alexametrics
27.3 C
Bojonegoro
Saturday, May 28, 2022

Mengembangkan Motif Batik untuk Menambah Koleksi Khas Blora

Batik tulis karya Niwang Pramesti masih menggunakan alat tradisional, butuh kesabaran dan ketelitian dalam prosesnya. Dedikasinya ditularkan kepada siswa.  

HUTAN Randublatung masih rindang, suasana sejuk membersamai perjalanan menuju rumah Niwang Pramesti, jarak tempuh sekitar satu jam dari pusat Kota Blora. 

Setiba di rumahnya, tumpukan kerajianan kesenian seperti wayang kulit, kain batik, dan kayu jati kokoh yang menjadi kebanggaan warga Blora menyambut kedatangan Radar Blora-Cepu.

Perempuan tinggal di Desa Pilang, Kecamatan Randublatung masih menggunakan alat tradisional dalam melakukan proses batik tulisnya. Mulai dari pembentukan pola, pencantingan, hingga pewarnaan. Masih menggunakan tangan dinginnya. “Semunya masih manual, tidak ada yang menggunakan mesin modern,” tutur mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Muhammadiayah Blora tersebut. 

Niwang menuturkan, proses manual mulai menggambar pola dan pencantingan di kain yang belum diberikan warna. Dimulai mencelupkan canting kedalam kompor kecil yang telah terdapat warna, kemudian tangan kecilnya mulai mengayunkan canting secara perlahan mengikuti pola yang sudah  dibentuk.

Baca Juga :  Sebelumnya Dikirim ke Filipina, Kini Bersiap ke Jepang

Perempuan kelahiran 2001 tersebut mengakui dalam batik tulis proses yang paling sulit adalah pencantingan dan pewarnaan.  Membatik butuh keabaran dan ketelitian, selain itu jiwa cinta dengan kesenian juga bisa menjadi improvisasi hasil membatik. 

“Hal yang paling menentukan halus dan tidaknya sebuah pola batik adalah saat proses pencantingan, kalau tidak teliti hasilnya kurang bagus,” ungkapnya.

Proses manual menjadi tantangan, selain itu kesenian yang lahir dari tangan langsung lebih mempunyai makna. Dibandingkan dengan menggunakan mesin. “Membatik itu salah satu proses berkesenian,” ujar perempuan yang pernah menjadi duta wisata Blora Mustika tersebut.

Niwang terjuan di dunia batik tulis sejak duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA). Sekitar tahun 2018 silam, hingga akhirnya memantapkan diri untuk melakukan proses kreatif tersebut bersama dengan ibunya. 

Baca Juga :  Ini Aktivitas Hari Terakhir Kang Yoto sebagai Bupati

“Pas itu ibu juga mendapat pelatihan yang diadakan pemerintah kabupaten,” ungkap perempuan yang juga aktif dalam kesenian tari tersebut.

Walaupun masih menjadi mahasiswa semester lima, Niwang sudah diamanahi untuk mengajar di salah satu sekolah, dengan bidang yang diampunya yakni kesenian. Dari situlah memanfaatkan momen untuk menularkan geliat membatik kepada siswanya. “Saya ingin anak-anak yang sekolah mempunyai minat membatik, setidaknya mereka mengenalnya,” tuturnya.

Kerajinan batik harus ditularkan kepada generasi muda, khawatir jika suatu saat batik tidak diminati karena tidak terjun langsung dalam proses membatik. Sebab baginya mencintai kesenian dan kebudayaan yang paling baik dengan langsung praktik.  

Niwang saat ini sedang berusaha mengembangkan batik untuk menambah koleksi ciri khas Blora. Sudah bisa membuat beberapa pola, seperti daun jati, bambu, wayang, merak, dan beberapa di antaranya mengandung filosofi dari daerahnya yakni Randublatung.

Batik tulis karya Niwang Pramesti masih menggunakan alat tradisional, butuh kesabaran dan ketelitian dalam prosesnya. Dedikasinya ditularkan kepada siswa.  

HUTAN Randublatung masih rindang, suasana sejuk membersamai perjalanan menuju rumah Niwang Pramesti, jarak tempuh sekitar satu jam dari pusat Kota Blora. 

Setiba di rumahnya, tumpukan kerajianan kesenian seperti wayang kulit, kain batik, dan kayu jati kokoh yang menjadi kebanggaan warga Blora menyambut kedatangan Radar Blora-Cepu.

Perempuan tinggal di Desa Pilang, Kecamatan Randublatung masih menggunakan alat tradisional dalam melakukan proses batik tulisnya. Mulai dari pembentukan pola, pencantingan, hingga pewarnaan. Masih menggunakan tangan dinginnya. “Semunya masih manual, tidak ada yang menggunakan mesin modern,” tutur mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Muhammadiayah Blora tersebut. 

Niwang menuturkan, proses manual mulai menggambar pola dan pencantingan di kain yang belum diberikan warna. Dimulai mencelupkan canting kedalam kompor kecil yang telah terdapat warna, kemudian tangan kecilnya mulai mengayunkan canting secara perlahan mengikuti pola yang sudah  dibentuk.

Baca Juga :  Karyawan yang Positif tanpa Gejala, Bank Jatim Kembali Beroperasi

Perempuan kelahiran 2001 tersebut mengakui dalam batik tulis proses yang paling sulit adalah pencantingan dan pewarnaan.  Membatik butuh keabaran dan ketelitian, selain itu jiwa cinta dengan kesenian juga bisa menjadi improvisasi hasil membatik. 

“Hal yang paling menentukan halus dan tidaknya sebuah pola batik adalah saat proses pencantingan, kalau tidak teliti hasilnya kurang bagus,” ungkapnya.

Proses manual menjadi tantangan, selain itu kesenian yang lahir dari tangan langsung lebih mempunyai makna. Dibandingkan dengan menggunakan mesin. “Membatik itu salah satu proses berkesenian,” ujar perempuan yang pernah menjadi duta wisata Blora Mustika tersebut.

Niwang terjuan di dunia batik tulis sejak duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA). Sekitar tahun 2018 silam, hingga akhirnya memantapkan diri untuk melakukan proses kreatif tersebut bersama dengan ibunya. 

Baca Juga :  Minta Pertamina Gandeng Badan Usaha Milik Daerah

“Pas itu ibu juga mendapat pelatihan yang diadakan pemerintah kabupaten,” ungkap perempuan yang juga aktif dalam kesenian tari tersebut.

Walaupun masih menjadi mahasiswa semester lima, Niwang sudah diamanahi untuk mengajar di salah satu sekolah, dengan bidang yang diampunya yakni kesenian. Dari situlah memanfaatkan momen untuk menularkan geliat membatik kepada siswanya. “Saya ingin anak-anak yang sekolah mempunyai minat membatik, setidaknya mereka mengenalnya,” tuturnya.

Kerajinan batik harus ditularkan kepada generasi muda, khawatir jika suatu saat batik tidak diminati karena tidak terjun langsung dalam proses membatik. Sebab baginya mencintai kesenian dan kebudayaan yang paling baik dengan langsung praktik.  

Niwang saat ini sedang berusaha mengembangkan batik untuk menambah koleksi ciri khas Blora. Sudah bisa membuat beberapa pola, seperti daun jati, bambu, wayang, merak, dan beberapa di antaranya mengandung filosofi dari daerahnya yakni Randublatung.

Artikel Terkait

Most Read

Periksa Muhadjir Kali Ketiga

Persatu Bidik Pemain Liga 1

Artikel Terbaru


/