alexametrics
25.2 C
Bojonegoro
Tuesday, June 28, 2022

Inikah Solusi Penangan Korban Pelecahan Seksual?

COVER STORY – Menurut dosen bimbingan konseling (BK) Unugiri Bojonegoro Yunita Dwi Setyoningsih, tentu sangat mendukung adanya pendidikan seksual untuk anak dari lingkup keluarga maupun sekolah. Karena melihat situasi dan kondisi zaman sekarang sangat riskan sekali anak-anak menjadi korban pelecehan seksual. Sebab, rata-rata pelaku pelecehan seksual merupakan orang-orang terdekat. Jadi, sudah seharusnya guru biologi, agama, dan BK menyelipkan pendidikan seks sejak dini. “Pendidikan seks tak hanya seputar reproduksi, tetapi bagaimana melindunginya dari orang asing,” jelas dosen yang sedang menempuh studi S3 jurusan BK di Universitas Negeri Malang itu.

Perempuan asal Semarang itu juga aktif berdiskusi kasus di dalam komunitas korban-korban kekerasan seksual. Tetapi dia lebih banyak mengurusi pada masalah KDRT dan kekeraaan pacaran. Kalau di  Bojonegoro, dia juga pernah ikut pendampingan kasus KDRT. Meski demikian, Yunita menyoroti pendidikan seks memang lebih ideal diberikannya sesuai dengan usianya. “Hal yang paling saya tekankan ialah pendidikan seks perlu dilihat dari perkembangan siswanya masuk kategori anak atau remaja, karena ketika memberikan pendidikan seks tersebut akan berbeda antara anak dan remaja,” katanya. Orang tua dan sekolah harus berkolaborasi untuk menekan angka pelecehan seksual tersebut.

Salah satu PAUD di Desa Sukorejo, Bojonegoro, sudah mencoba mengajarkan pendidikan seks bagi peserta didiknya. Menurut kepala sekolah Ridho Nur Isnani, pendidikan seks sangat penting untuk tumbuh kembang anak. Contoh paling simpel ialah mengenalkan alat kelamin serta fungsinya. “Penyebutannya alat kelamin laki-laki itu penis, bukan titit atau burung. Begitu pun alat kelamin perempuan itu vagina, tidak ada nama lainnya,” tuturnya.

Baca Juga :  Kemendag Terapkan Kebijakan DMO dan DPO di Komoditas Minyak Goreng

Di sekolah tersebut menerapkan pendidikan seks dengan cara memisah murid laki-laki dan perempuan. Metode pengajarannya pun lewat video, bercerita, dan terkadang bermain peran dengan guru (roleplay). Selain itu, dia pasti juga menginformasikan dan mengedukasi orang tuanya agar terus membimbing anaknya. Para orang tua juga sering dipaparkan isu-isu terkini seputar anak agar lebih peka lagi dengan perkembangan anaknya. “Karena mau saya ngomong hingga berbusa bahwa pendidikan seks itu penting, tapi kalau orang tuanya abai ya nggak mungkin bisa optimal yang saya ajarkan di sekolah,” jelasnya.

Adapun dia merasa pendidikan seks lebih aman kalau diarahkan ke sisi religius. Jadi, lebih kepada menanamkan akhlak kepada anak-anak tersebut. “Kami selalu beritahu kepada anak-anak, bahwa Allah menciptakan anggota tubuh pasti ada kegunaannya, jadi itulah anugerah, jangan sampai ada orang lain boleh menyentuhnya secara sembarangan, kecuali ibu atau dokter apabila diperlukan,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Komisi C DPRD Bojonegoro Sally Atyasasmi mengatakan, bahwa pendidikan kesehatan seksual reproduksi (KSR) seharusnya menjadi agenda penting dalam sosialisasi tersendiri dalam suatu kurikulum baru di sekolah, bahkan juga dalam ruang privat seperti keluarga. Dia pun menyarankan agar pendidikan KSR usia dini merupakan cara pencegahan yang dapat dicoba dalam kurikulum pendidikan dan juga mulai dari orang tua. “Pendidikan KSR itu berjenjang sesuai dengan usia anak,  dari usia dini anak seharusnya telah tahu-menahu dengan alat kelaminnya sendiri,” ujarnya.

Baca Juga :  Harga Kedelai Tembus Rp 11 Ribu, 5 Produsen Tahu Berhenti Produksi

Tetapi ternyata, masih banyak anak yang belum tahu dengan alat kelaminnya sendiri baik secara fungsi maupun pentingnya menjaga kebersihan. Salah satu tugas orang tua adalah memastikan anak dapat mengetahui dan memberikan edukasi dini terhadap alat kelaminnya, kemudian pastikan anak harus segera melapor kepada orang tua atau orang dewasa yang dapat dipercaya anak, jika mereka mendapat gangguan atau pelecehan dari segi fisik maupun verbal mengenai orang lain yang mengajak mereka berinteraksi. “Hal ini akan berdampak pada kepekaan anak bahkan sikap defensif dari anak sendiri terhadap perlindungan dirinya sendiri,” terangnya.

Setelah memasuki masa remaja dan pubertas, anak seharusnya diajarkan bagaimana merawat diri dan diberitahu tanda-tanda kedewasaan pada usia tersebut. Terakhir, anak diajarkan untuk bersikap dengan lawan jenis, sehingga akan mengurangi tindak pelecehan seksual kepada anak. “Semuanya tetap dikembalikan kepada lingkungan keluarga yang terus mengawasi dan membimbing anaknya memahami tentang seksualitas,” pungkasnya.

COVER STORY – Menurut dosen bimbingan konseling (BK) Unugiri Bojonegoro Yunita Dwi Setyoningsih, tentu sangat mendukung adanya pendidikan seksual untuk anak dari lingkup keluarga maupun sekolah. Karena melihat situasi dan kondisi zaman sekarang sangat riskan sekali anak-anak menjadi korban pelecehan seksual. Sebab, rata-rata pelaku pelecehan seksual merupakan orang-orang terdekat. Jadi, sudah seharusnya guru biologi, agama, dan BK menyelipkan pendidikan seks sejak dini. “Pendidikan seks tak hanya seputar reproduksi, tetapi bagaimana melindunginya dari orang asing,” jelas dosen yang sedang menempuh studi S3 jurusan BK di Universitas Negeri Malang itu.

Perempuan asal Semarang itu juga aktif berdiskusi kasus di dalam komunitas korban-korban kekerasan seksual. Tetapi dia lebih banyak mengurusi pada masalah KDRT dan kekeraaan pacaran. Kalau di  Bojonegoro, dia juga pernah ikut pendampingan kasus KDRT. Meski demikian, Yunita menyoroti pendidikan seks memang lebih ideal diberikannya sesuai dengan usianya. “Hal yang paling saya tekankan ialah pendidikan seks perlu dilihat dari perkembangan siswanya masuk kategori anak atau remaja, karena ketika memberikan pendidikan seks tersebut akan berbeda antara anak dan remaja,” katanya. Orang tua dan sekolah harus berkolaborasi untuk menekan angka pelecehan seksual tersebut.

Salah satu PAUD di Desa Sukorejo, Bojonegoro, sudah mencoba mengajarkan pendidikan seks bagi peserta didiknya. Menurut kepala sekolah Ridho Nur Isnani, pendidikan seks sangat penting untuk tumbuh kembang anak. Contoh paling simpel ialah mengenalkan alat kelamin serta fungsinya. “Penyebutannya alat kelamin laki-laki itu penis, bukan titit atau burung. Begitu pun alat kelamin perempuan itu vagina, tidak ada nama lainnya,” tuturnya.

Baca Juga :  Penerapan Belajar Tatap Muka Perlu Kajian Per Wilayah

Di sekolah tersebut menerapkan pendidikan seks dengan cara memisah murid laki-laki dan perempuan. Metode pengajarannya pun lewat video, bercerita, dan terkadang bermain peran dengan guru (roleplay). Selain itu, dia pasti juga menginformasikan dan mengedukasi orang tuanya agar terus membimbing anaknya. Para orang tua juga sering dipaparkan isu-isu terkini seputar anak agar lebih peka lagi dengan perkembangan anaknya. “Karena mau saya ngomong hingga berbusa bahwa pendidikan seks itu penting, tapi kalau orang tuanya abai ya nggak mungkin bisa optimal yang saya ajarkan di sekolah,” jelasnya.

Adapun dia merasa pendidikan seks lebih aman kalau diarahkan ke sisi religius. Jadi, lebih kepada menanamkan akhlak kepada anak-anak tersebut. “Kami selalu beritahu kepada anak-anak, bahwa Allah menciptakan anggota tubuh pasti ada kegunaannya, jadi itulah anugerah, jangan sampai ada orang lain boleh menyentuhnya secara sembarangan, kecuali ibu atau dokter apabila diperlukan,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Komisi C DPRD Bojonegoro Sally Atyasasmi mengatakan, bahwa pendidikan kesehatan seksual reproduksi (KSR) seharusnya menjadi agenda penting dalam sosialisasi tersendiri dalam suatu kurikulum baru di sekolah, bahkan juga dalam ruang privat seperti keluarga. Dia pun menyarankan agar pendidikan KSR usia dini merupakan cara pencegahan yang dapat dicoba dalam kurikulum pendidikan dan juga mulai dari orang tua. “Pendidikan KSR itu berjenjang sesuai dengan usia anak,  dari usia dini anak seharusnya telah tahu-menahu dengan alat kelaminnya sendiri,” ujarnya.

Baca Juga :  Sudah Bayar, Kartu Belum Selesai

Tetapi ternyata, masih banyak anak yang belum tahu dengan alat kelaminnya sendiri baik secara fungsi maupun pentingnya menjaga kebersihan. Salah satu tugas orang tua adalah memastikan anak dapat mengetahui dan memberikan edukasi dini terhadap alat kelaminnya, kemudian pastikan anak harus segera melapor kepada orang tua atau orang dewasa yang dapat dipercaya anak, jika mereka mendapat gangguan atau pelecehan dari segi fisik maupun verbal mengenai orang lain yang mengajak mereka berinteraksi. “Hal ini akan berdampak pada kepekaan anak bahkan sikap defensif dari anak sendiri terhadap perlindungan dirinya sendiri,” terangnya.

Setelah memasuki masa remaja dan pubertas, anak seharusnya diajarkan bagaimana merawat diri dan diberitahu tanda-tanda kedewasaan pada usia tersebut. Terakhir, anak diajarkan untuk bersikap dengan lawan jenis, sehingga akan mengurangi tindak pelecehan seksual kepada anak. “Semuanya tetap dikembalikan kepada lingkungan keluarga yang terus mengawasi dan membimbing anaknya memahami tentang seksualitas,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/