alexametrics
27.8 C
Bojonegoro
Sunday, June 26, 2022

Buat Klub dan Dirikan Cabor Resmi, Terinspirasi Anaknya

Sepatu roda bukan cabang yang populer. Namun, sepatu roda tumbuh lebih baik. Salah satu tokohnya adalah M. Rizal Aswan. Lapangan Polres Bojonegoro terlihat gelap. Praktis, hanya terdengar gemerisik suara roda sepatu yang menggesek lantai lapangan. Suara itu kadang berubah menjadi cericit panjang tanda sepatu sedang melakukan pemberhentian mendadak. Meski minim penerangan, semangat para atlet Persatuan Olahraga Sepatu Roda (Porserosi) Bojonegoro itu sangat mengagumkan.

Seorang pria bertopi tampak tidak lelah memberi aba-aba dan instruksi pada para atlet. Kapan harus berhenti dan kapan harus memutar roda pada sepatu yang mereka pakai. Peluitnya jarang berhenti. Tidak hanya memberi instruksi, dia juga kerap melakukan aksi untuk memberi contoh anak-anak didiknya. Pria itu bernama M. Rizal Aswan, tokoh penting berdirinya Porserosi Bojonegoro.

Ditemui di sela-sela latihan, Aswan banyak bercerita tentang pengalaman yang dia hadapi selama bergelut di dunia sepatu roda. Mengenal sepatu roda sejak kecil, pria 36 tahun itu memang baru serius mengurus hobi bersepatu roda pada 2015 silam. Berawal darinya, banyak bermunculan atlet-atlet sepatu roda berbasis prestasi dari Bojonegoro. Dia bercerita jika sepatu roda di Bojonegoro sebenarnya sudah sangat lama. Tapi, untuk benar-benar berorientasi prestasi, itu baru dimulai.

Baca Juga :  Peternak Sapi Antisipasi Serangan Indigesti

“Seperti olahraga-olahraga lainnya, awalnya tentu hanya suka-suka saja saat memainkannya,” kata Aswan. 

Sepatu roda di Bojonegoro sudah sejak lama ada. Namun, kebanyakan hanya hobi biasa. Itu pun belum tergabung menjadi komunitas. Dan, masih bergerak sendiri-sendiri. Maraknya komunitas sepatu roda di Bojonegoro juga masih belum lama ini. Dia masih ingat ketika kali pertama membidani berdirinya klub sepatu roda 8 Wheels pada 2016 lalu.

Pada 2015, sejumlah pehobi sepatu roda mulai berkumpul di alun-alun. Mereka yang awalnya melakukan hobi sendiri-sendiri, mulai memberanikan diri untuk berhimpun. Dari sanalah, berdiri klub sepatu roda 8 Wheels (Eight Wheels) tepat setahun kemudian, yakni 2016. Berdirinya klub sepatu roda tersebut membuat para pehobi sepatu roda lain berdatangan bergabung. Peminat sepatu roda pun meningkat.

Tingginya peminat olahraga sepatu roda membuatnya berpikir progresif untuk menjadikan sepatu roda seperti olahraga-olahraga lain di Bojonegoro, yakni diorientasikan pada jalur prestasi. Meski awalnya berat, dia pun berupaya mati-matian mendirikan pengurus kabupaten (pengkab) Porserosi di Bojonegoro, tepat setahun setelah itu. Yakni, pada 2017.

Pria yang pernah meraih predikat juara 2 kelas master skate cross dan freestyle di tingkat provinsi itu mengatakan, dia sendiri awalnya bermain sepatu roda karena hobi. Tidak lebih dari kesukaan saja. Namun, kondisi itu berubah ketika anaknya, yang kala itu duduk di bangku SD, terlihat bersemangat ikut latihan. Dia merasa, anaknya memiliki bakat bermain sepatu roda. Namun, belum adanya cabor resmi sepatu roda di Bojonegoro membuatnya khawatir bakat anaknya dan mungkin anak-anak lain bakal hilang begitu saja.

Baca Juga :  Sehari, Lima Rumah Roboh, Satu Ludes Terbakar¬†

“Sejak saat itu saya bertekad, di Bojonegoro harus ada klub sepatu roda dan harus ada pengkab yang mengurus jalur prestasinya. Agar bakat anak-anak Bojonegoro bisa tersalurkan,” tekadnya.

Sejak resmi berdiri pada 2017 lalu, Porserosi memang sudah sering membawa nama Bojonegoro di kancah provinsi hingga nasional. Sebagai cabor yang baru dibentuk, itu menjadi capaian luar biasa. Mengingat, ruang berlatihnya pun hanya menyewa lapangan tanpa penerangan memadai. Melihat minimnya ruang latihan dan kuatnya tekad berlatih para atlet, Aswan yakin jika tahun-tahun mendatang, banyak atlet sepatu roda nasional dan internasional yang lahir dari Bojonegoro.

“Ada keyakinan jika kelak banyak atlet sepatu roda besar lahir dari Bojonegoro,” pungkas dia.

Sepatu roda bukan cabang yang populer. Namun, sepatu roda tumbuh lebih baik. Salah satu tokohnya adalah M. Rizal Aswan. Lapangan Polres Bojonegoro terlihat gelap. Praktis, hanya terdengar gemerisik suara roda sepatu yang menggesek lantai lapangan. Suara itu kadang berubah menjadi cericit panjang tanda sepatu sedang melakukan pemberhentian mendadak. Meski minim penerangan, semangat para atlet Persatuan Olahraga Sepatu Roda (Porserosi) Bojonegoro itu sangat mengagumkan.

Seorang pria bertopi tampak tidak lelah memberi aba-aba dan instruksi pada para atlet. Kapan harus berhenti dan kapan harus memutar roda pada sepatu yang mereka pakai. Peluitnya jarang berhenti. Tidak hanya memberi instruksi, dia juga kerap melakukan aksi untuk memberi contoh anak-anak didiknya. Pria itu bernama M. Rizal Aswan, tokoh penting berdirinya Porserosi Bojonegoro.

Ditemui di sela-sela latihan, Aswan banyak bercerita tentang pengalaman yang dia hadapi selama bergelut di dunia sepatu roda. Mengenal sepatu roda sejak kecil, pria 36 tahun itu memang baru serius mengurus hobi bersepatu roda pada 2015 silam. Berawal darinya, banyak bermunculan atlet-atlet sepatu roda berbasis prestasi dari Bojonegoro. Dia bercerita jika sepatu roda di Bojonegoro sebenarnya sudah sangat lama. Tapi, untuk benar-benar berorientasi prestasi, itu baru dimulai.

Baca Juga :  Dorong Pemulihan Ekonomi, BRI Cabang Bojonegoro & Tuban Salurkan BPUM

“Seperti olahraga-olahraga lainnya, awalnya tentu hanya suka-suka saja saat memainkannya,” kata Aswan. 

Sepatu roda di Bojonegoro sudah sejak lama ada. Namun, kebanyakan hanya hobi biasa. Itu pun belum tergabung menjadi komunitas. Dan, masih bergerak sendiri-sendiri. Maraknya komunitas sepatu roda di Bojonegoro juga masih belum lama ini. Dia masih ingat ketika kali pertama membidani berdirinya klub sepatu roda 8 Wheels pada 2016 lalu.

Pada 2015, sejumlah pehobi sepatu roda mulai berkumpul di alun-alun. Mereka yang awalnya melakukan hobi sendiri-sendiri, mulai memberanikan diri untuk berhimpun. Dari sanalah, berdiri klub sepatu roda 8 Wheels (Eight Wheels) tepat setahun kemudian, yakni 2016. Berdirinya klub sepatu roda tersebut membuat para pehobi sepatu roda lain berdatangan bergabung. Peminat sepatu roda pun meningkat.

Tingginya peminat olahraga sepatu roda membuatnya berpikir progresif untuk menjadikan sepatu roda seperti olahraga-olahraga lain di Bojonegoro, yakni diorientasikan pada jalur prestasi. Meski awalnya berat, dia pun berupaya mati-matian mendirikan pengurus kabupaten (pengkab) Porserosi di Bojonegoro, tepat setahun setelah itu. Yakni, pada 2017.

Pria yang pernah meraih predikat juara 2 kelas master skate cross dan freestyle di tingkat provinsi itu mengatakan, dia sendiri awalnya bermain sepatu roda karena hobi. Tidak lebih dari kesukaan saja. Namun, kondisi itu berubah ketika anaknya, yang kala itu duduk di bangku SD, terlihat bersemangat ikut latihan. Dia merasa, anaknya memiliki bakat bermain sepatu roda. Namun, belum adanya cabor resmi sepatu roda di Bojonegoro membuatnya khawatir bakat anaknya dan mungkin anak-anak lain bakal hilang begitu saja.

Baca Juga :  H-JOC INDONESIA : Road To Family Gathering Nasional at Tretes Jatim

“Sejak saat itu saya bertekad, di Bojonegoro harus ada klub sepatu roda dan harus ada pengkab yang mengurus jalur prestasinya. Agar bakat anak-anak Bojonegoro bisa tersalurkan,” tekadnya.

Sejak resmi berdiri pada 2017 lalu, Porserosi memang sudah sering membawa nama Bojonegoro di kancah provinsi hingga nasional. Sebagai cabor yang baru dibentuk, itu menjadi capaian luar biasa. Mengingat, ruang berlatihnya pun hanya menyewa lapangan tanpa penerangan memadai. Melihat minimnya ruang latihan dan kuatnya tekad berlatih para atlet, Aswan yakin jika tahun-tahun mendatang, banyak atlet sepatu roda nasional dan internasional yang lahir dari Bojonegoro.

“Ada keyakinan jika kelak banyak atlet sepatu roda besar lahir dari Bojonegoro,” pungkas dia.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/