alexametrics
30.6 C
Bojonegoro
Friday, May 20, 2022

Texas Wonocolo

JELAJAH SEJARAH – Keberadaan fosil purba di Bojonegoro semakin menguatkan kandungan minyak buminya. Di beberapa titik di wilayah yang dulunya bernama Rajekwesi ini telah keluar minyak. Bahkan, kini menyumbang kebutuhan minyak secara nasional. Lantas bagaimana sejarahnya? Tak kicauan burung di hutan. Aroma pepohon pun kalah kuat dengan bau khas minyak saat memasuki kawasan hutan di Dusun Dandangilo, Desa Hargomulyo, Kecamatan Kedewan. Hari menjelang sore tapi hutan masih begitu cerah.

Untung tidak hujan. Jadi jalanan yang berlubang tak ada airnya. Sebenarnya, enak menggunakan motor trail untuk melalui jalur di kawasan hutan itu. Selain jalan menanjak, lubang jalan tak cukup nyaman untuk dilalui motor biasa. 

Aroma minyak semakin kuat. Jalan menanjak pun mulai hilang. Tapi tetap berlubang. Dari ketinggian, mata tidak lagi melihat hamparan hutan. Melainkan, terlihat banyak tiang pancang dari kayu dengan begitu segitiga. Tiang-tiang itu berdampingan dengan pepohonan yang daunnya mulai tak segar lagi. Dari jauh itu pula, terlihat tulisan ‘Teksas Wonocolo’. 

Perjalanan dilanjutkan, mesin motor dinyalakan lagi. Pepohonan hutan semakin tak rimbun. Tiang kayu yang terlihat dari jauh tadi akhirnya bisa dilihat dari dekat. Semakin dekat, aroma minyak pun semakin pekat. “Kalau mau cerita tentang sejarah minyak bisa ke Woncolo mas,” kata pekerja di dekat sumur produksi di Dusun Dandangilo, Desa Hargomulyo itu. 

Perjalanan berlanjut ke Desa Wonocolo untuk mencari seseorang yang umurnya 88 tahun. Banyak orang menyebut, dialah orang yang cukup tahu tentang cerita bagaimana minyak bisa melimpah di desa ini. Bahkan, hingga kini minyak terus saja diproduksi untuk menghidupi masyarakat. 

Anjing berkulit cokelat menjulurkan lidahnya di jalan dekat rumah Kepala Desa Wonocolo. Ia berjalan mendekat rumah lantas duduk. Tatapan matanya tetap tajam. Hewan anjing di Wonocolo tidak banyak, tapi masih bisa terlihat di dekat rumah penduduk. Sore itu, kades tidak ada di rumah. Jadi, perjalanan dilanjutkan ke rumah seorang kakek 88 tahun tersebut. 

Baca Juga :  Bupati Nyanyi Bareng Warga

“Namanya Mbah Nur,” kata seorang tua yang sedang menjemur pakaian sore itu. Desa Wonocolo memang berdekatan dengan Desa Hargomulyo. Tak jauh di perkampungan warga juga ada sumur minyak yang diproduksi. Namun, di Wonocolo sudah mulai tertata.

Sebab, di desa ini telah dicanangkan sebagai desa wisata migas. Pertokoan pun mudah dijumpai. Termasuk rumah penduduk kian bervariasi. Untuk sampai di rumah Mbah Nur harus melintasi jalan menanjak. Meski tidak sampai 45 derajat sudut kemiringannya. Tetap harus berhati-hati. 

Mbah Nur duduk di pinggiran pagar rumahnya. Dia sedang mengecat pagar rumah. Dia lantas mempersilakan Jawa Pos Radar Bojonegoro untuk masuk ke rumahnya. Ruang tamu rumah Mbah Nur luas. Kursi tamunya terbuat dari kayu. 

“Saya ini kalau di desa dipanggil Mbah Sabari. Soalnya itu nama anak saya. Tapi, nama saya Harjo Nur Hadi,” katanya membuka cerita. Mbah Nur duduk di kursi di depannya meja. Dia mengenakan kopiah hitam yang sudah usang. “Saya mendapat cerita tentang sejarah minyak di sini ya dari bapak saya. Nah, bapak saya dapat cerita dari mbah saya. Dan terus turun temurun,” terangnya. 

Daya ingatnya cukup kuat. Dia bercerita tentang awal mula adanya minyak di Wonocolo. Tak banyak penduduknya. Di desa itu ada tiga orang yang bernama Sampan, Sablah, dan Soplo. Tiga orang desa ini sering mencari ubi di area hutan. Mereka bertiga pun bertemu dengan dua orang kawannya dari perkampungan Dandangilo. 

Berlima mencari ubi untuk dibawa pulang dan dimakan bersama keluarga. Namun, saat sore usai mencari ubi. Mereka tak langsung pulang. Mereka memilih untuk mengolah ubi di tengah hutan. Hutan yang sangat lebat kala itu. Kelimanya pun menikmati ubi yang telah dimasak. Mereka lupa tak bawa air. Usai makan ubi perlu air. Jadi, salah satu dari kelima orang itu mencari air di aliran sungai. 

Baca Juga :  Deadline Proyek Nasional Tinggal Hitungan HariĀ 

Sungai yang dicari pun ketemu. Namun, tak ada air. Hanya, ditemukan air hitam. Airnya tidak terlalu bening. Karena hanya ada itu. Diambillah air hitam tersebut. Di bawa mendekat ke empat kawannya yang telah menunggu. Lantas, dicoba untuk dijilat. Rasanya getar.

Teman-temannya pun enggan untuk meminum. Mereka terpaksa tidak minum. Air hitam yang dibawa dengan daun jati itu tertumpah. Api yang digunakan memasak ubi pun menjalar ke air hitam. Kelima orang terbelalak. Kaget. 

“Akhirnya semuanya membawa pulang air hitam itu,” tutur pria yang rambutnya telah memutih itu. Saat di bawa pulang. Air hitam itu pun di letakkan di rumah. Digunakan untuk menyalakan obor. Sampan, lima dari orang yang menemukan air hitam itu melihat air yang ditemukan tak lagi cair. Justru bentuknya mengental.

Dia melihat seperti kotoran ayam yang orang masyarakat desa sering disebut lentung. Dari situlah, masyarakat desa memberikan sebutan bahwa air itu seperti lantung. Tentang kebenaran cerita ini memang perlu dilakukan verifikasi. Namun, sebagai sejarah yang berawal dari cerita tutur tetap perlu dicatat karena itu adalah cerita turun temurun. 

Menurut Mbah Nur, setelah menemukan air hitam yang lebih populer disebut lantung itu akhirnya masyarakat tak lagi mencari ubi-ubian. Melainkan, mereka mencari lantung itu untuk dijual. Belanda pun tahu dan akhirnya mulai melakukan ekspansi di lokasi Wonocolo dan sekitarnya. “Itu cerita dari bapak dan mbah-mbah saya,” terangnya.

JELAJAH SEJARAH – Keberadaan fosil purba di Bojonegoro semakin menguatkan kandungan minyak buminya. Di beberapa titik di wilayah yang dulunya bernama Rajekwesi ini telah keluar minyak. Bahkan, kini menyumbang kebutuhan minyak secara nasional. Lantas bagaimana sejarahnya? Tak kicauan burung di hutan. Aroma pepohon pun kalah kuat dengan bau khas minyak saat memasuki kawasan hutan di Dusun Dandangilo, Desa Hargomulyo, Kecamatan Kedewan. Hari menjelang sore tapi hutan masih begitu cerah.

Untung tidak hujan. Jadi jalanan yang berlubang tak ada airnya. Sebenarnya, enak menggunakan motor trail untuk melalui jalur di kawasan hutan itu. Selain jalan menanjak, lubang jalan tak cukup nyaman untuk dilalui motor biasa. 

Aroma minyak semakin kuat. Jalan menanjak pun mulai hilang. Tapi tetap berlubang. Dari ketinggian, mata tidak lagi melihat hamparan hutan. Melainkan, terlihat banyak tiang pancang dari kayu dengan begitu segitiga. Tiang-tiang itu berdampingan dengan pepohonan yang daunnya mulai tak segar lagi. Dari jauh itu pula, terlihat tulisan ‘Teksas Wonocolo’. 

Perjalanan dilanjutkan, mesin motor dinyalakan lagi. Pepohonan hutan semakin tak rimbun. Tiang kayu yang terlihat dari jauh tadi akhirnya bisa dilihat dari dekat. Semakin dekat, aroma minyak pun semakin pekat. “Kalau mau cerita tentang sejarah minyak bisa ke Woncolo mas,” kata pekerja di dekat sumur produksi di Dusun Dandangilo, Desa Hargomulyo itu. 

Perjalanan berlanjut ke Desa Wonocolo untuk mencari seseorang yang umurnya 88 tahun. Banyak orang menyebut, dialah orang yang cukup tahu tentang cerita bagaimana minyak bisa melimpah di desa ini. Bahkan, hingga kini minyak terus saja diproduksi untuk menghidupi masyarakat. 

Anjing berkulit cokelat menjulurkan lidahnya di jalan dekat rumah Kepala Desa Wonocolo. Ia berjalan mendekat rumah lantas duduk. Tatapan matanya tetap tajam. Hewan anjing di Wonocolo tidak banyak, tapi masih bisa terlihat di dekat rumah penduduk. Sore itu, kades tidak ada di rumah. Jadi, perjalanan dilanjutkan ke rumah seorang kakek 88 tahun tersebut. 

Baca Juga :  Lebaran Waspada Bencana

“Namanya Mbah Nur,” kata seorang tua yang sedang menjemur pakaian sore itu. Desa Wonocolo memang berdekatan dengan Desa Hargomulyo. Tak jauh di perkampungan warga juga ada sumur minyak yang diproduksi. Namun, di Wonocolo sudah mulai tertata.

Sebab, di desa ini telah dicanangkan sebagai desa wisata migas. Pertokoan pun mudah dijumpai. Termasuk rumah penduduk kian bervariasi. Untuk sampai di rumah Mbah Nur harus melintasi jalan menanjak. Meski tidak sampai 45 derajat sudut kemiringannya. Tetap harus berhati-hati. 

Mbah Nur duduk di pinggiran pagar rumahnya. Dia sedang mengecat pagar rumah. Dia lantas mempersilakan Jawa Pos Radar Bojonegoro untuk masuk ke rumahnya. Ruang tamu rumah Mbah Nur luas. Kursi tamunya terbuat dari kayu. 

“Saya ini kalau di desa dipanggil Mbah Sabari. Soalnya itu nama anak saya. Tapi, nama saya Harjo Nur Hadi,” katanya membuka cerita. Mbah Nur duduk di kursi di depannya meja. Dia mengenakan kopiah hitam yang sudah usang. “Saya mendapat cerita tentang sejarah minyak di sini ya dari bapak saya. Nah, bapak saya dapat cerita dari mbah saya. Dan terus turun temurun,” terangnya. 

Daya ingatnya cukup kuat. Dia bercerita tentang awal mula adanya minyak di Wonocolo. Tak banyak penduduknya. Di desa itu ada tiga orang yang bernama Sampan, Sablah, dan Soplo. Tiga orang desa ini sering mencari ubi di area hutan. Mereka bertiga pun bertemu dengan dua orang kawannya dari perkampungan Dandangilo. 

Berlima mencari ubi untuk dibawa pulang dan dimakan bersama keluarga. Namun, saat sore usai mencari ubi. Mereka tak langsung pulang. Mereka memilih untuk mengolah ubi di tengah hutan. Hutan yang sangat lebat kala itu. Kelimanya pun menikmati ubi yang telah dimasak. Mereka lupa tak bawa air. Usai makan ubi perlu air. Jadi, salah satu dari kelima orang itu mencari air di aliran sungai. 

Baca Juga :  Minim Pengawasan, Celah Penyalahgunaan BKD

Sungai yang dicari pun ketemu. Namun, tak ada air. Hanya, ditemukan air hitam. Airnya tidak terlalu bening. Karena hanya ada itu. Diambillah air hitam tersebut. Di bawa mendekat ke empat kawannya yang telah menunggu. Lantas, dicoba untuk dijilat. Rasanya getar.

Teman-temannya pun enggan untuk meminum. Mereka terpaksa tidak minum. Air hitam yang dibawa dengan daun jati itu tertumpah. Api yang digunakan memasak ubi pun menjalar ke air hitam. Kelima orang terbelalak. Kaget. 

“Akhirnya semuanya membawa pulang air hitam itu,” tutur pria yang rambutnya telah memutih itu. Saat di bawa pulang. Air hitam itu pun di letakkan di rumah. Digunakan untuk menyalakan obor. Sampan, lima dari orang yang menemukan air hitam itu melihat air yang ditemukan tak lagi cair. Justru bentuknya mengental.

Dia melihat seperti kotoran ayam yang orang masyarakat desa sering disebut lentung. Dari situlah, masyarakat desa memberikan sebutan bahwa air itu seperti lantung. Tentang kebenaran cerita ini memang perlu dilakukan verifikasi. Namun, sebagai sejarah yang berawal dari cerita tutur tetap perlu dicatat karena itu adalah cerita turun temurun. 

Menurut Mbah Nur, setelah menemukan air hitam yang lebih populer disebut lantung itu akhirnya masyarakat tak lagi mencari ubi-ubian. Melainkan, mereka mencari lantung itu untuk dijual. Belanda pun tahu dan akhirnya mulai melakukan ekspansi di lokasi Wonocolo dan sekitarnya. “Itu cerita dari bapak dan mbah-mbah saya,” terangnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/