat Jembatan Desa Kedungsari. Hujan tembakan selama satu jam. Dari serangan ini korban dari pasukan Belanda tidak dapat diketahui.

Pasukan Bojonegoro tidak ada korban. Prajurit Receng dari Regu Sersan Soeharto secara frontal mencoba membakar rumah pos Belanda. Api baru menyala di sebagian rumah tetapi sudah keburu dipadamkan pasukan Belanda. Paginya, 28 Maret 1949, pasukan Belanda meninggalkan posnya di Desa Kedungsari menuju ke selatan di Desa Gondang Keteliweng.

Namun, baru sampai di Dusun Banger, Regu Sersan Syafii mengambil posisi ketinggian melancarkan tembakan. Seorang pasukan Belanda tewas. Pasukan Belanda kembali ke pos di Desa Kedungsari, sebagian kembali ke pos di Desa Kedungsari mendapati beberapa pasukan Bojonegoro kebetulan terjebak di dalam rumah (pos). Mengira, bahwa pasukan Belanda telah seluruhnya tewas oleh serangan Regu Sersan Syafii. Pasukan Belanda leluasa melakukan penembakan. Gugurlah Soehartono pejuang (TRIP) beserta tiga orang penduduk lainnya sebagai pemilik rumah.

Ketika pasukan Belanda meneruskan perjalanan ke Desa Gondang, pejuang Bojonegoro satu regu penyerangan dipimpin Sersan Soeharto. Sayangnya, rencana ini bisa dikatakan gagal. Salah satu anggota regu, yakni Prajurit Mashadi tiba-tiba disergap pasukan Belanda. Dia memasang ranjau darat di pertigaan jalan Dusun Sugihan. Akibatnya prajurit Mashadi gugur. Belanda membakar rumah Kantor Perhutani di Desa Gondang.

Baca Juga :  Tetap Kokoh Meski Usia Dua Abad

Paginya, pasukan Belanda kembali ke Kota Bojonegoro melalui Desa Pandantoyo, Ngujung. Pejuang-pejuang Bojonegoro dipimpin Letda Djajeri siap menghadang di Desa Jono. Namun, sayangnya mengalami kegagalan karena rute perjalanan pasukan Belanda ke utara. Berlanjut peristiwa serangan ketiga akhir April 1949, pasukan Belanda kesekian kalinya melancarkan operasi ke Desa Temayang.

Lima kompi datang dari utara melalui Dusun Pundung dan masuk ke Desa Kedungsari. Belok ke utara menyeberang sungai menuju ke rumah Pak Sidik Dusun Kalibedah. Tujuannya menyergap para pimpinan komando brigade dan Komando Batalyon 16. Namun secara kebetulan para pejuang Bojonegoro beroperasi di sekitaran itu bertugas di tempat lain. Sehingga rencana pasukan Belanda gagal.

Serangan pasukan Belanda keempat kalinya terjadi 17 Mei 1949 malam menjelang Hari Raya Idul Fitri. Mereka membawa kekuatan kurang lebih dua kompi. Dikerahkan mengepung tiap-tiap rumah di Dusun Kali Bedah dan sekitarnya. Sasaran utamanya menangkap Letkol Soedirman, Mayor Roekminto, Mayor Basoeki Rachmad, Kapten Siswadi, dan perwira-perwira staf Brigade Batalyon 16 lainnya. Rencana ini juga gagal. Karena Mayor Basoeki Rachmad dan pasukan lainnya masih di wilayah selatan, Kapten Siswadi di sekitar Sugihwaras, Mayor Roekminto masih di utara bengawan, sedangkan Letkol Soedirman memimpin serangan marathon ke barat.

Merasa tidak mendapatkan sasarannya, pagi buta pasukan Belanda kembali ke Pos Dander. Usai menembak mati istri Sersan Dasoeki dan menembak Pak Birah kebetulan tinggal serumah. Sedangkan Sersan Dasoeki masih hidup tapi keadaannya luka parah. Sekembalinya, pasukan Belanda sempat membakar rumah-rumah sepanjang jalan Desa Temayang selatan. Serangan kelima dilancarkan pasukan Belanda ke Desa Temayang pada 15 Juni 1949.

Namun, serangan ini hanya bersifat patriotis tempur atau sebagian operasi sifatnya mengenal medan. Saat pagi buta pasukan Belanda datang dari Pos Dander dengan kekuatan lima kompi ke Desa Temayang. Namun, hanya sekadar melintasi dan terus menuju ke Sumberbendo. Serangan keenam meletus pada 3 Agustus 1949. Sekitar pukul 04.00.

Satuan pasukan Belanda kekuatan kurang lebih satu kompi berhasil menyergap pasukan Seksi Syari’in. Kebetulan konsolidasi usai patroli malam. Akibat serangan itu, delapan orang gugur dan senjatanya dirampas. Kedelapan orang itu meliputi Sersan Mayor Abdoellah, Sersan Koesman, Kopral Kasan, Prajurit Adi-A, Prajurit Adi-B, Prajurit Mukajit, Prajurit Moentaha, dan Prajurit Beki. Sedangkan empat pejuang luka-luka berat. Yakni Sersan Basri, Prajurit Doelman, Prajurit Basar dan Prajurit Asroem.

Setelah itu pasukan Belanda kembali ke Pos Dander sembari dalam perjalanan membakar deretan rumah di tepi jalan Desa Temayang. Selang waktu usai memakamkan jenazah pejuang yang gugur, pejuang Bojonegoro menerima perintah penghentian gencatan senjata dari pemerintah pusat. 

Radar Bojonegoro – Wilayah Desa/Kecamatan Temayang merekam aksi para pejuang Bojonegoro dalam menggagalkan berbagai serangan pasukan Belanda. Setidaknya terjadi enam kali pertempuran dahsyat berlangsung. Hingga turunnya perintah penghentian gencatan senjata diterima Komando Brigade 1 Ronggolawe dari pemerintah pusat.

Pertempuran di Temayang itu menyimpan patriotisme bagi pejuang-pejuang Bojonegoro. Sengit dan menegangkan ketika pasukan  Belanda leluasa memasuki wilayah Bojonegoro. Pasukan Belanda terus merangsek hingga kawasan Temayang.

Perang gerilya dicetuskan untuk menumpas pasukan Belanda bersenjata lengkap. Namun, tak mudah menaklukkan pasukan Belanda membawa granat dan senjata. Pejuang-pejuang Bojonegoro berguguran.

Kantor Perhutani dan rumah rumah warga dibakar pasukan Belanda. Tak lelah, siang dan malam gerilya menumpas pasukan Belanda. Enam rentetan pertempuran dahsyat terjadi. Menegangkan dan adu strategi dan kecerdikan antara pejuang Bojonegoro dan pasukan Belanda. Kegigihan pejuang ini pun diabadikan dengan monumen tugu di Desa Temayang.

Suyanto, pemerhati sejarah lokal mengatakan peperangan tersebut cukup sengit dan menegangkan. Pasukan Belanda membawa persenjataan lengkap serta armada yang banyak. Sehingga pasukan Bojonegoro menerapkan perang gerilya untuk dapat melawannya. ‘’Memang pusat tempurnya di Palagan Temayang. Tapi, para pejuang juga gerilya menyusuri rel lori ke utara hingga Kapas dan Kota Bojonegoro. Mulai dari Desa Kedungsari, Desa Pandan toyo, dan seterusnya,” katanya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro kemarin (16/8).

Sehingga, peperangan tersebar luas di beberapa lokasi. Karena pasukan pejuang Bojonegoro kerap berpindah-pindah tempat untuk mengintai dan menghadang pasukan Belanda. Bahkan ada pula sejumlah anggota Brigade I Ronggolawe yang gerilya ke Desa Sugihwaras. ‘’Itu ada dua pejuang. Sembunyi di dua musala Sugihwaras. Bahkan ada yang berkamuflase jadi santri,” ujar pria bertugas di dinas kepemudaan dan olahraga itu.

Merujuk buku Sejarah Kabupaten Bojonegoro 1988, peristiwa Agresi Militer II di Karesidenan Bojonegoro diawali dengan mendaratnya pasukan Belanda di pelabuhan Glondong Kecamatan Tambakboyo, Kabupaten Tuban, pada 19 Desember 1948.

Para pejuang di bawah Komando Komandan Brigade I Ronggolawe Letnan Kolonel Soedirman telah mengetahui penanda peperangan. Sehari kemudian, pasukan Belanda mulai menyebar ke Bojonegoro dan Cepu.

Pelan tapi pasti, Belanda akhirnya menguasai kota persisnya 16 Januari 1949. Sementara pemerintah di Bojonegoro sudah memindahkan di kawasan selatan. Dan Temayang menjadi markas Komando Brigade I Ronggolawe dan Komando Batalyon 16. Pasukan Belanda mulai melancarkan serangan di Temayang. Berulang kali. Baik siang, malam, maupun pagi. Namun, selalu mendapat perlawanan sengit para pejuang Bojonegoro.

Secara kronologis dan singkat enam kali pertempuran dahsyat. Serangan pertama, 15 Maret 1949. Sekitar pukul 10.00. Pasukan Belanda merangsek menuju ke Desa Temayang dan menyergap pos terdepan di Dusun Ngabar, Desa Jono. Sersan Soebardi dengan Kopral Toegino gugur seketika. Belanda menggeledah rumah-rumah rakyat dan kepala desa. Rumah Perhutani juga dibakar.

Baca Juga :  Madrasah Harus Bentuk Kelas Olimpiade

Serangan kedua, terjadi 27 Maret 1949 sekitar pukul 11.00. Satu kompi pasukan Belanda datang dari utara melalui Desa Ngujung, Desa Pandantoyo menyusuri rel lori menuju ke Desa Kedungsari. Tetapi, sesampai di Desa Papringan, disambut regu Sersan Ma’un di ketinggian kuburan desa setempat. Hujan tembakan berlangsung. Sersan Ma’un beserta anak buahnya gugur. Empat pucuk senjatanya juga dirampas.

Setibanya di Desa Kedungsari, pasukan Belanda membuat pos di rumah milik kepala mantri kehutanan. Di dekat Jembatan Desa Kedungsari selama tiga hari. Namun, belum lama pasukan Belanda beristirahat, Satuan Regu Senjata bantuan dipimpin Letda Soeprapto menembakkan mortir ke pos Belanda. Pada hari sama, serangan dimulai isyarat tembakan senjata mitraliur ringan Kopral Tabel. Senjata Tabel sempat macet, tapi dua pasukan Belanda tewas sewaktu mandi. Gelapnya malam, pasukan Bojonegoro dibantu rakyat setempat. Rakyat datang atas kesadarannya sendiri membawa nasi bungkus.

Tengah malam, Mayor Basoeki Rachmad dan Kapten Siswadi menelusuri dari Dusun Kali Bedah bertemu regu Djaelan dan pasukan Seksi Djadjuri. Mereka menyebrangi Sungai Pacal menemui Regu Syafri dan Regu Soeharto dan pasukan Seksi Soeprapto. Setelah bertemu dengan pasukan-pasukannya, Mayor Basoeki memerintahkan mereka istirahat persiapan rencana ketika malam.

Di Dusun Kranggatan berkumpul Letkol Soedirman, Mayor Roekinto Hendraningrat, Lettu Moch. Sa’id, Kapten Soetarto Sigit dan beberapa staf Batalyon 16 dan staf Brigade lainnya. Pukul 03.00, pasukan gabungan itu mengadakan serangan ke arah pos Belanda di dekat Jembatan Desa Kedungsari. Hujan tembakan selama satu jam. Dari serangan ini korban dari pasukan Belanda tidak dapat diketahui.

Pasukan Bojonegoro tidak ada korban. Prajurit Receng dari Regu Sersan Soeharto secara frontal mencoba membakar rumah pos Belanda. Api baru menyala di sebagian rumah tetapi sudah keburu dipadamkan pasukan Belanda. Paginya, 28 Maret 1949, pasukan Belanda meninggalkan posnya di Desa Kedungsari menuju ke selatan di Desa Gondang Keteliweng.

Namun, baru sampai di Dusun Banger, Regu Sersan Syafii mengambil posisi ketinggian melancarkan tembakan. Seorang pasukan Belanda tewas. Pasukan Belanda kembali ke pos di Desa Kedungsari, sebagian kembali ke pos di Desa Kedungsari mendapati beberapa pasukan Bojonegoro kebetulan terjebak di dalam rumah (pos). Mengira, bahwa pasukan Belanda telah seluruhnya tewas oleh serangan Regu Sersan Syafii. Pasukan Belanda leluasa melakukan penembakan. Gugurlah Soehartono pejuang (TRIP) beserta tiga orang penduduk lainnya sebagai pemilik rumah.

Ketika pasukan Belanda meneruskan perjalanan ke Desa Gondang, pejuang Bojonegoro satu regu penyerangan dipimpin Sersan Soeharto. Sayangnya, rencana ini bisa dikatakan gagal. Salah satu anggota regu, yakni Prajurit Mashadi tiba-tiba disergap pasukan Belanda. Dia memasang ranjau darat di pertigaan jalan Dusun Sugihan. Akibatnya prajurit Mashadi gugur. Belanda membakar rumah Kantor Perhutani di Desa Gondang.

Baca Juga :  Prediksi Kuota di Bojonegoro Haji Sekitar 35 Persen

Paginya, pasukan Belanda kembali ke Kota Bojonegoro melalui Desa Pandantoyo, Ngujung. Pejuang-pejuang Bojonegoro dipimpin Letda Djajeri siap menghadang di Desa Jono. Namun, sayangnya mengalami kegagalan karena rute perjalanan pasukan Belanda ke utara. Berlanjut peristiwa serangan ketiga akhir April 1949, pasukan Belanda kesekian kalinya melancarkan operasi ke Desa Temayang.

Lima kompi datang dari utara melalui Dusun Pundung dan masuk ke Desa Kedungsari. Belok ke utara menyeberang sungai menuju ke rumah Pak Sidik Dusun Kalibedah. Tujuannya menyergap para pimpinan komando brigade dan Komando Batalyon 16. Namun secara kebetulan para pejuang Bojonegoro beroperasi di sekitaran itu bertugas di tempat lain. Sehingga rencana pasukan Belanda gagal.

Serangan pasukan Belanda keempat kalinya terjadi 17 Mei 1949 malam menjelang Hari Raya Idul Fitri. Mereka membawa kekuatan kurang lebih dua kompi. Dikerahkan mengepung tiap-tiap rumah di Dusun Kali Bedah dan sekitarnya. Sasaran utamanya menangkap Letkol Soedirman, Mayor Roekminto, Mayor Basoeki Rachmad, Kapten Siswadi, dan perwira-perwira staf Brigade Batalyon 16 lainnya. Rencana ini juga gagal. Karena Mayor Basoeki Rachmad dan pasukan lainnya masih di wilayah selatan, Kapten Siswadi di sekitar Sugihwaras, Mayor Roekminto masih di utara bengawan, sedangkan Letkol Soedirman memimpin serangan marathon ke barat.

Merasa tidak mendapatkan sasarannya, pagi buta pasukan Belanda kembali ke Pos Dander. Usai menembak mati istri Sersan Dasoeki dan menembak Pak Birah kebetulan tinggal serumah. Sedangkan Sersan Dasoeki masih hidup tapi keadaannya luka parah. Sekembalinya, pasukan Belanda sempat membakar rumah-rumah sepanjang jalan Desa Temayang selatan. Serangan kelima dilancarkan pasukan Belanda ke Desa Temayang pada 15 Juni 1949.

Namun, serangan ini hanya bersifat patriotis tempur atau sebagian operasi sifatnya mengenal medan. Saat pagi buta pasukan Belanda datang dari Pos Dander dengan kekuatan lima kompi ke Desa Temayang. Namun, hanya sekadar melintasi dan terus menuju ke Sumberbendo. Serangan keenam meletus pada 3 Agustus 1949. Sekitar pukul 04.00.

Satuan pasukan Belanda kekuatan kurang lebih satu kompi berhasil menyergap pasukan Seksi Syari’in. Kebetulan konsolidasi usai patroli malam. Akibat serangan itu, delapan orang gugur dan senjatanya dirampas. Kedelapan orang itu meliputi Sersan Mayor Abdoellah, Sersan Koesman, Kopral Kasan, Prajurit Adi-A, Prajurit Adi-B, Prajurit Mukajit, Prajurit Moentaha, dan Prajurit Beki. Sedangkan empat pejuang luka-luka berat. Yakni Sersan Basri, Prajurit Doelman, Prajurit Basar dan Prajurit Asroem.

Setelah itu pasukan Belanda kembali ke Pos Dander sembari dalam perjalanan membakar deretan rumah di tepi jalan Desa Temayang. Selang waktu usai memakamkan jenazah pejuang yang gugur, pejuang Bojonegoro menerima perintah penghentian gencatan senjata dari pemerintah pusat. 

Artikel Terkait

Most Read

Varian Rasanya, Soto Lamongan

Bupati Tegur Warga Tak Pakai Masker

Cakupan Vaksinasi 80 Persen

Balap Liar di Suhat Dibubarkan

Artikel Terbaru


/